Selasa, 30 Juni 2015

Jus Semangka Jelly ala Ririn



Cara yang paling sederhana dan efisien untuk dapatkan vitamin dari buah adalah dengan memakannya langsung, cukup dipotong-potong sederhana. Tapi divariasikan dengan cara dibuat jus juga boleh dicoba, agar tambah selera atau buat anak-anak lebih semangat makan buah. Kali ini, variasi dari jus buah semangka.

Bahan-bahan:


- Semangka
(1,5 kg itu jika termasuk kulitnya. Kupas, namun biarkan bagian daging semangka yang putih tetap ada karena itu bagus buat ginjal - kata emak paska baca majalah Trubus - serius)

-Jeruk kesturi 3 buah
(Peras, ambil sarinya. Asal muasal pilih buah ini, karena menambah aroma segar, selain alasan utama karena buah ini terlihat pas saya angkat jemuran :D )

-Nutri jell rasa jeruk kemasan 10 gram
(Ini lebihan waktu buat kreasi puding^^)

- Gula, secukupnya.

-Air dingin/air es.
(Ini saran si emak atas tips dari buku di perpus kantor, di buku itu bilang untuk menjaga vitamin buah saat diblender, gunakanlah air dingin/air es).

Cara membuat:

1. Kupas semangka, biarkan daging yang bewarna putih tetap ada. Buang biji semangka. Masukkan ke blender, tuang air dingin kira-kira 1,5 gelas, tuang perasan jeruk kesturi, dan gula sesuai selera, blender.
Atau bisa juga biji semangka dibuang belakangan, blender, saring, tapi sayangnya seratnya jadi lebih sedikit.



2.Masak jelly. Tuangkan bubuk jelly, air dua gelas, gula 100gr atau sesuai selera, aduk, didihkan, lalu matikan api, tuangkan fruity acid (yang ada di kemasan nutrijell), aduk rata, dinginkan. Setelah beku, serut kasar / potong halus /blender kasar si jelly.



3. Tuangan jelly kira-kira 1/3 gelas, lalu tuangkan semangka yang diblender tadi. Sajikan atau dinginkan di kulkas.

*Saat berbuka puasa, hindari minum minuman yang dingin saat pertama kali berbuka, karena akan tidak baik bagi lambung. Jadi, bisa langsung diminum saat berbuka jika jus nya tidak terlalu dingin atau beberapa saat setelah berbuka.

Porsi 6 - 7 gelas.

Selamat mencoba! ^^

#NulisRandom2015





Sabtu, 27 Juni 2015

Isyarat Sepasang Mata




Isyarat Sepasang Mata
Karya Ririn Anindya Putri

Siang bukan hanya menerik tanpa ragu namun juga angin tak mau bertamu. Sebab berkeringat, baju kami membasah sedang kerongkongan sebaliknya, kering. Syukurnya, hanya selang beberapa menit duduk mengitar meja kantin, teh manis dingin pesanan kami berempat sudah terhidang dan tak memerlukan kata pengantar untuk segera diseruput.

 “Di urutan pertama, hewan apa yang kalian suka dan kenapa?” Wulan mendelikkan mata bulatnya ke arah kami.

“Kucing. Melangkah dengan anggun, pemalu, tapi juga cekatan.” Sarah menurunkan pipet dari apit bibir merah mudanya.

“Angsa lebih anggun, berkelas. Tahu tarian swan di balet, kan?” Moli menyela.

“Anggun? Tidak banyak kenangan yang kuingat sebelum aku duduk di bangku TK tapi yang paling membekas adalah dikejar angsa. Aku berlari sekuat tenaga sambil menangis. Sampai sekarang aku selalu saja was-was jika bertemu angsa.” Aku berkata serius tapi teman-temanku malah tertawa.

“Jadi Lian, hewan apa yang yang kamu suka?” Wulan kembali mendelikkan mata cerlangnya.

“Orangutan, pernah sekali melihatnya di kebun binatang, kesan yang kudapat begitu tabah dan penyayang, apalagi setelah ada penyuluhan tentang satwa langka di sekolah tempo hari.”

Terkenang kali pertama melihat orangutan, saat itu aku masih berumur tujuh tahun. Ramai anak-anak yang mencibir dari luar jeruji, terkadang mereka melempari dengan kacang, pisang, bahkan batu kecil padahal itu terlarang. Ada pula yang mempermainkan dengan memberikan bungkus makanan yang kosong. Seekor anak orangutan yang menatap dalam ke arahku, seolah berisyarat, namun tak mampu aku membacanya. Tiba-tiba kami seperti bertukar posisi, kini aku dibalik jeruji, memandang ibuku yang dipermainkan, tangisku menderai. Setiba di rumah aku kembali menangis, sampai-sampai uwakku khawatir dan menduga diganggu mahluk halus, ia meyarankan ibu membawaku ke ‘orang pintar’.

“Lian...,” Suara lembut Wulan menarikku dari lamunan. “Aku juga suka. Waktu keluarga kami tinggal di Kalimantan karena ayahku bertugas di sana, aku pernah melihat orangutan masuk ke pemukiman warga. Ia dikejar-kejar, diusir dengan api, dan akhirnya dibunuh. Masih banyak yang menganggapnya pengganggu, hama. Hari itu, aku terus menangis. Terlihat mengerikan.”

Kami terdiam antara sebab cerita pilu dari orangutan atau menyadari gelas kami yang telah kosong sedang dahaga belum juga dijinakkan.

“Jadi, kata kuis di sini, hewan yang pertama kali kita pilih menggambarkan bagaimana kita ingin dilihat orang lain.” Wulan menunjuk ponselnya.

Benarkah aku ingin terlihat tabah dan penyayang? Aku tidak memeriksa kebenaran kuis namun setelahnya, aku dan Wulan sering memperbincangkan orangutan. Kami merencanakan perjalanan selepas ujian nasional, menjelajah hutan dan sekaligus melihat orangutan di habitat aslinya, Taman Nasional Gunung Leuser. Tidak sampai di situ, kelak kami juga akan pergi ke tempat yang lebih jauh lagi, Borneo.
****

Aku kembali memeriksa daftar barang-barang yang harus dibawa seperti yang diperintahkan instruktur.

“Mantel, perlengkapan sholat, alat tulis, gula, ...” Agaknya aku mulai jenuh memeriksa daftar, ini sudah kali ketiga. Kupikir cukup.

Besok, sebelum tengah hari aku akan pergi mengikuti pelatihan dasar organisasi kerelawanan. Bukit Lawang menjadi tujuan kami. Dengan bus, perjalanan ke sana hanya memerlukan dua jam dari kotaku, Medan. Tapi ini kali pertama aku akan ke sana, tempat ini juga merupakan daerah konservasi orangutan. Betapa sepanjang malam menjadi sulit tertidur karena terlalu bersemangat, degup jantungku jadi tak beraturan, ingin rasanya sepanjang malam bernyanyi. Inikah rasanya bertemu yang telah lama dirindu, lalu menjenguk di kampungnya sendiri? Orangutan, aku datang. Namun tidak kupingkiri, dalam rongga yang terasa penuh, ada ruang lain yang mendadak kosong. Perjalanan seperti ini pernah kurencanakan bersama Wulan tapi justru aku pergi tidak bersamanya. Aku masih ingat pesan darinya, sepekan lalu saat berkunjung ke rumahnya.

“Banyak-banyak melihat di sana, lihatkan untukku dengan kedua matamu.”  Tangan Wulan meraba-raba wajahku, dan akhirnya kedua telapak tangannya berhenti pada pipi-pipiku.

Aku menghela nafas. Lalu memegang kedua pipinya yang tirus, “Semoga.”

Yang kutahu, tidak ada agenda melihat orangutan. Di sana kami akan menginap di sebuah pondok, diberikan beberapa materi, tracking, dan melakukan bakti sosial. Aku hanya sangat berharap dapat melihatnya.
****

Setiba di Bukit Lawang, rinai hujan turun menyambut. Awalnya hanya gerimis namun semakin lama ia turun semakin rapat. Meski hujan, kami tidak dibiarkan berteduh. Para peserta langsung mengenakan mantel dan kembali berbaris untuk mendengarkan pengarahan. Aku meringis. Sebelumnya kupikir mantel dipersiapkan untuk tracking dihari terakhir sehingga mantel kuletakkan di bagian paling bawah, ia tertimpa seisi tas carrier-ku yang membukit. Ternyata untuk sampai ke pondok penginapan, kami harus berjalan sekitar dua jam. Instruktur pun menyampaikan bahwa kami akan memilih jalur yang akan melintasi sungai dua kali. Melintasi sungai? Artinya akan basah juga? Dan melihat ada peserta lain yang membiarkan dirinya basah, tak pelak aku pun mengikuti. Aku hanya menyeliuti tasku dengan bag’s cover. Selain orangutan, aku juga rindu bermandikan hujan.  

Batu Gajah, ini nama daerah pondok tempat kami menginap. Ini adalah pondok yang berada di pinggiran sungai Bahorok dan merupakan bangunan terujung sebelum perbatasan Taman Nasional Gunung Leuser dengan tanah warga. Sebuah pondok kayu dua lantai yang didesain menyatu dengan alam. Tiang-tiang penyangga bangunan terbuat dari kayu dengan tetap mempertahankan bentuk liuk pohon, tentu tanpa ranting-ranting dan kulit kayunya sudah dihaluskan. Lantai pertama tak berbataskan dinding, beralaskan batuan krikil, dan ada sebuah dapur di sana, sedang lantai dua terdiri dari beberapa kamar. Peserta laki-laki tidur di lantai bawah, mereka akan mendirikan tenda, sedang perempuan di lantai atas. Penerangannya juga mengandalkan lampu petromaks dan semprong. Bicara tentang semprong, aku menjadi geli karena seringkali jelaganya tertinggal di antara bibir dan hidung. Ketika tiba di kamar, aku terpukau karena tempat tidur dan bantal-bantalnya sangat empuk dan ada beberapa selimut tebal. Rasa kasihan dan syukur berkelindan jadi satu.

Duduk sendirian di beranda kamar, kali ini menjadi cara menikmati malam. Sejenak memejamkan mata, menghirup sejuk udara, mendengarkan arus sungai Bahorok yang menderu. Tujuan utama datang ke tempat ini adalah untuk mengikuti pelatihan. Namun tidak terababaikan, hari ini aku sudah lebih dekat dengan orangutan. Kutatap sekeliling yang sama sekali tidak terang.

Wulan, aku akan banyak-banyak melihat, aku akan bawa banyak cerita untukmu, melebih banyaknya isi tas carrier-ku.
****

Pak Yancha nama pemilik pondok, tingginya rata-rata laki-laki melayu, taksirku umurnya sekitar lima puluhan tahun, kulitnya sawo matang, dan berkumis. Istrinya adalah seorang warga negara Perancis. Ketika sarapan, Pak Yancha mengenalkan Murat, anak Pak Yancha yang berkuliah di Paris dan sekarang tengah melakukan penelitian di kawasan taman nasional ini.

“Arluin, itu nama Perancis-nya, tapi kalau di sini panggil saja Murat.” Pak Yancha menambahkan saat Murat baru saja mengenalkan diri.

Andrea dipanggil Andy, terdengar biasa. Tapi Arluin jadi Murat? Aku heran. Berbeda dengan ayahnya, Murat memiliki perawakan seperti orang bule umumnya, tinggi, putih, dan rambutnya pirang kecoklatan, menurun dari ibunya - pikirku. Namun matanya coklat gelap dan seringkali tersenyum, seperti ayahnya. Dia juga sangat fasih berbahasa Indonesia.  

Satu hari kami lewati tanpa beranjak dari pondok. Mendengarkan dan berdiskusi materi tentang kerelawanan, P3K, survival, dan tentang Taman Nasional Gunung Leuser.

“Taman Nasional Gunung Leuser merupakan kawasan pelestarian alam, di dalamnya menyajikan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. Untuk tumbuhan ada banyak sekali jenisnya, bahkan ada jenis baru yakni Rafflesia Lawangensis. Ini artinya, sebagian besar jenis rafflesia ada di tanah air kita!” Pak Yancha bersemangat menjelaskan.

Rafflesia Lawangensis? Selama ini aku hanya pernah dengar Rafflesia Arnoldi.

“Sedang untuk satwa, diperkirakan ada seratus tujuh puluh empat spesies mamalia. Diantaranya ada satwa endemik dan bahkan sudah langka seperti badak Sumatera, harimau Sumatera, siamang, gajah Sumatera, orangutan Sumatera. Ini adalah warisan dunia yang harus disyukuri. Alam pernah menjawab akibat dari ketidakpedulian atau keserakahan manusia. Ada yang ingat kejadian banjir bandang tahun 2003? Yang tidak bersalah pun kena dampaknya.”

“Malam ini jangan bergadang! Besok jam delapan tepat kita akan memulai tracking, siapkan stamina kalian karena mungkin kita baru sampai ke pondok ini sore atau bahkan malamnya.” Instruktur mengarahkan.

“Cukupkan tidur malam ini, karena besok mata kalian akan digunakan untuk menikmati sebagian kecil eksotisme Taman Nasional Gunung Leuser, seorang peneliti asing menyebutnya sebagai the hidden paradise. Ya, ini hadiah dari Tuhan.” Pak Yancha menimpali.
****

Kami dibagi dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok ada seorang pemandu yang disebut ranger. Ranger kami bernama Pak Tum yang merupakan warga setempat. Pak Tum mengenakan kaos biru berlengan pendek dan celana yang panjangnya beberapa jari di bawah lutut sedang di pinggangnya tersemat tas kecil dan sebilah parang bersarung, sandal jepitnya juga tak luput dari perhatianku, sedang peserta – kami – kebanyakan berjaket dan bersepatu gunung, pakai topi dan ada pula berkaca-mata hitam. Terlihat kontras dengan Pak Tum tapi wajar – wajar saja, dalam benakku.

“Pak Tum, saya berjalan bersama bapak, ya?” Murat menghampiri.

Oh, offcourse, may, may.” Jawab Pak Tum.

Murat menoleh kearahku yang berada tepat di belakang Pak Tum, “Saya Murat, kamu?”

“Liana.”
****

Jalan-jalan yang sedari tadi datar kini mulai menanjak. Bukan hanya mataku yang menikmat hutan hujan tropis ini, tapi begitu pun penciumanku. Kuhirup dalam-dalam aroma embun, daun-daun yang melapuk, kulit pohon. Kubentangkan tanganku, hendak mendekap semesta.

“Di hutan, kalian juga bisa minum dari akar-akar ini, mana tahu kalian kehabisan air, kalian kan harus bertahan hidup. Airnya enggak banyaklah, tapi lumayan basah tenggorokan.” Pak Tum menebas akar pohon yang merambat. Dari bekas tebasannya menetes air. Pak Tum mendengakkan wajah dan membuka mulutnya menampung tiap tetes. Bekal air kami masih penuh, namun karena penasaran kami pun mencoba. Sedikit kelat menurutku.

“Pohon ini bernama Liana.” Murat menunjuk bekas tebasan Pak Tum kemudian tersenyum kearahku. “Ini bukan parasit, dia merambat pada pohon-pohon besar dan mendapat unsur hara dari tanah, hanya kadang ia bersaing untuk mendapatkan cahaya matahari.”

“Hai, Liana,” Aku menepuk-nepuk akar liana. “Saya Liana juga, mari kita bantu lainnya untuk bertahan!”

Kami melanjutkan perjalanan. Jalanan bukan hanya menanjak, kadang terlalu miring, yang membuat kami berpegang pada akar-akar pohon, atau apa saja yang bisa membantu kami agar tak terjatuh. Sempat aku merasa, tanaman liana seperti mengulurkan tangannya untuk menggapai tanganku. Kami beristirahat sembari menunggu kelompok lain. Di tempat kami berhenti, kulihat di tanah berserakan buah yang tak kukenali namanya. Bewarna kuning tua, bentuknya seperti labu kecil tapi kulitnya lebih  licin dan mengilap, sedang bagian kelopak tangkainnya mengingatku dengan buah manggis. Aku menengadah, ternyata di atasku buah-buahnya yang hijau dan kuning bergerombol.

Pak Tum mengambil satu buah yang tergeletak, menyiramnya dengan air dalam botolnya. Aku agak tidak sepakat, bagaimana bisa Pak Tum membuang-buang persedian air. Seolah mendapati gurat wajahku, Pak Tum tersenyum.

“Kita sudah dekat mata air,” Pak Tum mengeluarkan pisau kecilnya dan membelah buah itu menjadi beberapa bagian. “Tahu ini buah apa?” Pak Tum menyodorkan. Kami menggeleng.

Aroma segar dan agak asam, kulihat Murat mematung. Hanya saja, kapan lagi kalau tidak mencoba sekarang, toh aku yakin mana mungkin Pak Tum berniat meracuni. Kami menggigit nyaris bersamaan. Mendadak air liur seperti berkumpul di sisi kanan - kiri lidah, sedang mata berkali-kali ikut terpicing menahan rasa asam yang teramat. Tak lagi ada yang mengulang gigitan.

“Ini asam glugur, kalau yang dijual di kedai biasanya yang sudah dikeringkan, untuk masak ikan asam padeh.” Pak Tum memang tidak meracuni tapi menjahili, sedang Murat tak dapat menahan tawanya.

 “Pak Tum, saya kok tidak lihat ada orangutan?” Ini sudah lima jam perjalanan dan kami telah sampai pada puncak bukit.

“Oh, kalau di daerah ini memang sekali-kali munculnya dan kita juga enggak ke feeding station, tapi jika beruntung kita bisa jumpa juga.”
****

Sejenak melepas penat, kami kembali. Kini jalanan bukan hanya menurun tapi juga licin karena gerimis. Sarung tangan yang kukenakan mulai basah tapi aku tetap memakainya, karena bisa jadi aku akan menggenggam tumbuhan berduri atau pun lalang. Kami berjalan berbaris melewati jalan setapak yang dipenuhi belukar, aku mulai kelelahan dan jalanku melamban. Tiba-tiba aku tersadar, aku tidak lagi melihat teman-teman di depanku sedang kelompok berikutnya juga tidak terlihat di belakangku. Aku mempercepat langkah menyusuri jalan setapak – yang benar-benar setapak - dan hanya mengikuti bekas pijakan.

“AUUUUK, AAAAUUUK!”

Suara nyaring yang mengejutkan, orangutan? Aku memang sangat ingin bertemu, tapi kini belum dapat melihat teman-temanku, aku sendirian.

“AUUUUK, AAAAUUUK!”

Suara yang persis sama tapi bukan suara yang sama, seperti tengah bersahutan. Aku gugup, penasaran, tapi juga takut. Aku berusaha kembali berpikir yang baik-baik sambil merapal doa. Yang penting aku tidak mengganggu, sambil berlari kecil, aku menengadah pada rimbun pohon. Tehnik berjalan di jalan menurun yang sempat diajarkan tidak lagi kuperhatikan sebab jalanan licin dan aku terperosot, rasanya seperti bermain perosotan saat masih di taman kanak-kanak. Akhirnya aku dapat melihat teman-temanku. Kini kami tiba di pinggir sungai dengan tubuh berlumpur.

“AUUUUK, AAAAUUUK!”

Aku menoleh ke sumber suara, “Pak Tum?”

“Ini kode sesama ranger.”
****

Ini hari ke-empat, hari terakhir, sekitar jam sepuluh kami akan meninggalkan pondok, tidak ada kegiatan apa pun pagi ini, selain sarapan dan berkemas. Sedang siang nanti, kami akan berbakti sosial pada masyarakat Bukit Lawang – di tempat pertama kali tiba. Untuk sampai ke sana, kami tidak lagi tracking tapi akan ber-rafting. Ketika yang lain sibuk berkemas, aku menyendiri di tepian sungai, mengamati riaknya dan mencoba membaca kembali untai waktu yang kulalui.

“Liana, kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu.”

“Murat, ada seorang teman yang menunggu ceritaku tentang orangutan.”

“Lain waktu bawa saja temanmu kemari. Jika masih di sini, saya akan menemani kalian.” Murat memberikan kartu namanya. “Atau catat saja nomor ponsel Pak Tum.”

 “Murat, apa kamu menyukai tempat ini?”

“Aku bukan suka melainkan cinta. Tempat ini melindungi kehidupan, memberikan kisah dan kesan mendalam. Ketika kita mencintai sesuatu, kita ingin dia bertahan lebih lama, kan?”

Mata ini telah melihat, hati ini telah terpaut, aku juga ingin lebih banyak orang merasakan yang sama, agar siapa saja mengerti konsekuensi perbuatan terhadap hutan, agar siapa saja bertanggung jawab, bersyukur.
****

“Seru sekali!” Wulan menggenggam tanganku erat.

Aku bercerita banyak tentang perjalanan yang baru kulalui. Tiap kali aku ingin menyudahi, dia memintaku terus bercerita. Kadang aku merasa tidak sungkan karena kutahu Wulan sebenarnya juga ingin ke tempat itu. Kecelakaan mobil yang dialami Wulan selepas SMA berakibat fatal pada saraf optiknya yang menyebabkan ia tak dapat melihat. Beberapa bulan paska kecelakaan, ia sama sekali tidak ingin dijumpai tapi perlahan ia kembali percaya diri seperti dulu.

“Kamu membawa koran apa?” Tangannya meraih koran yang berada di sampingku.

“Oh, di sini ada ulasan perjalanan kemarin.” Aku coba membalik-balikkan lembar koran yang kubeli pagi tadi dan belum sempat kubaca. Aku terhenyak, menemukan satu judul berita yang membuatku kaku, hatiku ngilu. Aku seolah berada dalam kobaran api. Melihat air mata tumpah dari sepasang mata yang polos, menutup perlahan, mengerang, lalu membisu. “Kalimantan ...”

“Kenapa?”

“Emm, Kalimantan. Maksudku orangutan Sumatera dan Kalimantan ada perbedaan, kan? Kita harus ke sana pula.” Berita itu, aku belum sanggup mengatakannya.

Wulan tersenyum.

DEMI PAMER DI MEDIA SOSIAL, SEORANG PRIA PARUH BAYA MEMBAKAR ORANGUTAN
**** 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen "Awesome Journey" Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Jumat, 26 Juni 2015

Jarak

Kali ini, jarak yang dicipta
akan melahirkan, apa?
Rindu ataukah lupa?
Hanya ada satu jiwa
bertanya-tanya
Hanya ada satu jiwa
menyulam rahasia

Dari bibirnya mengalir doa
Semoga tak bermuara
luka

Rabu, 24 Juni 2015

Stick note #2

Halo kamu, yang namanya tertera pada stick note, yang jika kumenatap lurus dari meja kerjaku, aku melihatmu. Maksudku namamu. Aku kagum dengan caramu berpikir, humormu yang terkadang sarkas, keluasan hati, dan kerja kerasmu. Itu kenapa aku memilih namamu, terkadang saat mulai buntu, aku bisa mencoba berpikir dengan caramu, oh kata - kataku barusan beraroma kemustahilan. Paling tidak, aku akan menerka-nerka isi pikiranmu dengan sedikit pengetahuanku tentangmu; jika kamu ada di posisiku, apa yang kamu lakukan?

Begini, belakangan ini ada yang menjajah waktu dan pikiranku. Aku sering mengingatnya, padahal jari-jari pada satu tangan dapat menghitung jumlah pertemuan kami. Tidak banyak kalimat yang kami pertukarkan. Bagaimana pun, tetap harus membuat jarak, kan? Sudah coba melupakannya atau mengabaikan tapi entah kenapa banyak sekali hal-hal atau kata yang seringkali dapat kuasosiasikan ke dirinya, bahkan waktu itu ada nama depot air minum yang seperti namanya, langsung teringat dia. Padahal, dia belum tentu bisa mengeja namaku dengan benar, padahal dia tidak ingat aku - ketika disebutkan namaku - kecuali ditambah beberapa keterangan, padahal sikapnya, sikapnya juga tidak jelas. Mungkin khayalku yang membuat ini menjadi indah. Aku memberi waktu pada diri untuk memastikan apakah ini memang bentuk penjajahan. Aku merasa malu, kadang-kadang kesal pada diriku jika tidak dapat tegas pada perasaan yang enggak tentu arahnya.

Baiklah, aku memang belum berkorban apa pun, tapi waktu dan pikiranku sudah dirampas, itu kan sangat berharga. Apa pendapatmu? Keluarlah wujudmu dari stick note itu, hei... 

"Listen to me and notice it, ada beza antara pengorbanan dan kebodohan!"

Oh, deep. OK, I should be stepped on my focus, my priority. I will come back. 

Enggak tahu kenapa jadi mellow, mungkin gara-gara intrumental soundtrack Inuyasha yang tengah kudengarkan, mungkin. Akan ada bahagia jika bisa kembali fokus, belum terlalu banyak kenangan juga, kan. Aku tahu akan berhasil, aku terlatih untuk hal-hal begini.

#NulisRandom2015
#FlashFiction 


Negeri (Cuma) Fiksi



Ini cerita fiksi tentang satu negeri. Di negeri ini, sering kali saat anggota perwakilan rakyat melakukan reses ke lembaga pemerintah, mereka menarik biaya dari para kepala lembaga yang dikunjung dalam bilangan yang mampu dipertukarkan dengan mobil. Permintaan mereka selalu dipenuhi, uang siapa yang dipakai memenuhi permintaan ilegal itu? Alhasil tiap kepala – selain menguras dompet sendiri - pun memungut dari tiap bidang di lembaganya. Tidak ada yang melapor, tidak ada yang berteriak, sebab untuk mencapai posisi kepala lembaga, kepala bidang, beberapa melakukan permainan uang pula. Agaknya, posisi jadi taruhan. Hepeng do na mangatur nagara on.

Masih ada anggota dewan di antaranya yang jujur, yang malu dengan perbuatan rekan, namun jumlahnya satu – satu, suara mereka ditenggelamkan atau menenggelamkan diri.

Ada pegawai negeri ini, gajinya terukur, hidupnya jujur, tapi sebab kekikiran para atasan atau pun apatisme sesama bawahan; apa pun di mata orang, dia pun menjadi tak betul.

Kebanyakan pegawai negeri yang mengabdi di lapangan, sering bekerja tak kenal waktu, kesejahteraan mereka jangan ditanyakan, lihat saja dengan teliti, terbit lah iba. Tapi bagaimana mau lihat, ini kan cuma fiksi, bayangkan saja lah. 

Ini cuma cerita fiksi namun ada pepatah yang mengatakan,

Life is stranger than fiction.

tanah-tanah retak mengering, meng-abu,
namun awan telah kelabu,
taukah itu pertanda apa?
tunggu sebentar lagi saja,
atau kejar, panggil-panggilah 
hujan. 

#NulisRandom2015

Sabtu, 13 Juni 2015

Kepada Indri yang Telah Menulis Surat kepada Hujan

Ndri, aku telah membaca suratmu kepada hujan. Jadi, apa surat itu sudah dibaca olehnya? Apa dia sudah membalas? Apa kalian kini menjadi karib? Kamu tidak lupa menempelkan perangko, kan? 

Suratmu itu, membuat pikiranku berlari-lari ke beberapa masa dan beberapa orang.  Pagi tadi, saat sedang minum teh. 

Ada seseorang yang kukenal, awalnya kupikir dia hanya suka Hujan, sebuah band. Tapi ternyata juga sukakan hujan. Pernah aku menemukan tulisannya tentang hujan pada sebuah lembar yang khusus,

Hujan

Aku suka akan hujan,
Tiap rintik berguguran,
Buat kurasa berteman.


Seseorang temanku yang lain pernah berkata, kurang lebih kalimatnya,

“Jangan mengaku cinta hujan jika saat dia datang, kau masih berpayung, masih berteduh.” 

Dia sepertinya tidak tahu bahwa kadang cinta punya sebab untuk disembunyikan, terkadang punya sebab untuk ditahan dan dinikmati sendiri, atau hanya mengamatinya dari jauh. Adakah itu sebenarnya cinta yang kurang beruntung?

Temanku yang lain lagi pernah berujar – apa aku terlihat seperti punya banyak teman? 

“Kalau masih tersinggung dengan status di media sosial artinya mandi hujannya kurang sering.” 

Entah di mana hubungannya tapi senang mendengarnya karena pada masa kecil, aku adalah jagoan yang kerap memenangkan talang-talang air ketika hujan meski bersaing dengan anak laki-laki (apa itu persaingan atau mereka sengaja mengalah? Tetiba aku curiga). Talang yang airnya tercurah paling deras adalah milik tetanggaku, berdiri di bawahnya berlama-lama sampai menggigil, sampai kulit jemariku mengerut. Selagi tidak banyak petir, ibu tidak pernah melarang, dia hanya membatasi waktu. Oya, pernah dengar hujan panas? Banyak orang juga menyebutnya dengan “hujan orang meninggal”. Nah, kalau itu aku tidak berlari keluar, tetap di rumah. 

Terakhir adik sepupuku, meski sebenarnya masih banyak orang atau masa-masa yang kuiingat jika berceracau tentang hujan. Saat dia belum mampu berjalan, dia hanya mau digendong orang tuanya. Ketika hujan turun, dia merangkak mendekati pintu. Tingkah lakunya menyiratkan ingin diajak keluar. Saat itulah, dia baru mau kugendong. Aku ajak dia menyapa hujan dari beranda, sesekali kuulurkan tangannya mengenai hujan, dan apa yang terjadi? Dia tertawa lucu sekali sambil melonjak-lonjak riang dalam gendongan. 

Meski pernah jatuh dari motor akibat lubang jalan yang tertutup genangan air hujan, aku tidak pernah membecinya. Hanya kini akan lebih hati-hati.

Saat mengendarai motor, karena mengingat sesuatu atau ada hal-hal yang membuatmu ingin atau terpaksa menangis, dengan hujan kita tidak perlu menyembunyikan air mata dibalik kaca helm, kan? 

Bagiku hujan tetap anugrah, manusia yang kadang merubahnya jadi bencana, atau mungkin alam sebenarnya memiliki pesan khusus melalui hujan yang sesekali belum mampu diterjemahkan.

Aku suka hujan dalam perjalanan pulang, sedang ketika perjalan pergi ke suatu tempat, lebih memilih berteduh. Namun sayangnya kini tidak banyak kesempatan untuk membuat bermain hujan seolah sebuah ketidaksengajaan. Dan akhirnya sekedar menikmati melalui sebingkai jendela.

Sebagaimana orang-orang menyukai siwasae, salju yang pertama kali turun di musim – tentunya musim salju. Aroma rerumputan atau bahkan debu yang disapa oleh hujan pertama kali pun banyak yang suka.

Hujan punya ritmis ‘mistis’ yang mampu menarik penikmatnya pada penggal kenangan yang entah sebelah mana. 


#NulisRandom2015 

Sticknote #1

Kita sama-sama Muslim sehingga tahu persis tidak boleh 'bermain' sihir. Tapi tiap kali aku merasa malas dan tercenung pada meja belajarku, kehilangan fokus, lalu kutegakkan kepala, seketika terlihat tulisan di sticknote yang terekat pada dinding, tepat di depan mataku; ada namamu. Seperti sihir saja, tiba-tiba wujudmu keluar dari selembar kertas itu dengan menggenggam sebuah sendok di tangan kanan. Lalu . . . ah, tidak enak diceritakan. Kamu memukulkan sendok itu ke kepalaku – pukulan manja.

“Hampa ni, ai often cuma boleh tidoq two hours jer, sebab assigment la, submission, presentation, drawing, and macam la. So, apa buat, hah? Belajar? Karya? Tadak. Itu pun pekan lalu tak pergi usrah? Focus, sejenak berehat itu perlu, satu dua kali okay hilang focus tapi jangan buat habbit macam tu. ”

Selepas mengomel, kamu menghilang. Aku mengusap-usap kepalaku, berharap ada sisa nasi atau remah makanan atau apa saja yang sebelumnya ada di sendokmu jatuh di kepalaku, sayang sekali tidak ada bahkan rasa pukulan kecil pun tidak dapat kuingat. Artinya kamu hadir tidak secara nyata tapi sebab – bukan sihir – khayal.

Ada sakit yang menyusup, bukan karena kamu menghilang tiba-tiba. Tapi karena pukulan sendok – yang khayal itu – membuatku menyadari (lagi) kenyataan bahwa karena kelalaian, aku pernah harus jatuh dalam penyesalan yang kubayar dengan waktu, tenaga, pikiran, uang, perasaan, agar bisa bangkit, berusaha move up secara menggila, lalu sekarang aku? Sakit yang menyusup ini, kusadari sebagai sakit yang mengobati.

Baiklah, ini bukan sekedar tentang mengecilkan jarak ketertinggalanku denganmu atau bagaimana orang lain menggambarkanku. Lebih-lebih ini tentang bagaimana aku menggambarkan diriku untuk kulihat, kan?

“Kerana nanti di kubur, malaikat pun akan tanya, ‘untuk apa masa mudamu’?” Kamu bersuara lagi, kali ini tanpa wujud.

OK, belajar, belajar. Buku, pulpen, laptop, jurnal, sinyal internet, sudah sedia. Tidak lupa, segelas besar air putih dan segelas kopi pahit, sebab kata Imam Syafii, “Barangsiapa tak mau merasakan pahitnya belajar walau sesaat, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidup.”

“Alahai, pahitnya belajar bukan pahit minum kopi saat belajar.” Lagi, teguranmu datang tanpa wujud.

Selama ini aku juga belajar kok, belajar dari alam, pengalaman, orang-orang sekitar, dan merasakan pahitnya belajar mencintai . . .
 
“Belajar tu upaya sadar, macam tu pun boleh jadi belajar, mengambil tahu isu semasa pun boleh jadi belajar, tapi hampa tau apa yang semestinya dipelajari sekarang. Dah la, nak seribu daya tak nak seribu dalih. Aku tak nak kembali kalau hampa macam ni.”

Pergilah, pergilah! Aku mau fokus!

(tapi jangan lupa untuk datang lagi).


*Hampa = kamu.

#Flashfiction 
#NulisRandom2015 

Rabu, 10 Juni 2015

Tinggal

Atas tiap pertanda yang mudah diterka, yang kerap kalian pertukarkan,


masih pantaskah kuyakinkan diri untuk bertahan? 

masih adakah yang perlu dipastikan? Jika ada, sungguh tak tahu bagaimana cara

tidakkah lebih baik menghitung mundur waktu untuk pergi tinggalkan?

menanggung sendiri 

dan dalam kebisuan tetap menjadikannya rahasia, yang mudah-mudahan kelak lesap tak berjejak; entah bagaimana lagi cerita nanti

sebelum segala kenang segala harap melangit sehingga sulit dikebumikan.




#NulisRandom2015
-setelah mendengarkan instrumental yang tidak tahu judulnya. 

Kamis, 04 Juni 2015

Surat yang Berkisah pada Sunyi #2

Seperti yang kamu tahu,
Aku mencintai segala tugas ini,
bersyukur sebab aroma tanah, hujan, cerita dan senyuman yang kupeluk
di sini

namun jangan kira aku tak rindu,
bukan berarti tak ingin melihatmu 
di sisiku
ketika membuka mata
pada pagi yang masih buta
dan mengejakan alif ba ta
untuk buah hati kita
selepas maghrib atau menjelang isya;
aku yakin akan ada masa 

Sungguh rasa itu telah
mengalir, mengarus, menyamudera
sebagaimana
sungai Mamberamo 

Rabu, 03 Juni 2015

Surat yang Berkisah pada Sunyi #1

Jangan berpikir bahwa aku telah bersahabat dengan sunyi

hanya karena tidak mendesakmu segera kembali (lagi).

Kamu tahu, waktu berkali-kali mengomeliku, dia bilang bahwa tugasmu tidak mudah.

Aku tetap ingin kamu kembali,
namun yang terpenting saat ini,
kamu makan tepat waktu, istirahat cukup, dan banyak-banyak memungut cerita tentang tanah, langit, dan senyuman yang kamu tatap
di sana, di Taria, Papua.

Oh iya, pangkas rambutmu.

Seberapa jauh dan apa-apa saja yang kamu lewati untuk ke tukang pangkas aku pun ingin tahu.

Ah iya, tukang pangkasnya laki-laki, kan?

Ahaha, kenapa aku malah lebih banyak bertanya tentang tukang pangkas? Seberapa istimewanya dia?

Hal-hal yang mungkin tidak penting jika itu berkaitan denganmu menjadi penting, kenapa? Iya, aku sedang bertanya.

Atau setidaknya, sebelum pulang nanti, potongan rambutmu tidak lagi sebahu,

jangan sampai anak kita nanti salah menyapamu dengan "ibu" karena aku sudah mengajarinya mengucap kata "ayah".

Jangan bersedih hanya karena kamu tidak berada di antara kami untuk menjaga, memeriksa apakah malam sebelum tidur pintu dan jendela telah terkunci. Bukan aku tidak ingin sedikit manja dan dijaga, tapi aku yakin saat ini kita saling menjaga dengan doa.


#FlashFiction

Selasa, 02 Juni 2015

Ngobroli Ruqyah

Ruqyah dibedakan menjadi dua: syar’i atau sirik. Sebelumnya perlu terangkan kalau aku bukan ahli ruqyah, bukan orang yang pernah di-ruqyah yang sampai harus mendatangi orang tertentu, dan juga bukan orang yang menyebabkan orang lain harus di-ruqyah.

Dalam Islam memang menyatakan ada hal-hal gaib seperti malaikat, jin, surga, neraka, dll. Dan sebagai seorang Muslim wajib percaya hal-hal gaib memang ada. Tapi perlu diluruskan menjadi orang percaya hal gaib itu ada tidak sama dengan menjadi orang yang klenik. Dalam Al-Quran bahkan Allah berfirman  akan menaikkan derajat orang-orang yang berilmu (silakan dibuka QS. Al-Mujadilah:11), dengan kata lain: Islam menghargai orang yang menggunakan akal pikirannya.

Panjang lebar buat mukadimah, niatnya cuma mau cerita obrolan dengan adik sepanjang perjalanan pulang dari KNIA tadi.

Jadi, adikku pernah temani orang yang mau ruqyah, tepatnya waktu itu dimintai tolong untuk antar.

“Gila enggak tuh, masa’ dia ruqyah orang tapi sholatnya lewat? Tapi ada pula pasiennya .” Keluh adikku.

“Eh? Udah sholat kali, cumannya kalian gak lihat, mungkin.”

“Mana ada, kan aku gantian merhatiin sama kawanku.”

Ada begini, mulai ruqyah baca basmallah, ayat-ayat Quran, tapi kelar itu ngasih syarat yang entah apa-apa misalnya ikan arsik buang ekornya, letakkan di depan pintu rumah. Apa coba maksudnya? Sedekah ke kucing? Pasti enggak ada hadis yang menjabarkan syarat ruqyah seperti itu. Jelas dalam logika paling sederhana, minimal sadar kalau di Arsik itu masakan khas Batak lalu makanannya dibiarkan mubazir? Mubazir temannya siapa? Jawabannya di (QS. Al-Israa:26). Lucu atau ironi, ada juga yang manut.

Kala itu, malam sebelum ngantar ke tempat ruqyah, adikku baru main futsal, terus seharian dia banyak urusan, udah nyetir kemana-mana. Malamnya dia ngantar orang yang mau ruqyah. Kakinya sempat keram,

“Ini pasti udah ‘dikenakkan’ juga, nanti di tempat ruqyah minta ‘dibersihkan’ kakinya.” Saran seorang yang juga menemani malam itu. Terdengar pintar, tapi sebagaimana yang diketahui kadang seperti apa yang didengar bertolak belakang dari kenyataan.

Sebelumnya adikku enggak pernah ke sana. Lalu, dia diarahkan kalau nanti ada minimarket, mereka belok. Nah, adikku keterusan pasalnya minimarket yang dijadikan sebagai penanda belok enggak kelihatan, udah tutup, plang lampu (apalah namanya) mati. Langsung dikomentari,

“Ini matanya udah dibuat ‘tertutup’, biar kita gagal untuk ruqyah.”

Kalau kita enggak paham tentang suatu hal – apalagi kalau udah menyangkut aqidah, sebelum mengikutinya cari tahu ke tempat orang yang lebih paham (namun sayangnya ketidakpahaman dtambah dengan ketidakhati-hatian membuat seseorang membenarkan pemahaman yang keliru) jadi paling tidak, cari tahu ke beberapa orang yang kafaah dan membaca beberapa refrensi.

Islam itu menghargai akhlak dan akal pikiran, sebaiknya jangan terlalu merasa rendah diri sehingga takut bertanya kalau ruqyah ujung-ujungnya pakai syarat yang rada nyeleneh, atau pas lagi ruqyah sentuhan langsung dengan non - mahram. Dalilnya ada? Shohih? Namun, enggak bakal ngaruh juga  shohih, dhaif (lemah), atau maudhu' (palsu), kalau enggak pernah dan mau belajar lslam – apalagi belajar mengamalkan. BELAJAR.

Kita punya Allah Yang Maha Kuasa, yang bisa kita mohonkan perlindungan, kalau Allah berkehendak, yang lain bisa apa?  Ingin cari ridho Allah dari jalan yang Allah tidak ridho, apa bisa? Allahu a'lam bissawab.



#NulisRandom2015 #2
Created By Sora Templates