Sabtu, 13 Juni 2015

Kepada Indri yang Telah Menulis Surat kepada Hujan

Ndri, aku telah membaca suratmu kepada hujan. Jadi, apa surat itu sudah dibaca olehnya? Apa dia sudah membalas? Apa kalian kini menjadi karib? Kamu tidak lupa menempelkan perangko, kan? 

Suratmu itu, membuat pikiranku berlari-lari ke beberapa masa dan beberapa orang.  Pagi tadi, saat sedang minum teh. 

Ada seseorang yang kukenal, awalnya kupikir dia hanya suka Hujan, sebuah band. Tapi ternyata juga sukakan hujan. Pernah aku menemukan tulisannya tentang hujan pada sebuah lembar yang khusus,

Hujan

Aku suka akan hujan,
Tiap rintik berguguran,
Buat kurasa berteman.


Seseorang temanku yang lain pernah berkata, kurang lebih kalimatnya,

“Jangan mengaku cinta hujan jika saat dia datang, kau masih berpayung, masih berteduh.” 

Dia sepertinya tidak tahu bahwa kadang cinta punya sebab untuk disembunyikan, terkadang punya sebab untuk ditahan dan dinikmati sendiri, atau hanya mengamatinya dari jauh. Adakah itu sebenarnya cinta yang kurang beruntung?

Temanku yang lain lagi pernah berujar – apa aku terlihat seperti punya banyak teman? 

“Kalau masih tersinggung dengan status di media sosial artinya mandi hujannya kurang sering.” 

Entah di mana hubungannya tapi senang mendengarnya karena pada masa kecil, aku adalah jagoan yang kerap memenangkan talang-talang air ketika hujan meski bersaing dengan anak laki-laki (apa itu persaingan atau mereka sengaja mengalah? Tetiba aku curiga). Talang yang airnya tercurah paling deras adalah milik tetanggaku, berdiri di bawahnya berlama-lama sampai menggigil, sampai kulit jemariku mengerut. Selagi tidak banyak petir, ibu tidak pernah melarang, dia hanya membatasi waktu. Oya, pernah dengar hujan panas? Banyak orang juga menyebutnya dengan “hujan orang meninggal”. Nah, kalau itu aku tidak berlari keluar, tetap di rumah. 

Terakhir adik sepupuku, meski sebenarnya masih banyak orang atau masa-masa yang kuiingat jika berceracau tentang hujan. Saat dia belum mampu berjalan, dia hanya mau digendong orang tuanya. Ketika hujan turun, dia merangkak mendekati pintu. Tingkah lakunya menyiratkan ingin diajak keluar. Saat itulah, dia baru mau kugendong. Aku ajak dia menyapa hujan dari beranda, sesekali kuulurkan tangannya mengenai hujan, dan apa yang terjadi? Dia tertawa lucu sekali sambil melonjak-lonjak riang dalam gendongan. 

Meski pernah jatuh dari motor akibat lubang jalan yang tertutup genangan air hujan, aku tidak pernah membecinya. Hanya kini akan lebih hati-hati.

Saat mengendarai motor, karena mengingat sesuatu atau ada hal-hal yang membuatmu ingin atau terpaksa menangis, dengan hujan kita tidak perlu menyembunyikan air mata dibalik kaca helm, kan? 

Bagiku hujan tetap anugrah, manusia yang kadang merubahnya jadi bencana, atau mungkin alam sebenarnya memiliki pesan khusus melalui hujan yang sesekali belum mampu diterjemahkan.

Aku suka hujan dalam perjalanan pulang, sedang ketika perjalan pergi ke suatu tempat, lebih memilih berteduh. Namun sayangnya kini tidak banyak kesempatan untuk membuat bermain hujan seolah sebuah ketidaksengajaan. Dan akhirnya sekedar menikmati melalui sebingkai jendela.

Sebagaimana orang-orang menyukai siwasae, salju yang pertama kali turun di musim – tentunya musim salju. Aroma rerumputan atau bahkan debu yang disapa oleh hujan pertama kali pun banyak yang suka.

Hujan punya ritmis ‘mistis’ yang mampu menarik penikmatnya pada penggal kenangan yang entah sebelah mana. 


#NulisRandom2015 

2 komentar:

  1. Suka atau tidak, ada tempatnya. It's OK, you have your own reason.

    BalasHapus

Created By Sora Templates