Rabu, 27 Juni 2012

Senyuman: Ibadah Dahsyat


Senyuman merupakan suatu perbuatan yang sangat sederhana namun memiliki efek yang tidak sesederhana melakukannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, senyum adalah gerak tawa ekspresif dengan tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira dan sebagainya dilakukan dengan menyunggingkan bibir sedikit. Gerakan bibir ini ketika dimaksudkan untuk menghormati atau menyenangkan hati orang lain tentu akan membuat senang penerimanya. Namun, senyum yang dimaksudkan untuk mencibir atau juga senyum sinis dapat menimbulkan pengaruh sebaliknya. Begitu pun dengan pelaku senyum, seringkali seseorang tersenyum untuk menabahkan dan menegarkan dirinya ketika sebuah masalah melanda, seolah-olah dengan tersenyum ia telah mengundang bala bantuan. Ini menunjukkan senyuman memiliki efek psikologis secara langsung bagi penerima senyum atau pun pelaku senyum itu sendiri.
Senyum memiliki pengaruh baik bagi kesehatan. Senyuman dapat mengurangi stress, mengubah suasana hati menjadi lebih baik karena saat seseorang tersenyum ia akan mengeluarkan Endhorpin dan Serotonin. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa senyum dapat merangsang pengeluaran Endorphin dan Serotonin. Endorphin adalah pereda rasa sakit secara alami, sedangkan Serotonin adalah  hormon yang mengendalikan mood seseorang.
Rasulallah Muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam, menyadari pengaruh senyuman. Beliau dikenal sebagai seorang yang menyukai aktivitas tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Al-Harits bin Jaz’in Radiyallahu’anhu, ia berkata, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak senyumannya dari Rasulallah.” (HR. At-Tirmidzi). Senyum Rasulallah pun menjadi sebuah perangkat beliau dalam berdakwah, seperti yang beliau lakukan kepada seorang Badui sehingga pada akhirnya menyebabkan Badui tersebut merasakan indahnya Islam. Dari Annas radiyallahu ‘anhu berkata, “Saya pernah berjalan bersama Rasulallah shalallahu ‘alayhi wa sallam dimana beliau membawa selimut Najran yang tebal pinggirnya, dan bertemu dengan seorang Badui, kemudian ia menarik selendang Beliau dengan tarikan yang amat keras. Saya melihat leher Nabi dan pada lehernya ada bekas ujung selimut itu karena kerasnya tarikan orang Badui, kemudian ia berkata, “Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku harta Allah yang ada pada mu”. Beliau menoleh kepada orang Badui dan tersenyum, kemudian Beliau menyuruh untuk memenuhi permintaan orang Badui tersebut”. (HR. Bukhari dan Muslim). Tentu peristiwa ini terkandung hikmah yang bukan hanya dapat dipetik oleh orang Badui tersebut atau para sahabat Rasulalallah, melainkan oleh generasi ke genarasi ummat ini hingga akhir zaman. Sikap lemah lembut sendiri merupakan sebuah strategi dakwah yang  Allah ajarkan, “Sekiranya kamu keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159).
Rasulallah menganjurkan bahkan memotivasi agar tidak berlaku pelit untuk tersenyum. Sebagaimana beberapa hadis yang di dalamnya terdapat dorongan untuk tidak meremehkan perbuatan itu. Dari abu Dzarr radiyallahu ‘anhu, Rasulallah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabada, “Janganlah kamu meremehkan suatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan muka yang manis.” (Riwayat Muslim). Senyum merupakan ibadah, sesuatu yang memampukan setiap orang untuk bersedekah, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah bagimu.” (Riwayat Tirmidzi). Jelas Rasulallah yang memiliki kemuliaan akhlak memaksudkan senyuman yang merupakan ibadah adalah senyum yang tulus. Selain untuk menyenangkan atau menhargai seseorang, juga dalam rangka ketaatan kepada Allah dan RasulNya, bukan senyum yang dimaksudkan menggoda yang bukan mahram, sinis, apalagi senyum dengan maksud menghinakan orang lain. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulallah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli suatu barang yang (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, tidak layak untuk saling menzhalimi, berbohong kepadanya dan acuh kepadanya. Taqwa itu ada disini (beliau sambil menunjuk dadanya 3 kali). Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya, dan harga dirinya” (HR. Muslim).
            Senyuman memiliki berbagai pengaruh dan merupakan tawanya para Nabi. Rasulallah sholallahu ‘alayhi wa sallam memang pernah tertawa, namun tertawa bukanlah anjuran beliau apalagi tertawa terbahak-bahak, dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata “Aku tak pernah sama sekali melihat Rasulallahu tertawa dengan bebas sampai terlihat langit-langit mulutnya, melainkan beliau hanya tersenyum.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
            Sungguh senyuman merupakan ibadah sunnah yang begitu dahsyat. Ia mempengaruhi psikologi, kesehatan, penampilan, merupakan perangkat dakwah, dan sedekah. (Ririn Anindya)

Penulis bergiat di FLP SU dan merupakan Alumni UKMI Ar-Rahman UNIMED. 

Minggu, 24 Juni 2012

Salah Kunci (Sebuah memoa di Zaman Alat Peraga di Dik Mat Reg A)

Ada zaman tak terlupa buatku selama di Dik Mat Reg A (Pendidikan Matematika Reguler A), banyak sih. Salah satunya zaman alat peraga. Dimana kami semua mendapat tugas untuk membuat alat peraga pembelajaran matematika sekeren-kerennya, tentu itu tidak sulit karena kami memang sudah lama keren jadi sudah akrab dengan apa yang disebut keren (setidaknya anggap saja membahagiakan kelas sendiri). Nah, mulailah ada yang jadi pemulung buah saga di kampus untuk hiasan, guntingin kertas, origami, pita-pita, ini kuliah apa PKK? Tapi begitulah adanya, berkumpul di koridor kampus, di kos an, di mushola, di teras masjid, dan juga di teras biro rektorat atau birek. Teras birek sendiri ada dua: teras belakang dan teras depan (mana yang depan dan yang belakang aku masih enggak yakin), teras yang satu menghadap ke gedung perpustakaan kampus, yang satunya lagi menghadap ke jalan Williem Iskandar, di teras yang mengahadap ke jalan Williem Iskandar-lah kami biasa membentuk koloni. Teras birek itu lebih tinggi dari halaman birek, dari halaman ke teras atau beranda birek kita mesti menaiki sekitar 6 anak tangga (atau 8 anak tangga?). Terasnya lumayan luas, berlantaikan keramik putih, dan halaman birek sendiri di diami pepohonan rimbun (tapi kalau siang teras tadi terasa panas juga) namun kalau pagi atau lewat tengah hari dikit baru enak dijadikan lapak kerja kelompok. Nah, karena itu kerap teras tersebut dijadikan tempat diskusi dan saat itu mulailah kami bertebar di sana bagai ketombe.
Aku lupa waktu itu satu kelompok dengan siapa saja, tapi seingatku ada Diah, Evi, Lidya, Erni, almarhumah Cut, Budi, dan Chan, mungkin  juga Putri. Kalau perihal kerja kelompok, Si Chan biasanya telat, maklum nih anak lagi laris sebagai tentor. Waktu itu juga gitu, kami sudah berleseh-lesehan beberapa lama di teras birek demi sebuah alat peraga Si Chan belum juga datang. Dan ternyata ada bahan yang kurang, mau enggak  mau harus merencanakan berkelana mencari bahan yang kurang itu. Tiba-tiba Si Chan tiba, masih ngos-ngosan. “Eh, Chan. Pergi dulu beli ini, itu, bla, bla, bla…” Si Chan dengan wajah nelangsa mendumel, “Akuuuuu aja yang kalian suruh.” Satu-dua orang serentak, “Namanya ko telat!” Chan pasrah, “Yaudah sini kubeli, pinjam dulu kereta (motor) mu, Rin.” Aku pun memberikan kunci motorku, kunci motor dengan gantungan yang sangat panjang seraya menjelaskan dimana dan yang mana motorku.
Sekitar 5 menit setelah Chan menuruni anak tangga teras birek menuju halaman birek, halaman yang tepat di depan teras, di halaman itulah aku memarkirkan motor (kalau di Medan menyebutkan “motor” itu biasanya dengan “kereta”), jaraknya enggak lebih dari 15 meter dari tempat kami berkumpul. Dia muncul lagi. “Rin, enggak bisa kuncinya, salah kunci nih.” Sambil menggunting kertas warna-warni aku menyahut, “ Emang agak susah tuh kuncinya, waktu itu mungkin pernah mau dicuri kereta (motor) nya, jadi mungkin agak dipreteli tempat kuncinya itu, coba aja lagi.” Dia kembali lagi ke parkiran. Gak berapa lama…
“RIIIN, SALAH KUNCI NIH!” Chan berteriak dari parkiran. Aku pun bangkit. Sampai seorang mahasiswa lain pun bangkit, dia mellihat Chan aneh.
“Salah kunci, nih!” Chan protes lagi.
Aku terhenti di tepi teras, Chan menunggangi motor dan masih berusaha mencoba memasukkan kunci motor.
 -____-“ (heran plus speechless)
Lagi,
-____-“
“OI, CHAN! KERETAKU BUKAN YANG ITU! TAPI YANG DISEBELAHNYA YANG ADA HELM BIRU!”
Ahahaha, kalau ingat itu… Dugaku karena lelah Si Chan jadi enggak konsentrasi atau bahkan terlalu konsentrasi. Mungkin motor yang ditungganginya itu motor mahasiswa yang ikut bangkit saat Chan berteriak, mahasiswa yang memandang Chan dengan tatap aneh mengarah ke sinis. Untungnya enggak diteriaki “Maliiing!”

Minggu, 17 Juni 2012

Pengamatan dari Pojok Ruangan (Foto, Oh Foto...)


Nah, ini ceritaku hari ini. Aku tidak begitu ingin tahu urusan orang yang gak ada baiknya untukku. Tapi beda halnya jika aku sudah memutuskan mau jalan-jalan untuk mendulang inspirasi. Kali ini juga gitu, aku pergi ke tempat area free wifi, tempat favoritku. Sebuah ruangan yang sejuk dan nyaman. Pun di sana menyediakan beberapa computer untuk pengunjung, dan beberapa kursi serta meja untuk pengunjung yang membawa computer jinjing. Yah, ini sebuah layanann pemerintah.
Aku duduk agak ke pojok ruangan, dengan meja bundar dihadapanku. Bukan karena aku suka mojok, tapi ruangan udah agak penuh, lapak yang agak di pojok itu yang masih kosong. Posisi dudukku mengarah tepat ke arah pengguna layanan komputer. Sembari menunggu Choky (nama notebookku) aktif, aku mengedar pandang ke penjuru ruangan dan mataku tersangkut ke seorang pengguna layanan komputer. Seorang bapak-bapak berkumis, mungkin usianya sekitar 40 tahun lebih, ia memakai topi dan celana jeans. Dan aku pun melihat monitor komputer Pak Kumis tersebut. Ia sedang buka facebook, hm.. ia sedang membuka akun seorang gadis. Jaraknya tidak jauh dariku jadi aku bisa melihat dengan jelas. Ia membuka foto-foto pada akun tersebut, dugaku adalah foto pemilik akun (Ow, kurang kerjaan banget ya saya). Aku tidak berniat melihat wajah Pak Kumis tersebut apalagi menandainya. Aku hanya ingin mengamati perilaku yang kurasa jarang-jarang akan kutemui. Pak Kumis tampaknya menyadari pengamatanku, aku pura-pura tidak melihatnya. Aku memikirkan beberapa kemungkinan, pertama itu akun milik putrinya, kedua bapak itu lagi menyamar di dunia maya – ia menyamarr sebagai seorang gadis. Kemungkinan ke tiga, bapak itu sedang melihat akun gadis yang mau dijodohkan dengan putranya, mungkin lagi pilih-pilih mantu, atau yang terakhir.. ah, ini agak menakutkan. Sungguh, aku sedang tidak ingin berprasangka buruk dan tahu urusan dia, aku juga enggak ada bakat buat gossip, tapi aku perlu inspirasi. :D
Nah, setelah bapak itu pergi. Komputer itu digunakan oleh seorang pemuda yang taksiranku usianya sekitar 23 tahun lebih. Lagi-lagi pemandangan membuka-buka akun facebook seorang gadis. Nah, kuakui aku juga pernah buka foto di akun temanku yang  perempuan ataupun bukan, tapi itu karena ada kaitannya denganku, atau aku ada perlu dengan fotonya, dan gak pake acara senyum-senyum sendiri, apalagi pakai acara lama. Ah iya, mungkin itu akun adik perempuannya yang nun jauh di mata. Bisa jadi.
Oke, aku mengganggap kedua laki-laki tadi-Pak Kumis dan anak muda adalah orang baik-baik, jadi mereka gak punya maksud yang nyeleneh, gak ada ruginya juga buatku. Cuma ini membuatku berfikir, gimana kalau ada orang lain selain mereka yang buka-buka akun fb dan lihat foto-foto perempuan cuma buat kesenangan (baca nafsu syahwat)? Bukan itu saja, gimana kaau orang iseng itu malah berbuat sesuatu dengan foto kita, misalnya diprint-nya 24 inchi, dibingkaikan bingkai kayu jepara, lalu dikirimkan ke rumah kita? Nah lho, baik banget tu orang. Tapi coba jika sesuatu yang merugikan kita? Dengan kata lain jika kita masih mungkin berteman dengan orang yang tidak kita kenali di dunia maya, narsis itu perlu dikendalikan.
Ririn Anindya

Kamis, 14 Juni 2012

Dua lembar surat yang ditemukan oleh seorang suami yang telah ditinggal istrinya dari dunia ini di sebuah lemari pakaian tua. .


Medan, 26 November 2011

Sayang, apa kau sudah makan? Kalau belum, kau harus makan dulu, baru kembali baca suratku. Aku tak rela suamiku kelaparan karena aku tak lagi memasakkan makanan untuknya.
Sayang, surat ini ku tulis saat kau sedang roadshow bukumu yang best seller itu. Bukankah ada terselip kisah kita di buku itu?
Aku menulis dengan rasa yang … entahlah. Entah bagaimana melukiskannya. Tapi, kau harus ingat: rasa bahagiaku menjadi istrimu, tak berkurang sedikit pun.
Pekan lalu, dokter menghubungiku, hasil tes kesehatanku sudah keluar. Kalau bukan karena ibu mertua, mungkin aku tak pernah merasa penting melakukan pemeriksaan itu. Aku masih sangat santai. Merasa sangat sehat. Mungkin karena sangat bahagia, jadi calon ibu, juga karena jadi perempuan yang halal memandangimu sesukaku. Istrimu ini, kadang-kadang centil juga ya? Tapi kan hanya padamu aku begitu.
Kau tahu, apa kata dokter itu. Dia kurang ajar sekali. Dia bilang calon bayi kita harus diangkat dari rahimku, karena jika tidak janin yang tidak berdosa ini bisa membahayakan ibunya. Karena suatu penyakit yang sulit sekali aku mengatakannya dan sudah memasuki tahap, tahap apa dia bilang, lupa. Cukup terlambat. Dia gila, kan?. Ingin kujahit mulutnya! Aku periksa ke rumah sakit lain. Eh, ternyata bertemu dokter yang sama kurang ajarnya. Dia juga bilang hal yang sama. Aku merasa tidak ada yang salah dengan calon bayi kita, bukan di rahim ini yang sakit, tapi hati ini sakit sekali, tak terperikan. Mereka tak tahu apa-apa, kalau aku punya 10 nyawa, 10 nyawa akan kuberikan semuanya! Bahkan kalau ada rentenir yang meminjamkan nyawa, aku akan datangi ia. Tapi tidak ada. .


Medan, 12 Desember 2011

Sayang, aku ingin segera melihat bayi ini lahir. Meski taruhannya harus meninggalkan dunia ini. Tapi bukankah mati itu pasti untuk setiap yang bernyawa? Aku memang takut sekali jika tidak bisa melihat wajahmu, senyummu. Tapi, entah bagaimana aku merasa, aku akan tetap bisa melihatmu dari mata anak kita nanti, menggenggam tanganmu melalui jemari lentiknya, bahkan bisa bergelayutan di pundakmu. Meski dia bukan aku. Aih, kenapa harus 9 bulan 10 hari, sih ? Kenapa aku harus menungu 5 bulan lagi? Ya Rabb, masihkah ada waktuku? Aku ingin sekali bisa membuat foto keluarga: ada kau, aku dan anak kita. Bagaimana kalau kita ke studio foto yang ada di simpang tiga itu? Tempat kita berdua pernah berfoto dulu, sesaat setelah akad, kau setuju?
Sekarang, aku sudah benar-benar merasakan, sesuatu yang tidak biasa memberontak di dalam tubuhku, mereka serentak menggerogotiku. Mungkin dokter itu ada benarnya juga, sampaikan maafku karena pernah memakinya. Tapi, maaf lagi, aku adalah pasien yang keras kepala. Aku masih bertanya-tanya, masihkah ada waktuku? Mampukah tubuhku ini bertahan? Aku harus bisa. . Tapi, kalau tidak bisa, kau harus bisa menerimanya. Maafkan, Sayang. Aku ingin sekali mengatakannya padamu, tapi setiap kali ingin mengatakannya setiap itu pula mulutku terkunci.
Sayangku, setelah aku pergi. Kau boleh menikah lagi. Bahkan sesaat setelah aku dikebumikan. Namun baiknya kau tunggu saja sampai tanah kuburku kering. Kau tahu kan, bagaimana ayah mertuamu mencintaiku, bagaimana cerewetnya ibuku, kau harus jaga perasaan mereka. Kau pasti tahu, kau kan sudah pernah melalui masa-masa merampasku dari tangan mereka. Carilah pendamping yang lebih baik, yang takut kepada Rabbnya, tapi tidak boleh lebih cantik, ingat itu! Hm, bagaimana kalau kita buat sebuah strategi. Jangan kau pikir aku sedang mengajakmu mengelabuhi Allah. Kita tidak mungkin bisa dan tak berani. Aku sedang mengajakmu menagih janjiNya, kira-kira seperti ini ya bunyinya? “Ridho suami adalah syurga bagi istrinya”, bukan begitu? Bukankah Ia yang paling menepati janji? Kau wajib ridhoiku selama aku menjadi istrimu, ridhoi pula kepergianku, agar aku bisa menunggumu di surga dan kau harus jadi manusia yang baik.. agar kita bisa bertemu lagi, di antara para bidadari nanti ada aku disitu. Tapi tolonglah ketika saat itu tiba, matamu jangan jelalatan pada para bidadari itu, ya? Aku bisa cemburu. Rasa cemburuku, kubawa sampai surga. Ah, belum pergi saja aku sudah sangat rindu padamu.
Pada akhirnya aku menyadari, bahwa Allah itu Maha Baik, dia sangat menyayangi kita. Buktinya, begitu banyak nikmatNya. Salah satunya, Ia telah mempertemukan aku dan kamu, dan kamu telah memberiku rasa bahagia menjadi calon ibu dari anakmu. Meski mungkin hanya sebuah rasa. Aku tak pernah menyesal. Sedikit pun tidak. Allah mencintai kita, lebih dari yang kita tahu. Ia sedang menyiapkan kejutan lain untuk kita, kebahagiaan yang tak terperikan, aku percaya itu. Aih, sayang.. jadi rindu ingin segera bertemu denganNya, maaf ya jika duluan. Kau harus jalani hidup ini dengan bahagia, denganku atau tanpaku, dengan anak kita atau tanpanya, tapi harus dengan Tuhanmu, penciptamu. .

Ririn Anindya
-Rumah Cahaya. November 2011-

Sarasehan Cinta: Menemukan atau kembali mengingatkan orientasi menikah pada jalur yang benar


Judul acara ini “Sarasehan Cinta”. Temanya (walah kok gak catat temanya). Namun, intinya : Mempersiapkan ilmu sebelum melangkah ke jenjang  pernikahan. Dilaksanakan di aula Al-fityan School Medan pada tanggal 4 Maret 2012. Pemateri adalah ustadz  Surianda dan tulang rusuk beliau, ustadzah Sri Prafanti. Diusung oleh RKI (Rumah Keluarga Indonesia). Seketika tiba waktu penyampaian materi, maka saya pun menyiapkan alat perang (maksudnya notebook, biar cakep catatannya). Baiklah, begini isinya yang sempat tercatat dalam poin-poin.

Bismillahirrahmanirrahiim..
Ilmu fiqh tentang hukum menikah sebagai berikut:
  • Wajib: bila mampu dan ada kekhawatiran terjebak pada maksiat bila tidak menikah
  • Sunnah: bila mampu dan walau belum menikah tak mengapa (tidak khawatir terjebak pada maksiat bila belum menikah)
  • Makruh: bila belum mampu. Maka, berpuasalah.
“Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa sebab puasa bisa menjadi perisai baginya.” (H.R. Bukhari)

Bekal terpenting dalam menikah adalah pemahaman, ilmu. (Sebagaimana juga di fiqh prioritas, prioitas ilmu atas amal). Menikah tidak cukup hanya dengan modal semangat (cam kan itu! Pen.).  Jagalah kebersihan hati.

Baitul Muslim.
Hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah ada empat poin:
  1. Persiapan i’tiqodhi, niat.  Niatkan pernikahan ini menjadi ibadah. Hindari ta’aruf yang berkepanjangan.  Interaksi yang berlebihan dapat merusak niat. Bermula dari individu yang islami menjadi rumah tangga yang islami lalu menjadi masyarakat yang islami.
  2. Persiapan mental  dan keribadian.  Ikhtiar dan doa yang kuat. Salah satu penghalang doa adalah maksiat yang ada dalam diri.  Idealitas tidak selalu sesuai dengan realitas. Mintalah yang terbaik menurut Allah.  Jangan melihat seseorang hanya pada keadaannya hari ini, misalnya materi, dsbg. Hidup ini berproses. 
  3. Persiapan fisik.  Kesehatan, keterampilan keluarga misalnya memasak , dsbg.  Mendekati keluarga/memperbincangkan pernikahan dengan keluarga sejak dini, meski belum tahu siapa (calon) pasangannya. Bukan hanya sebatas kriteria pasangan dan pernikahan atau rumah tangga secara syar’i melainkan juga walimatul ursy yang syar’i - meski belum tahu (calon) pasangan. Perjuangkan sejak dini.
Lalu salah seorang peserta menyela, “Ustadz, kalau kita sudah bicara ini dan itu ke keluarga, namun  kita sendiri juga belum tahu  calon  pasangannya, lalu keluarga kita bertanya “Udah ada rupanya calonmu?” Apa baiknya jawab kita?”
“Jawab saja, Ibu, doakan. Semoga ia makin mendekat kemari.” Ekspresi beliau mantap, juaralah. Nah, kalau ditanya seperti itu, tiru ya di rumah, ingat dengan lembut namun tegas dan yakin, percaya diri. 

4. Persiapan finansial.


Sebelum lanjut ke sesi tanya jawab, beberapa peserta dari akhawat maupun ikhwan diminta kesediaan untuk menyebutkan kriteria pasangannya kelak, jawabannya tidak jauh-jauh dari shaleh/ah, ber-akhlakul karimah, bisa menerima diri dan keluarga, dan terdengarlah syarat khusus untuk calon suami dari salah seorang akhawat (mungkin akhawat pada umumnya, seluruh akhawat pun sepertinya, mungkin (lagi) biar gak ribet jelaskan ke keluarga) adalah tetap bekerja meski belum punya pekerjaan tetap, tetap berpenghasilan meski belum mempunyai penghasilan tetap.  “Aman, tidak ada yang menyaratkan ‘hati’, harta dan properti. Jadi, tunggu apa?” Celetuk moderator.  Hm, ternyata akhawat itu gak ribet.

Sesi tanya jawab.
Kali ini, peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Diskusi pun berlangsung cukup interaktif. Mulai dari pertanyaan sreg tidak sreg di hati, sekufu, mengajukan syarat sebelum akad, peran pernikahan dalam dakwah, istikharah, dan sebagainya.
Baiklah, inilah jawaban yang tercatat secara garis besar.
Nikah itu sunnah nabi, identitas seorang muslim (pernikahan dalam islam adalah perihal yang cukup tampak membedakan dengan agama lain). Berbeda meninggalnya seseorang yang sudah menikah dengan orang yang telah menikah.
Setaqwa-taqwa Rabi’ah ad-dawiyah, tidak akan menyaingi Rasulallah shollallahu ‘alayhi wa sallam dalam ketakwaan, dan Rasulallah menikah.  

Dari Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Ada sekelompok orang datang ke rumah istri-istri Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam , mereka menanyakan tentang ibadah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam. Setelah mereka diberitahu, lalu mereka merasa bahwa amal mereka masih sedikit. Lalu mereka berkata, “Dimana kedudukan kita dari Nabi sholallahu ‘alayhi wa sallam, sedangkan Allah telah mengampuni beliau dari dosa-dosa beliau yang terdahulu dan yang kemudian”. Seseorang diantara mereka berkata, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan shalat malam terus”. Yang lain berkata, “Saya akan puasa terus-menerus”. Yang lain lagi berkata, “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya”. Kemudian Rasulullah datang kepada mereka dan bersabda, “Apakah kalian yang tadi mengatakan demikian dan demikian ?. Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan orang yang paling bertaqwa kepada Allah diantara kalian. Sedangkan aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan aku mengawini wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Bukhari, Muslim dan lainnya]

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah.” (HR Bukhari). Ketika seseorang  yang telah berkeluarga memiliki keturunan, lalu ia meninggal, doa anaknya yang sholeh merupakan amal jariyah baginya. Pahalanya terus mengalir meski umurnya sudah habis di bumi ini.

(Azzamkan atau persiapkan diri untuk menikah, perihal lain jika ajal lebih dulu datang ketimbang jodoh. Yang penting sudah meniatkan untuk melaksanakan sunnah Rasulalllah. Ingat, meniatkan dengan mengangan-angankan itu berbeda, usahah yang membedakannya).
  • Penyemangat agar menyegerakan pernikahan  (untuk semua yang belum menikah, ikhwan khusunya, untuk akhawat sing sabar wae yo, tetap persiapkan diri).
“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan).” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).

Sudah mantap ingin melangkah, tapi jadi ragu karena merasa finansial belum mantap?
“Lalu, kapan mantapnya, akhi?” Todong pemateri kepada para ikhwan. “Ingat, dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu.” (HR Hakim & Abu Dawud).”

“Setiap manusia sudah diatur, ditetapkan oleh Allah rezekinya. Maka, bukankah ketika digabungkan rezeki dari kedua orang itu, maka akan bertambah banyak, ditambah lagi dengan rezeki anak-anaknya. “  Sambung ustadzah Fanti,  benar-benar duet yang kompak.
Dang ingat pula,  ketika menikah karena Allah, karena agama ini,  Allah tidak akan meninggalkanmu. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu dia berkata: Aku pernah berada di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, lalu beliau bersabda: “Wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kau akan menemui-Nya berada di hadapanmu. Bila kau meminta maka mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberimu manfaat, niscaya mereka tidak akan memberi manfaat apa pun kepadamu selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk membahayakanmu, niscaya mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (penulis takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (tempat menulis takdir) telah kering.” (HR. At-Tirmidzi)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MEMAMPUKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS An-Nuur: 32) 
“Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS At-Thalaq: 2-3)

(Ayat dan hadis di atas cukup menguatkan bahwa menikah karena menjaga agama ini dan diri sendiri dari syahwat yang bisa saja dilampiaskan pada maksiat terang atau tersembunyi,  tidak ada yang akan menyebabkan kebangkrutan. Bertobatlah bagi pemuda yang takut melangkah ke jenjang pernikahan tapi ragu-ragu karena khawatir bangkrut atau MERASA terlalu papa karena belum memiliki yang serba pribadi.. ).

Salah 1 perusak amalan  adalah syahwat.  Salah satu penghalang doa kita dijabah Allah adalah maksiat yang ada pada diri.
  • Sekufu
Apakah sekufu itu?
Sekufu (Al-kifa'ah)  menurut bahasa adalah kesamaan (Al-musawah). Al-kifa'ah menurut istilah Fuqaha' adalah kesamaan antara suami istri dalam berapa perkara yang telah ditetapkan oleh syari'at untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami.
Pemateri  menegaskan, “Yang penting agamanya. Mereka punya frame, paradigma, cara pandang yang sama. Sehingga mampu  melihat jalan yang akan dihadapi beserta persoalan-persoalannya dengan sama (tidak penuh pertentangan/perdebatan).  Jangan kaku melihat latar belakang pendidikan, apalagi hal-hal seperti  warna kulit, tinggi badan, dsbg.
Apakah itu sekufu dalam nasab, materi, latar belakang keluarga, yang terpenting adalah agamanya.

Sebagaimana hadis Rasulallah,
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

  “Dari Jabir radiyallahu ‘anhu, Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam,  telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

(perihal sekufu, yang terpenting agamanya, mengingatkan pada QS. An-Nuur:3 “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.”)
Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.. “…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-hujuraat:13).
Menikah itu bukan coba-coba, pun ta’aruf bukan coba-coba.   Sungguh lebih baik jika dimulai dari start yang sama (pemahamannya).
  • Akhawat, bersabarlah..
(Jangan asal pilih meski ketika usia tak lagi remaja, keluarga dan kerabat beramai-ramai menawarkan nama. Jangan batasi Allah dengan keinginan kita. Pertimbangan dan pengetahuan  terbatas.  Tetap jaga prasangka baik kepada Allah. Allahu ya’lamu.. )

“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah:216)

(ini mengingatkan pada pepatah arab yang termakhtub kembali di novel Ranah 3 Warna, man shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung, sabar tidak sama dengan menunda-nunda).

“Kenapa akhawat tidak sedikit yang lama menikah?” Pertanyaan seorang peserta.
“Karena Allah mencintai. Siapa yang jamin kedurhakaan pada Allah akan mempercepat datangnya jodoh? Siapa yang jamin?” Yah.. ustadz mana ada yang jawab, mana ada yang bisa dan berani jamin..
“Bukankah Allah akan menguji hamba yang dicintainya?” sambil menekan tuts-tuts saya mengangguk.

"Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar." (Al Imran: 146)
  • Bertanyalah pada diri sendiri, “Keluarga seperti apa yang kita rancang untuk keluarga kita (kelak)?”
“Jangan terlalu percaya diri nasihat kita akan menyentuh hati, hidayah milik Allah.”
“Orang yag baik agamanya ketika marah tidak akan memukul. Pukulan pasangan akan lebih sakit dibanding pukulan guru semasa SD.“
  • ISTIKHARAH
“Istikharah; menyediakan hati yang lapang, dalam berdialog dengan Allah untuk mengambil keputusan. Istikharah itu jangan ada niat dari awal menolak, tidak ada manfaatnya.”
(Tanpa menyebutkan nama seseorang yang kita harapkan, Allah sudah tahu yang kita maksud. Mintalah yang terbaik menurut Allah.  Allah lebih mengetahui).

Catatan lainnya:
  • Mengazzamkan atau mempersiapkan diri untuk menikah, perihal lain jika ajal lebih dulu datang ketimbang jodoh. Yang penting sudah meniatkan untuk melaksanakan sunnah Rasulalllah.
  • Tidak boleh interaksi itu membanding-bandingkan.
  • “Apabila datang kepadamu seorang yang engkau sukai agama dan akhlaknya untuk mengkhitbah, maka terimalah! Kalau tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar dii muka bumi” (HR.Tirmidzi).
  •  Doa istri kepada suami mustajabah dan sebaliknya.
  • Sebuah pernyataan: “Yang tidak mendapat kasih sayang membuat seseorang sulit membagi kasih sayang”.
  • Nah, ini agak fenomenal mendengarnya. “Sebejat-bejat lelaki, menginginkan perempuan sholehah untuk menjadi istrinya dan ibu dari anak-anaknya.”
  • Luruskan niat karena Allah, jaga kebersihan hati. Umar bin Al Khattab Radiyallahu ‘anhu berkata, “Saya mendengar Rasulallah sholallahu ‘alayhi wa sallam  bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, Muslim).
  • Seorang laki-laki dan perempuan boleh untuk menentukan syarat sebelum pernikahan. Misalnya, ia anak (perempuan) tunggal, dan ibunya sedang sakit, tak ada yang mengurus ibunya selain dia, atau pun kalau ada, ia ingin mengurus ibunya itu. Si perempuan boleh mengajukan syarat, agar diizinkan tetap tinggal dirumahnya, agar dapat mengurusi ibunya.
  • Bacalah sirah, Usamah bin Zaid. Sebelum menjadi panglima  di usia 18 tahun, Usamah bin Zaid  telah  menikah   dengan  Fatimah binti Qais  di usia  16 tahun. 
  • Cantumkan visi, misi menikah jika membuat proposal. Dan tak kalah penting, tak usahlah banyak gaya dalam foto proposal!

Akhirul qalam, di sini bukanlah tempat bergalau-an tralala, namun menemukan atau mengembalikan orientasi menikah pada jalur yang benar. Allahu’alam. (Ririn Anindya)

                                                                                                     -Maret, Rumah Cahaya FLP SU-
Created By Sora Templates