Kamis, 14 Juni 2012

Dua lembar surat yang ditemukan oleh seorang suami yang telah ditinggal istrinya dari dunia ini di sebuah lemari pakaian tua. .


Medan, 26 November 2011

Sayang, apa kau sudah makan? Kalau belum, kau harus makan dulu, baru kembali baca suratku. Aku tak rela suamiku kelaparan karena aku tak lagi memasakkan makanan untuknya.
Sayang, surat ini ku tulis saat kau sedang roadshow bukumu yang best seller itu. Bukankah ada terselip kisah kita di buku itu?
Aku menulis dengan rasa yang … entahlah. Entah bagaimana melukiskannya. Tapi, kau harus ingat: rasa bahagiaku menjadi istrimu, tak berkurang sedikit pun.
Pekan lalu, dokter menghubungiku, hasil tes kesehatanku sudah keluar. Kalau bukan karena ibu mertua, mungkin aku tak pernah merasa penting melakukan pemeriksaan itu. Aku masih sangat santai. Merasa sangat sehat. Mungkin karena sangat bahagia, jadi calon ibu, juga karena jadi perempuan yang halal memandangimu sesukaku. Istrimu ini, kadang-kadang centil juga ya? Tapi kan hanya padamu aku begitu.
Kau tahu, apa kata dokter itu. Dia kurang ajar sekali. Dia bilang calon bayi kita harus diangkat dari rahimku, karena jika tidak janin yang tidak berdosa ini bisa membahayakan ibunya. Karena suatu penyakit yang sulit sekali aku mengatakannya dan sudah memasuki tahap, tahap apa dia bilang, lupa. Cukup terlambat. Dia gila, kan?. Ingin kujahit mulutnya! Aku periksa ke rumah sakit lain. Eh, ternyata bertemu dokter yang sama kurang ajarnya. Dia juga bilang hal yang sama. Aku merasa tidak ada yang salah dengan calon bayi kita, bukan di rahim ini yang sakit, tapi hati ini sakit sekali, tak terperikan. Mereka tak tahu apa-apa, kalau aku punya 10 nyawa, 10 nyawa akan kuberikan semuanya! Bahkan kalau ada rentenir yang meminjamkan nyawa, aku akan datangi ia. Tapi tidak ada. .


Medan, 12 Desember 2011

Sayang, aku ingin segera melihat bayi ini lahir. Meski taruhannya harus meninggalkan dunia ini. Tapi bukankah mati itu pasti untuk setiap yang bernyawa? Aku memang takut sekali jika tidak bisa melihat wajahmu, senyummu. Tapi, entah bagaimana aku merasa, aku akan tetap bisa melihatmu dari mata anak kita nanti, menggenggam tanganmu melalui jemari lentiknya, bahkan bisa bergelayutan di pundakmu. Meski dia bukan aku. Aih, kenapa harus 9 bulan 10 hari, sih ? Kenapa aku harus menungu 5 bulan lagi? Ya Rabb, masihkah ada waktuku? Aku ingin sekali bisa membuat foto keluarga: ada kau, aku dan anak kita. Bagaimana kalau kita ke studio foto yang ada di simpang tiga itu? Tempat kita berdua pernah berfoto dulu, sesaat setelah akad, kau setuju?
Sekarang, aku sudah benar-benar merasakan, sesuatu yang tidak biasa memberontak di dalam tubuhku, mereka serentak menggerogotiku. Mungkin dokter itu ada benarnya juga, sampaikan maafku karena pernah memakinya. Tapi, maaf lagi, aku adalah pasien yang keras kepala. Aku masih bertanya-tanya, masihkah ada waktuku? Mampukah tubuhku ini bertahan? Aku harus bisa. . Tapi, kalau tidak bisa, kau harus bisa menerimanya. Maafkan, Sayang. Aku ingin sekali mengatakannya padamu, tapi setiap kali ingin mengatakannya setiap itu pula mulutku terkunci.
Sayangku, setelah aku pergi. Kau boleh menikah lagi. Bahkan sesaat setelah aku dikebumikan. Namun baiknya kau tunggu saja sampai tanah kuburku kering. Kau tahu kan, bagaimana ayah mertuamu mencintaiku, bagaimana cerewetnya ibuku, kau harus jaga perasaan mereka. Kau pasti tahu, kau kan sudah pernah melalui masa-masa merampasku dari tangan mereka. Carilah pendamping yang lebih baik, yang takut kepada Rabbnya, tapi tidak boleh lebih cantik, ingat itu! Hm, bagaimana kalau kita buat sebuah strategi. Jangan kau pikir aku sedang mengajakmu mengelabuhi Allah. Kita tidak mungkin bisa dan tak berani. Aku sedang mengajakmu menagih janjiNya, kira-kira seperti ini ya bunyinya? “Ridho suami adalah syurga bagi istrinya”, bukan begitu? Bukankah Ia yang paling menepati janji? Kau wajib ridhoiku selama aku menjadi istrimu, ridhoi pula kepergianku, agar aku bisa menunggumu di surga dan kau harus jadi manusia yang baik.. agar kita bisa bertemu lagi, di antara para bidadari nanti ada aku disitu. Tapi tolonglah ketika saat itu tiba, matamu jangan jelalatan pada para bidadari itu, ya? Aku bisa cemburu. Rasa cemburuku, kubawa sampai surga. Ah, belum pergi saja aku sudah sangat rindu padamu.
Pada akhirnya aku menyadari, bahwa Allah itu Maha Baik, dia sangat menyayangi kita. Buktinya, begitu banyak nikmatNya. Salah satunya, Ia telah mempertemukan aku dan kamu, dan kamu telah memberiku rasa bahagia menjadi calon ibu dari anakmu. Meski mungkin hanya sebuah rasa. Aku tak pernah menyesal. Sedikit pun tidak. Allah mencintai kita, lebih dari yang kita tahu. Ia sedang menyiapkan kejutan lain untuk kita, kebahagiaan yang tak terperikan, aku percaya itu. Aih, sayang.. jadi rindu ingin segera bertemu denganNya, maaf ya jika duluan. Kau harus jalani hidup ini dengan bahagia, denganku atau tanpaku, dengan anak kita atau tanpanya, tapi harus dengan Tuhanmu, penciptamu. .

Ririn Anindya
-Rumah Cahaya. November 2011-

0 komentar:

Posting Komentar

Created By Sora Templates