Minggu, 30 April 2017

[Review] Menjajal Oppo F3 Plus dalam Wisata Samosir

Awak media dan blogger di Simanindo, Samosir.
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 18 -  19 April 2017, alhamdulillah berkesempatan mengikuti #OppoSelfieTour2017 ke Parapat dan Samosir bersama para blogger dan awak media. Menjajal camera phone yang harganya lumayan buat bantu-bantu calon suami bayar tenda nikahan: Oppo F3 Plus. Thank you kakak manis, sudah menyertakan saya.

Brand ambassador Oppo
Bintang iklan ponsel ini pun tak tanggung, mulai Bella, Raisya, Isyana, dan lain-lain, dan baru-baru ini Raline Shah. Agaknya wajar menarik keingintahuan publik. Ya, walaupun mbak - mbak di atas, foto pakai kamera VGA juga udah cakep. Hanya lagi memang, pesona semakin jelas ketika kamera semakin mumpuni menangkap.

Mengusung tajuk "Selfie Expert", sebenarnya apa saja amunisi yang dimiliki Oppo F3 Plus untuk menembak hati pasar? Dan seperti apa kesan saya terhadap ponsel ini? Mana tahu kan ya bisa jadi pertimbangan bagi kawan-kawan yang berencana memiliki.

1. Desain
source itc.ua
Bahan Oppo F3 Plus berupa metal, dengan pilihan warna gold atau black, terlihat classy. Ponsel 6" ini memiliki ketebalan 1,78 mm. Dilapisi gorilla glass 5 melindungi layar ponsel dari benda tajam yang mungkin bisa melukainya.

Nyaman sih dalam genggaman, tapi untuk orang yang ceroboh seperti saya, ya mesti hati-hati juga. Mungkin akan lebih aman kalau menggunakan mobile phone ring stand. 

Memangnya ponselnya kalau terbanting, rusak?
Enggak tahu, soalnya enggak tes sampai membanting ponsel. Kalau kata Pak Polantas, safety first.

Dalam genggaman
2. Baterai dan Teknologi VOOC Flash Charge
Jadi dengan teknologi ini, charge ponsel menjadi lebih cepat. Teknologi pada Oppo F3 Plus juga membuat ponsel tidak mudah panas. Sedang baterainya sendiri berkapasitas 4.000 mAh.

Setahan apa ya baterai 4.000 mAh, itu?
Bisa stand by untuk sepekan dengan pemakaian biasa. Namun kalau pemakaiannya aktif seperti internetan, merekam video, foto-foto, telepon gebetan, tahannya sehari. 

3. Penyimpanan dan Prosesor
RAM 4GB turut mendukung ponsel ini, dengan penyimpanan internal 64 GB. Kapasitas bisa ditambah dengan micro SD hingga 256 GB. Sayangya, penambahan micro SD hanya bisa kita lakukan ketika menggunakan satu sim card. Dengan kalimat lain, kalau kita mengunakan dua sim card, maka kita tidak bisa menambahkan micro SD.

Chipset yang ditaman vendor asal Tiongkok pada tubuh Oppo F3 plus adalah Qualcomm Snapdragon 653 dengan prosesor Octa-core 1.96 GH.

4. Kamera
Namanya juga camera phone ya, tentu yang paling menjadi nilai jual adalah kamera.

- Dua kamera depan


Selfie with Oppo F3 Plus
dalam bus yang berjalan dan cahaya yang tidak stabil
Kamera depannya itu ada dua, yang satu 16 MP dan yang lainnya 8 MP. Yang 16 MP ini menyajikan tangkapan yang jelas, ada aplikasi beautify juga, namun tetap terlihat natural. Ya tapi kurang-kurangilah pakai filter. Nah yang 8 MP, wide angle hingga 120 derajat. Cocok untuk wefie-an, enggak terlalu khawatir ada yang enggak terfoto.

wefie with Oppo F3 Plus, di Istana Koki Medan
Awalnya saya pikir, walaupun kameranya kece, tentunya jadi enggak begitu berguna untuk saya yang jarang foto selfie, oke ini pencitraan. Saya selfie tapi jarang nge-pos di medsos. Namun ketika saya coba untuk video, saya pikir akan cukup mendukung untuk kawan - kawan yang mau nge-vlog. Jadi bisa langsung lihat posisi kita, begitu. Kualitas hasil rekaman juga jernih. Hasil video saya pos di akun instagram @ririn_anindya.

- Kamera belakang


Kamera belakang Oppo F3 Plus. Pinggiran Danau Toba.
Sama-sama 16 MP, yang membuatnya berbeda adalah tambahan Sony IMX 398 ditambah teknologi PD AF sehingga lebih cepat mendeteski objek, jernih dan tajam meski di daerah minim cahaya.

Kamera belakang Oppo F3 Plus
membelakangi cahaya, sekitar jam 6 sore

- Bokeh
Fitur bokeh ini dapat membuat kita lebih fokus dengan objek yang mau kita tangkap. Fitur ini dapat membuat blur image di belakang objek yang kita fokuskan.

Foto makanan dengan Oppo F3 Plus. Di Restauran Orari.
5. Hal Lainnya
Ponsel ini tidak tahan air. Jadi jangan suruh dia mandi. Hal lain yang penting diketahui, jelas, harganya. Yakni Rp 6.500.000 kembali Rp 1.000.

Recommended to buy?
Kalau kata mamak-mamak di Medan, "Kalo sor, cocok ko rasa, sesuai sama kebutuhanmu, ada uangmu, gak ngutang-ngutang, bolehlah ko beli itu."

Kalau saya pribadi, sepertinya akan benar-benar mempertimbangkan sebelum membeli. Sebab 6,5 juta kembali seribu, bukan nilai yang sedikit, setidaknya bagi saya saat ini.

Kece memang, namun sebaiknya membandingkan lebih dulu dengan ponsel lainnya dan tentu menyesuaikan dengan kebutuhan dan kantong.

Atau,  jika saya memerlukan kamera ponsel tersebut, saya akan ajukan pertanyaan: bagaimana kalau membeli kamera saja, misalnya kamera mirrorless atau mungkin go-pro mengingat suka ber-out door ria dan main di air?

Dalam ruangan terang, tanpa flash. With Oppo F3 Plus. Hotel Niagara, Parapat.
Oh ya, dalam rangakaian Oppo Selfie Tour 2017 Tour de Medan ini, bukan hanya jalan-jalan, cekrek-cekrek, atau perkenalan Oppo F3 Plus tapi juga ada workshop singkat tentang fotografi dan videografi yang digelar di Hotel Niagara Parapat.

Hiburan untuk video challenge
Enggak pernah berpikir beli tongsis,
sekali  dapat, suka warnanya.
Pembahasan workshop videografi diisi oleh Bang Ahmad Sanusi dari tabloid Pulsa. Sepertinya akan menyenangkan berbagi tips nge-vlog dari redaktur tabloid yang membahas gadget tersebut, di waktu mendatang.

Maaf, sampai di sini. Aku harus kembali.

Rabu, 26 April 2017

Sensasi Tiramisu pada Oleh Oleh Medan Napoleon


Sempat kesal? 
Ini serius. Beberapa waktu lalu, saya kesal melihat timeline instagram dibanjiri pos varian baru Medan Napoleon: Tiramisyou alias Tiramisu. Dari 1001 jenis kue, gorengan, cemilan, atau apalah di kota Medan. Kenapa harus Medan Napoleon yang di pos? Kalau kehabisan bahan pos cemilan, tanya lah sama yang suka ngemil.

Lelah saya pingin terus-terusan skip tapi eh tapi, jempol saya menahan. Hingga akhirnya, saya perhatikan tiap detail kue oleh - oleh dari Medan itu.


Gimana enggak kesal, varian Red Velvet bahkan Caramel yang sudah hadir lebih dulu, belum singgah ke lidah. Udah keluar varian baru aja!

Namun kesabaran itu berbuah manis. Karena, akhirnya berkesempatan menggigit kue yang berbalut bolu dan berisi pastri bertumpuk dengan krim khas di antaranya.

Tiramisu sendiri aslinya merupakan cake keju dengan taburan kopi. Lalu bagaimana pula Medan Napoleon Tiramisu?

Bagaimana rupa Medan Napoleon Tiramisu?



Begini : pastri berlapis-lapis, di mana tiap lapis nya diolesi krim manis, kemudian bolu coklat nan lembut membalut pastri itu, dan bubuk kopi melapisi permukaan terluar kue yang saat ini dibandrol seharga Rp 75.000.

Kue-nya bisa jadi berapa potong sih? 


Tergantung potongannya, kalau saya waktu itu bisa jadi 10 potong. Dengan ketebalan yang pas, enggak terlalu tebal dan enggak tipis. Di rumah saya ada lima orang penghuni  jadi pas, 5 potong pas ngemil sore, 5 potong lagi menemani sarapan. Kok kayak dijatah begitu jadinya ya, haha.

Pakai kopi apa?
Saya, sesungguhnya tidak paham amat soal kopi. Tapi menurut saya, jenis kopi yang membalur Medan Napoleon Tiramisu adalah jenis Arabika, karena rasa bubuk kopi tanpa gula-nya masih ramah di lidah saya.

Kemasan premium.


Keunikan lainnya ada di kotak yang terlihat lebih premium. Semakin lengkap dengan adanya informasi landmark kota Medan.

Sensasi rasa.
Tiramisyou memang menawarkan sensasi rasa yang berbeda. Aroma kopi yang harum dengan rasa khas kopi, pastri renyah, dan lapisan krim yang manis, dan tentunya bolu lembut.

Enaknya ditemani dengan minuman apa?
Meski di luar ada sensasi rada pahit dari kopi, tapi rasa ini akan terimbangi dengan krimnya. Dan, Medan Napoleon Tiramisu paling cocok disajikan dengan teh hangat tanpa gula atau air putih hangat


Jadi saat ini, varian mana yang jadi favorit kamu?

Kamis, 13 April 2017

Denok, Si Gadis Kecil dan Impiannya

Cerita Anak

"Bi, Denok enggak mau simpan uang lagi! Enggak mau nabung! Benci!" Semua diam. Mereka terkejut melihat Denok yang tak pernah marah sebelumnya. Denok berlari ke kamarnya dan menangis terisak. 

***

Denok, namanya. Kini duduk di kelas dua sekolah dasar. Ia tinggal di sebuah panti asuhan bersama tujuh anak lainnya. Ini adalah tahun ketiga ia tinggal di sana.

"Denok tinggal dengan bibi saja, ya? Nanti sekolah di sana. Di sini enggak ada yang jaga Denok." Bujuk bibi yang bekerja sebagai ibu asrama di sebuah panti asuhan, selang sepekan setelah kedua orang tua Denok meninggal dunia karena musibah kecelakaan lalu lintas. 

Awalnya, Denok tidak ingin pindah. Ia ingin setiap hari dapat menjenguk pusara bapak dan ibunya. Bibi terus berusaha membujuk hingga akhirnya gadis kecil berambut ikal itu pun menurut.

***

Meski sedikit pendiam, Denok adalah anak yang baik hati dan suka sekali membaca. Dua ratus meter dari panti, ada sebuah taman baca masyarakat yang bernama Taman Baca Mentari. Tempatnya kecil namun dipenuhi buku-buku yang menarik. Anak perempuan yang suka warna kuning itu senang sekali berlama-lama di sana. Kadang, dia bisa lupa waktu hingga dijemput bibinya.

Suatu hari di Taman Baca Mentari ia membaca sebuah majalah anak - anak yang berjudul "Si Otang yang Pandai Beternak". Dalam kisah itu, Si Otang memelihara ayam - ayamnya dengan teliti dan sabar, hingga ayam - ayam Otang pun bertelur puluhan butir. Sebagian telur ayam itu dirawat hingga menetas, sebagian lagi telurnya dimakan. Otang pun senang sekali makan telur rebus hingga badannya sehat dan kuat.

Denok yang melihat gambar Otang makan telur rebus dengan lahap, membuat ia ingin makan telur rebus juga.

"Besok aku tidak usah jajan, jadi uang jajanku bisa beli telur. Tapi kalau hanya beli satu, bagaimana dengan teman-teman yang lain? Oh, kalau aku tidak jajan seminggu, aku bisa beli telur untuk semua teman di asrama. Lalu kami bisa makan telur rebus sore-sore seperti Si Otang."

Denok tersenyum memikirkan rencananya. Setelah tujuh hari tidak jajan, Denok memberikan sepuluh butir telur kepada bibinya.

"Bibi, telurnya tolong direbus, ya. Nanti kita makan seperti si Otang yang ada di majalah."

"Jadi kamu menabung untuk ini? Kenapa tidak minta uang bibi saja?"

Bibinya tersenyum menerima plastik kresek hitam dari tangan mungil keponakannya. Denok menggeleng, lalu pergi meninggalkan dapur asrama dengan hati bahagia karena rencananya berhasil. Sesekali ia melompat karena senang.

***

Hari ini Denok bermain ke Taman Baca Mentari lagi. Saat ia pergi, cuaca matahari teramat terik, namun begitu ia sampai di tempat tujuan, tiba-tiba awan hitam menyelimuti langit dan penuh dengan suara gemuruh. Denok bingung, apa dia tetap masuk atau langsung pulang saja? Karena sekilas matanya menangkap ada majalah cerita Otang yang belum pernah ia baca. Dia sangat penasaran tapi kalau hujan deras dan tak kunjung reda, nanti tidak bisa pulang. Akhirnya Denok memberanikan diri meminjam majalah tersebut kepada paman penjaga taman baca. Syukurlah, paman penjaga mengizinkan. Denok pun berlari kencang agar tidak sampai kehujanan.

Kali ini judul ceritanya adalah "Si Otang yang Gemar Menabung". Denok salut pada Otang yang akhirnya bisa membeli sepatu roda impian tanpa meminta uang orang tua. Ia membayangkan jika ia punya sepatu roda pula, tentu gadis kecil itu akan bisa sampai ke taman baca lebih cepat. Namun segera Denok membuyarkan angannya.

'Jalanan di sini kan tidak mulus, banyak batu dan berlubang, mana cocok jalan-jalan pakai sepatu roda...' pikirnya, 'Aha! Beli sepeda saja!' ia mengganti angannya.

Bibi mengamati Denok dari balik pintu lalu menghampiri dan ikut membolak-balikkan halaman majalah.

***

Anak-anak bersorak gembira, mereka bertepuk tangan dan melompat girang ketika membuka sebuah kardus besar yang dibawa ibu asrama. Celengan!

dokumentasi pribadi
"Satu orang, satu celengan, ya!" Pesan ibu asrama yang juga bibi Denok.

Hari itu, Denok tidur memeluk celengannya.

***

Denok tak pernah lagi melewatkan sarapan. Ia tak ingin kelaparan hingga harus membeli jajan. Sebisa mungkin, ia menyisihkan uang sakunya. 

'Sabar, sabar.' Batin Denok ketika pedagang gulali lewat di hadapan.

Semenjak ada celengan, Denok lebih jarang jajan. Ya, Denok paling rajin menabung di antara teman lainnya. Meski begitu, bukan berarti Denok tak pernah lalai, ia kadang juga lupa menyisihkan uang dan keasyikan jajan. Pun pernah rasanya ia ingin menyerah dan membongkar celengan. Namun bibi selalu mengingatkan cerita tentang Si Otang, bibi juga menempelkan poster bergambar sepeda di kamar Denok, sesekali  mengajak gadis kecil yang gemar membaca itu ke pasar untuk sekadar melihat-lihat sepeda.

picture source https://infobdg.com
"Denok, belajar bersabar untuk mencapai tujuan itu lebih baik, daripada tidak bersabar dan tidak mendapatkan apa-apa di masa depan." Bibi berpesan.

***

"Bibi, seberat apa celengannya agar bisa beli sepeda?" Tanya Denok setelah hampir setahun menabung. Kawan-kawan Denok pun bergantian memegang celengan Denok, mereka ingin tahu sudah seberat apa.

"Wah, celenganmu sudah berat sekali. Ini bisa beli rumah. Punyaku sudah kubongkar." Dani teman sekamar Denok mengguncang celengan. Bibi pun mengambil celengan itu.

"Kita buka sekarang?" Tawar bibi.

"Minggu depan saja, Bi. Kan masih bisa nabung seminggu lagi sebelum libur sekolah."

***

Denok pucat, ia mematung. Segera ia mengintip ke bawah kolong tempat tidur. Menyusur seluruh sudut kamar. Meneliti ruang lemari. Ia berharap menemukan yang ia cari namun semakin lama harapannya semakin redup. Ia tak temukan celengan kuningnya. Ia mengulangi pencariannya, nihil. Pecahlah tangis Denok. Hilang sudah semangatnya untuk memiliki sepeda dengan keranjang di bagian depan.

Seisi asrama berkumpul membantu mencari tabung kuning berisi harapan Denok. Setelah lelah mencari, ibu asrama menghampiri anak-anak satu persatu dan menanyai mereka serta meminta berkata jujur. Tak ada yang mengaku. Ibu asrama turut sedih.

***
"Denok, benar kamu tidak mau lagi menabung?" Bibi menghampiri Denok yang masih duduk di depan pintu kamar.

Denok mengangguk.

"Kamu masih ingin punya sepeda?"

Yang ditanya tak mau bersuara. 

"Kamu tidak ingin punya uang untuk membeli buku-buku sebanyak yang di taman baca?"

Kali ini Denok menatap bibi.

"Jika ingin, bagaimana caranya?" Denok bertanya sembari membuang pandangan ke arah lain.

"Mengumpulkan sedikit demi sedikit.

"Tapi menabung itu tidak enak, nanti kalau hilang lagi, bagaimana?" Denok tentu belum lupa kejadian kemarin sore.

"Bibi masih ingat ketika kamu begitu senang membelikan telur untuk direbus dari uang tabunganmu. Kamu rasakan kan manfaatnya? Kamu sudah belajar untuk bersabar, Sayang!" Kenang bibi.

"Itu kan kalau tidak hilang." Denok beralasan.

"Nah itu, masalahnya karena hilang bukan karena menabungnya." Bibi membelai kepala gadis kecil di sampingnya, "Daripada uang sakumu habis tak bersisa untuk membeli yang kamu tidak impikan, lebih baik kamu kumpulkan, jadi di masa depan kamu bisa menikmatinya."

"Jadi bagaimana?" Denok masih belum yakin.

"Pertama, kamu tetap bisa menabung di celengan tapi pastikan aman. Kedua, kamu bisa titip ke bibi, kamu catat jumlahnya setiap kali menabung, atau kita buka tabungan pelajar atas nama kamu sendiri, mungkin kita bisa seminggu sekali ke bank."

"Bank?"

"Ya, bank. Bank itu seperti kantor, tempat orang-orang bisa aman menabung." Bibi menjelaskan sesederhana mungkin.

Tapi..." Denok belum yakin.

"Kamu pasti berhasil, kan kamu pernah melakukannya."

***
picture source https://alibaba.com
Denok meminjam dua buku dari taman baca Mentari, ia letakkan kedua buku di keranjang sepedanya. Sepeda baru yang ia beli sendiri dari hasil menabung. Ada rasa puas pada tiap kayuhan gadis yang kini duduk di bangku kelas lima SD itu.

"Mememang ya, bersabar untuk bisa mencapai tujuan itu lebih baik daripada tidak bersabar lalu tidak mendapatkan apa-apa." Denok berceloteh sendiri, seakan ia tengah mengobrol dengan temannya, si sepeda barunya.

***

Cerita ini didukung oleh Bank Sumut.
#AyoKeBankSumut
#BanknyaOrangSumut
Created By Sora Templates