Kamis, 29 Oktober 2015

Awesome Journey: Lampung #1

Sambungan dari part pendahuluan.

Jumat, 18 September 2015    

Keberangkatan dari Medan

Hari itu hanya tidur 2 jam. Jam 02.30 pagi sudah terbangun, jam 4 kurang 10 sudah berangkat ke Kuala Namu diantar adik. Jalanan sangat lengang, dan jam 04.45 pagi sudah tiba di bandara, sebab pesawat akan terbang jam 05.50 WIB. Enggak sempat sarapan, makan malam juga lupa. Alhamdulillah di perjalanan menuju bandara ada mini market yang buka, jadi beli roti dan cemilan, plus gembok tas – sesuai pesan ibu.

Ini kali pertama naik Lion Air, meski pernah melihat berita maskapai ini delay, tapi dua kali teman-temanku ketinggalan penerbangan Lion. Dua – duanya anak FLP pula tuh, FLP Riau dan Sumut – dengan ceritanya masing-masing :D. Dan jelas, enggak pingin ini terjadi padaku. Namun...

“Maaf Mbak, sudah terlambat, pesawat sudah akan take off.” Jawaban itu yang kuterima saat hendak check-in.

Kubaca tiket kembali, jelas keberangkatan yang tertera adalah jam 05.50 WIB.

“Penerbangan sudah dialihkan ke Batik Air jam 5 ini, sms sudah di broadcast, Mbak.” Begitu alasannya.

“O, saya tidak ada terima sms sekali pun, ini kantor (KEHATI) yang pesan, melalui travel langganan. Jadi, gimana?”

“Akan diganti (lupa berapa persen) dari harga tiket, smsnya mungkin ke travel, Mbak.” Petugas mencoba menjelaskan dengan ramah.

“Saya pikir tidak bisa begitu, Mbak. Apa sudah dipastikan bahwa penumpang memang menerima sms-nya? Teman saya yang pesan tiket juga enggak terima sms.” Aku udah tanya di grup WA dan ternyata Mbak Jannah (KEHATI) juga enggak ada terima sms apa pun. Juga enggak bisa langsung cus ke pesawat kayak naik bus, pun secara ada bagasi T_T, efek nge-pak barang dadakan, jadi bawaan... yah begitulah.
Ransel isinya Bluwy, buku, charger, alat tulis, dompet.
Yang tas tenteng isinya pakaian. Cuma itu, kok. Iya, cuma.

Kemudian dialihkan ke petugas lainnya. Petugasnya ramah-ramah. Akhirnya diberikan penerbangan yang jam 08.30 WIB, tanpa menambah biaya apa pun. Gagal lihat sun rise dari pesawat, tapi lebih baiklah dari pada gagal berangkat. Nah, waktunya mepet karena jam 12 siang, pesawat bakal berangkat dari Jakarta menuju Lampung. Dan di chat grup WA sempat berharap Garuda delay biar aku enggak ketinggalan pesawat, ahaha.
Bar code nya di-crop, supaya apa? :D
Jadi, menunggu sementara waktu di mushola bandara, sarapan roti yang kubeli di mini market. Dan akhirnya berangkat! Pas mau ambil boarding pass, aku minta bangku yang dekat jendela.  Hari itu kabut asap lumayan pekat.

Mbak Nataly (tim Awesome Journey juga) sudah bantu check-in-kan untuk penerbangan Jakarta - Lampung, ia lebih dulu sampai Soeta. Mbak Nataly berangkat dari Padang ke Jakarta pun pukul 05.50 WIB sebagaimana harusnya aku. Mekasi Mbak Nataly. :*


Tiba di bandara Soekarno - Hatta

Sampai di Soeta, menunggu barang keluar di tempat pengambilan bagasi. Slow motion, itu barang keluarnya kayak keong, mungkin karena faktor sedang terburu-buru. Manalagi masih harus naik shuttle menuju terminal 2F. Ah iya, ini kali pertama pergi naik pesawat sendirian. Biasa bersama keluarga, urusan bagasi adalah urusan abang, aku tinggal lenggak-lenggok keluar, om sudah menunggu untuk menjemput.

Yeay, finally kami ketemu setelah drama kucing-kucingan.
Pertemuan setelah cari - mencari. Yang laki-laki sempat sholat Jumat dulu


Selamat datang di Lampung!

Kami sampai di bandara Raden Iten, Lampung sesuai jadwal. Bandaranya tidak begitu luas. Jadi bandaranya berbatasan dengan tanah yang bisa dikelola warga - enggak perhatikan betul, itu masih kawasan bandara atau bukan. Pas landing, lihat keluar jendela, ada warga yang lagi bercocok-tanam. Hari itu juga lumayan terik.

Mas Rama (Alert/TFCA/KEHATI) sudah menunggu, menjemput kami. Ada dua mobil, tim Awesome Journey dan media di mobil yang sama, mobil lainnya para panitia.

Sekitar satu jam perjalanan (tepatnya enggak ingat berapa menit atau jam, masih jet lack, alah! :D) kami singgah di RM. Agam di kota Metro. Pesananku adalah pindang baung, itu rekomendasi dari mbak waitress saat kutanya apa yang paling diminati.

Biasanya enggak begitu tertarik dengan ikan yang basah-basah begini, tapi kali ini beda. Kuahnya segar, enggak amis, sedikit pedas, ditambah rasa gurih dari ikan, dan ada asam-asamnya. Ada pula daun kemangi dan potongan nenas yang direbus bersama ikan. Lalu di makan hangat-hangat bersama nasi yang hangat pula. Suka. Poto, mana poto? Jadi sebelum makan siang, aku sholat dulu, pas kelar sholat yang lain udah mau kelar makan. Jadi ya, enggak sempat foto. Terserah kalau mau anggap ini hoax, ahaha. Harganya sekitar 30 ribu, kalau enggak salah, jadi ini dibayari kan, ya.


Sekilas tentang Badak

Sambil makan, kami mengobrol tentang beberapa mamalia yang ada di Way Kambas. Salah satunya adalah badak. Senang sekali dengar cerita tentang para hewan dari teman-teman KEHATI, kita secara enggak langsung teredukasi jadinya.

Baru tau kalau badak Indonesia itu sudah sangat-sangat langka alias terancam punah, bahkan belum tentu penduduk yang tinggal di Way Kambas itu pernah melihat badak.

Badak Jawa berbeda dengan badak Sumatera, badak Jawa bercula satu sedang badak Sumatera bercula dua. Badak adalah hewan yang pemalu, bahkan ada cerita, ada yang ketemu badak. Dianya lari, badaknya juga lari. :D. Badak juga tidak suka keramaian, hidupnya biasa diisi dengan kesendirian *tos, loh?

Perjodohan dan perkawinan antar badak juga enggak se-sederhana hewan biasanya, mesti sama-sama mood, kalau pun mood, badak mood-nya cuma bertahan 4 hari, jadi timing-nya sulit.

Teman-teman KEHATI juga bercerita tentang kisah cinta badak bernama Andalas dan Ratu, dan anaknya bernama Andatu. Ratu pernah keguguran dua kali, loh T_T. Oya, sebelumnya Andalas sempat tinggal di Kebun Binatang Los Angeles, lalu dipulangkan ke Indonesia, pakai acara penyambutan. Sedang Ratu memang berada di Indonesia. Ah, jodoh emang enggak kemana, ya. (Jodoh emang enggak kemana, tapi untuk bersama ya harus ada ikhtiar, ada jalan yang mesti ditempuh. Jadi, kapan ke rumah? *Plak, apa-apaan ini, ahaha).


Ini desa ekoswisata: Desa Labuan Ratu-9

Sekitar jam 5 sore kami sampai di desa Labuan Ratu-9. Di desa inilah akan menginap selama beberapa hari ke depan. Desa ini merupakan salah satu gerbang masuk Taman Nasional Way Kambas. Kami bergabung dengan anak-anak BW (Biodiversity Warriors) yang sudah sampai beberapa saat lebih dulu, mereka berangkat dari Jakarta sekitar pukul 7 pagi naik bus.

Kami menempati beberapa home stay. Jadi, masyarakat di desa ini umumnya sudah sadar wisata. Konsep desanya juga konsep desa ekowisata. Di home stay tempat kami berhenti, di depannya ada masjid yang lumayan luas. Sedang home stay tempatku menginap, perlu jalan beberapa meter lagi. Aku sekamar dengan Mbak Nataly (tim Awesome Journey), Mbak Jannah sekamar dengan Mbak Shita (KEHATI), terus Jane sekamar dengan Stephie (magang di KEHATI, mereka berasal dari Canberra). Satu home stay ada beberapa kamar dan lumayan nyaman. Ibu penunggu home stay juga sangat ramah, aku bahkan bisa numpang cuci - jemur *_* . Konsep home stay ini bagiku cukup menyenangkan, kita jadi bisa ngobrol banyak dengan warga setempat, sehingga dapat informasi tentang daerah ini jadi lebih mudah.

Home stay tempat mbak-mbak kece menginap. Lingkungannya aman.
Motor diletak dengan kunci enggak bakal hilang - mudah-mudahan
(tapi kita radius 5 meter dari motor lah :D)
Malamnya, kami semua makan bareng dan saling berkenalan (para BW, tim Awesome Journey, tim media, panitia), ditambah pemandu yang berasal dari masyarakat setempat - Mas Hartanto. Sebagian panitia sudah kenal tempat ini, misalnya Mas Rama yang memang mengabdi di daerah ini.

Malam perkenalan.
Yang paling kiri dan kanan di foto ini adalah Mbak Nataly dan Bang Pring.

Anak-anak BW juga dapat tugas untuk mengamati lingkungan dan melihat aspek-aspek yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan desa ekowisata ini dan Way Kambas umumnya, yang nantinya akan dibuat semacam katalog.


Hari-hari selanjutnya akan berisi petualangan dan pelajaran. Menjelajah Way Kambas, pembekalan beberapa materi (kepenulisan & photo story), bertemu dengan gajah (apakah aku bisa peluk gajah?), berdiskusi dengan para penggiat lingkungan, menikmati tiap sisi desa ekowisata, mereguk keramah-tamahan warga, dan tentu kebersamaan yang tercipta.

Sebelum tidur, sms ibu, beri kabar dan ucapkan terima kasih. Tanpa dukungan dan ridho ibu, serta doa-doanya di waktu yang seringkali tidak diketahui, kita ini apalah. 

-bersambung - 

Selasa, 27 Oktober 2015

Awesome Journey: Lampung #Pendahuluan

Pendahuluan (memang makalah?)

Rin selamat ya, lo terpilih ke Waykambas

SMS Indri mendarat di hapeku tanpa kekurangan satu apa pun, termasuk pulsa – karena ada bonus sms katanya. Terima kasih, Ndri. :*

'Ngapain ke Waykambas?' Pikirku.

Ternyata ini karena terpilihnya cerpen yang diikutkan Writing Competition Awesome Journey dari Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com. Alhamdulillah, terima kasih atas apresiasinya.

Sebelumnya, apresiasi – jika terpilih -  adalah perjalanan ke Jambi dan terangkumnya cerpen dalam satu buku antologi. Bagiku, dipublikasikan pada buku antologi ini penting karena waktu itu kutulis cerpen sebab rasa yang seringkali bergemuruh ketika menyinggung nasib Orang Utan, disusul terinspirasi dari perjalanan ke Leuser pada 2010, dan kuingin lebih banyak orang yang membacanya. Ya, kusadari dari sisi penulisan masih sangat banyak yang harus dibenahi.  

Singkat cerita, perjalanan ke Jambi berubah menjadi ke Waykambas - Lampung, dan baru tahu saat Indri memberi kabar, mungkin karena asap (?)

Jelas enggak lupa, terima kasih untuk grup Nulis Random, yang udah saling menyemangati, dan asli menjelang deadline itu grup BBM berisik. :D. Dan tentu terima kasih untuk ibu yang dukung hobiku - walau ibu enggak bakal baca blog aku ini.

Selang dua hari dari menerima kabar tersebut, panitia menghubungi via telepon dan email. Dan kami membuat grup WA untuk kordinasi dengan dua peserta terpilih lainnya (Mbak Nataly dan Bang Pring).

Tanggal 18 – 21 September 2015, menjadi tanggal yang dipilih untuk awesome journey to Waykambas ini, tapi aku baru pulang ke Medan di tanggal 22-nya. Sebab, penerbangan langsung ke Medan tanggal 21, adanya jam 2 siang, sedangkan kami akan baru sampai Bandar Lampung dari Waykambas sekitar jam segitu. Jadi kalau mau ke Medan, mesti pilih penerbangan yang transit dulu ke Jakarta (dan itu menjelang malam), yang ujung – ujungnya bakal sampai di Medan tanggal 22 pagi, meski sebenarnya ada saudara yang bisa jemput – antar di Jakarta, tapi kayaknya bakal capek di jalan.

Jadi ya pilih nge-tem di Bandar Lampung, jumpa Maryam dan Tri Siswandi (pasangan muda – teman-teman di UKMI Ar-Rahman UNIMED dulu) dan Mbak Destiani (FLP Lampung), silaturahim sekalian keliling – keliling Ibu kota Lampung. Alhamdulillah, ada yang nampung aku, rezeki bekawan. :’)

Nah, yang ikutan Awesome Journey ini – begitu rangkaian kegiatan ini dinamakan, bukan hanya dari 3 orang yang terpilih pada kompetisi menulis cerpen (yang akhirnya 3 orang ini disebut tim Awesome Journey), tapi juga ada 10 Biodiversity Warriors disingkat BW (anak-anaknya kocak, ditambah pengetahuan dan ketertarikan mereka yang sangat tinggi pada keanekaragaman hayati), panitia (dari KEHATI) dan media (Mbak Sahnas dari Gogirl dan Bang Harianja dari Media Indonesia).

Para BW sudah kumpul sehari sebelumnya (tanggal 17 September 2015) di Jakarta dan menempuh jalur laut dari Jakarta ke Lampung keesokan harinya. Sedang tim Awesome Journey dan tim media melalui jalur udara.

Waykambas itu tempat apa? Nah akan kuceritakan. Awalnya juga enggak sangka menemukan banyak hal di Waykambas – yang sebelumnya kupikir tempat penangkaran gajah saja. Tapi ternyata ada banyak keanekaragaman hayati, cerita, dan desa ekowisata di sana.

Agak-agak flashback, Allahu’alam, Allah punya sebaik-baik rencana. Jadi sebelumnya, lepas lebaran lalu udah rencanakan perjalanan dengan teman – teman FLP Sumut mau ke Tangkahan yang ada gajahnya, pingin mandikan dan peluk gajah :’). Tapi akhirnya batal, karena uangnya kualihkan beli Bluwy (nama notebookku sekarang) karena Choky udah enggak terselamatkan (#RIPChoky, love u with all of our memories :*). Dan enggak tahunya dapat kesempatan lihat gajahnya di Waykambas. *Flashback over.

-bersambung, dipotong dulu, biar enggak kepanjangan. ^^

Kamis, 15 Oktober 2015

Training Competency Development Program (TCDP): Guru, Blog, dan Pengembangan Kompetensi

Guru adalah profesi yang memiliki beragam peran. Mereka merupakan pendidik, pengamat, fasilitator, dan pengayom. Mereka berdiri di depan sebagai pemberi arah, di tengah untuk menyemangati dan merangkul, serta di belakang untuk mendorong peserta didik.

Bak kata pepatah “Lain lubuk, lain ikannya”, guru di berbagai penjuru pun memiliki tantangannya masing – masing. Baik dari segi mata pelajaran, metode, bahkan juga lingkungan serta latar belakang siswa. Hal – hal yang guru alami di lapangan, sangat terbuka kemungkinan adalah hal – hal yang inspiratif, sebab profesi guru begitu lekat dengan maju atau mundurnya peradaban suatu bangsa – pernyataan ini tentu tidak berlebihan ketika mengingat bahwa pendidikan faktor penting yang mempengaruhi peradaban, ditambah kenyataan bahwa guru adalah profesi yang paling sepuh di muka bumi, yang tidak hanya berinteraksi dengan benda mati tapi juga mahluk hidup.

Sayang sekali jika hal – hal inspiratif atau solutif hanya disimpan oleh guru itu sendiri. Jika bisa membagikannya dengan orang lain, kenapa tidak? Siapa tahu ini menjadi jalan keluar permasalahan guru di bagian penjuru lainnya atau juga pintu wawasan bagi siswa bahkan masyarakat umum. Namun, yang jelas ini akan menjadi kontribusi dan ladang amal lainnya.

Jika ada kemauan, tentu ada banyak cara menuntaskan niat baik tersebut. Guru bisa secara aktif mengikuti forum diskusi guru, seminar, talkshow, atau yang lebih mudah, yakni dengan menulis di media cetak atau pun blog pribadi guru.

Pada 8 – 10 Oktober 2015, beberapa guru – tepatnya di Ponpes Raudlatul Uluum Aek Nabara, Labuhan Batu (Labat) dan Ponpes Ar-Rasyid Labuhan Batu Selatan (Labusel), telah memulai langkah awal ini; menjadi guru yang menulis, khususnya di media blog. Para guru tersebut mengikuti Training Competency Development Program (TCDP)  yang diselenggarakan oleh Djalaluddin Pane Foundation, dengan tema “Pelatihan Pemanfaatan Media Blog dalam Pembelajaran.”

Selain materi tentang menulis, para guru juga dibekali dengan materi pemanfaatan media blog: mulai dari pembuatan, penerbitan, membuat tampilan blog menarik, dan berinteraksi melalui blog. Tidak ada yang sia – sia, begitu pun pelatihan ini. Justru sebaliknya, sangat bermanfaat. Guru – guru yang berasal dari berbagai jenjang usia tersebut – seperti yang diyakini sebelumnya – mereka dapat berkarya dan berbagi melalui blog. Selain itu, mendengar guru - guru yang ingin komitmen untuk menulis dan berkembang, tentulah ini menjadi sebuah kabar yang membahagiakan dan lebih menyegarkan. 

Kegiatan Pelatihan,
Tim TCDP Labusel dan Labat

Created By Sora Templates