Jumat, 24 April 2015

Ketika Perempuan Menunggu Dua Pagi

Oleh Ririn Anindya Putri
(Telah dimuat di Harian Analisa pada 29 Juli 2012)

Sudah delapan bulan hanya telapak perempuan muda itu sendiri yang mengelus perutnya. Raba hangat ia tuju kepada jabang bayi yang mungkin lelap, mungkin juga terjaga dalam rahim-sebagaimana ia selalu harap. Sudah delapan bulan tak lagi ia temu lelaki yang menikahinya dua tahun lalu, meraba, mengecup, atau mengupingi rumah sementara buah cinta mereka, memeriksa  detak-detak kehidupan.  
Perempuan mana yang tak gaduh jika ia mencinta. Suami pergi, wujud tak kunjung pulang, kabar pun tak datang. Padahal tak pernah-pernah ia jumpa laku seperti itu, terpikir pun tidak. Itulah kini ia hadap. Keluh ia larung dalam. 
****

"Aku lurah di sini tapi dibuatnya anak perempuanku seperti itu. Habis nanti kubuat dia!" Laki-laki berkumis tebal wajahnya  merah masai. Tangannya memukul keras meja makan kayu jepara.  Berulang-ulang. 
"Pelankan suaramu, Pak. Kalau Ransih dengar hancur hatinya nanti, Pak. Bapak juga dulu yang ngotot Ransih nikah sama dia, kan? Bapak pula yang usir dia waktu itu, kan?"
"Dia sudah hancur, Bu. Dulu saja laki-laki itu baik tapi sekarang?" Ia tak lanjutkan ucapan. Pergi melongos. Hanya perempuan paruh baya kini tercenung di ruang makan dengan air mata yang siap tumpah. 
Sekitar satu  jam lalu, seorang kerabat bertandang ke rumah mereka. Niatnya hanya meminta dimudahkan pengurusan KTP. Tapi memang bakat si kerabat satu ini untuk mengobrol ngalur-ngidul.  Bermula cakap kerabat tadi dari katanya-katanya, sampai bercakap ia, "Katanya Si Apong lihat mantumu sama perempuan, usianya mungkin agak lebih tua tapi dandan mencolok perempuan itu. Nah, itu pekan lalu, waktu Apong bawa muatan sawit dari Labuhan Batu ke Panton."
Laki-laki menjabat lurah terkesiap, ia lonjak dari duduk. "Benar itu, Kak? Dimana?" Tamu yang disapa kakak, tak kalah terkejut. Rongga dadanya berdesir kacau. Ia sadar obrol santai suka-sukanya memantik api. Ia merasa tak aman, "Tak tahulah pastinya dimana, kudengar-katanya-di  kedai kopi di Langsa, Si Apong berhenti di situ saat lewat sana."
****

Pemuda berkulit sawo matang dan ramah anak tauke sawit adalah pilihan suaminya untuk putri mereka. Segala usaha mulai tutur manis sampai serapah suaminya lontar untuk mendekatkan putrinya dengan pemuda anak juragan sawit tadi.
"Lurah besanan sama juragan sawit. Cocok kan, Bu?"
Perempuan penuh bakti mengangguk. Ia  suka  calon mantunya bukan karena bapak si calon mantu. Sedangkan hati si anak perawan akhirnya tertambat pula.
Tak sedikit manusia mengamini kalimat hidup seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Tapi bagi suaminya, berharta ya berharta. Jangan disanding dengan kata: hidup susah. Namun, pil pahit harus suaminya kunyah tak boleh dimuntahkan, saat kabar bangkrut si besan tiba. Dan tentu pengangguran mantu tak terelak, sebab mantu bekerja di tempat yang sama. 
Dan kini, si mantu bekerja sebagai supir truk, itu pun serabutan. Setidaknya menyetir ia mampu. 
****

"Tak usah kau pulang kalau tak bawa uang." Matanya menyipit, ia berdesis hanya sejengkal dari wajah menantunya.
"Mau sampai kapan kau seperti ini. Menumpang dan menyusahi kami. Menantu kere!" lanjutnya, kali ini diakhiri dengan meludahi wajah menantunya.
Si lelaki yang disemat gelar kere, menelan ludah. Giginya rapat. Kedua tangan ia kepal kuat. Gemuruh terbit dalam rongga dada. Ia lari ke dapur dan mengambil pisau, lalu menghadiahkan setusuk saja di dada kiri laki yang mengutukinya. Namun, kesadisan hanya liar di kepalanya.  Ia merunduk. Harga dirinya lesap. Sayup terdengar isak dari kamar istrinya. Ya, istrinya menangis. Hatinya kian teriris. 
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi, jelas dengan istri saya."
"Hah! Mau tinggal dimana kalian? Mau dikasih makan apa putriku? Percaya diri sekali." Tantang si mertua, kali ini dengan menaikkan kedua lengan baju. Menunjukkan otot-otot kekar meski usia tak lagi muda. 
"Untuk sementara kami akan tinggal di rumah orang tua saya. Saya kan bekerja, Pak. Meski penghasilan saya jauh lebih kecil dibanding dulu."
"Orang tuamu itu sama saja! Hutang mereka juga tak mampu mereka lunaskan. Aku panas kalau melihatmu. Bisa kau pergi? Terserah mau kerja apa, gembong apa terserahlah, asal jangan melarat. Kau dengar itu? Atau kau ceraikan anakku!"
Isak dari kamar tak lagi sayup.  Tangis pecah menderu. 
****

Biji-biji air tumpah dari mata sang istri. Telah basah seperti telaga kaosnya kini. Ia makin rapat memeluk perempuan muda yang tengah mengandung dua bulan. 
"Aku tak pernah bantah mau bapakku, Bang. Tapi kini, aku hanya akan turut maumu saja,Bang."
"Bapakmu mungkin benar, Ransih. Aku menyusahi mereka dan kamu. Dulu harapannya terlampau besar padaku."
"Harga dirimu adalah harga diriku, Bang. Kita pergi saja dari sini, kita bukan lari. Kita telah sah menikah. Kita bukan pencuri. Kau ingat, dengan senangnya ia mengenalkan kita dulu, dengan bangga pula ia menikahkan."
"Kau yakin, kau sanggup?" Biji mata berkaca-kaca kini saling tatap. 
Ransih mengangguk yakin.
"Benar, Ransih. Kita tak salah. Aku bukan pencuri, aku hanya kere. Dan tak akan selamanya."
Keduanya gegas membungkus potong pakaian dengan sarung lusuh. Lewat tengah malam, rumah telah sepi, siapa saja tampaknya telah lelap. Saat itulah mereka jalan berjingkat-jingkat. Mengendap-endap. Mereka bukan pencuri, bukan sedang mencoba kabur. Hanya sepasang suami istri yang hendak menentukan nasibnya sendiri. Dengan cara baik mereka tak pernah peroleh izin untuk pindah rumah. Maka dengan diam mereka coba pergi kini. Padahal izin pindah bukanlah perkara wajib mereka kantongi. 
Pagar baru saja terlewat. Tiba-tiba sepasang tangan menarik tangan Ransih kuat. Sepasang kekasih itu sadar mereka ketahuan. Tangan kanan Ransih ditarik kuat oleh suaminya, tangan kiri ditarik oleh ayahnya.
"Lepas! Dia istriku!"
"Dia putriku!"
"Bapak, lepaskan tanganku! Kumohon!" Bukan melemah, tapi tarikan semakin kuat.
"Ijoool! Darmoo!"  Ayah Ransih meneriaki kedua ajudannya. Ijol dan Darmo tergopoh, hanya sekian detik mereka berdua telah sampai di tepian pagar.
"Bantu pisahkan mereka, gebuk saja laki-laki ini!" Tiga lawan satu. Genggam suaminya terlepas dari Ransih.  Ransih terjatuh. Suaminya dihujan pukulan. Mata Ransih yang melihat namun jantunglah yang terenyuh, teremas-remas.  Matanya melihat namun lehernya yang merasa tercekik.  Tepat di dada kiri kini begitu nyeri. Ransih menangis tanpa suara. Begitu sakit hatinya, tak ia rasa cairan merah alir kedua betisnya. Sesuatu telah terjadi menimpa janinnya.
"Pergi, Bang. Pergi, Bang! Kutunggu pulangmu, kutunggu, Bang!"
Ia melihat istrinya ringkih, rasa yang tak berbeda mendekap. Pedih. Ngilu. Mati pun tak mengapa bagi pemuda itu kini. Hanya tak sannggup melihat perempuan yang dicinta begitu teriksa. Ia mengangguk ragu. "Tunggu abang, Dek. Tunggu." Lelaki itu pergi dengan koyak luka di tubuh dan hati. Sesekali ia menoleh ke Ransih. Ransih, pandangnya tak berpindah sampai punggung suaminya lenyap dilahap jelaga malam.
****

Ia meraba perutnya. Perlahan penuh kasih sayang. Ia raba hangat rumah janin, buah cinta sepasang kekasih yang tengah terpisah, sembari memainkan jemarinya menjentik-jentik naik turun.
"Sayang, sudah sepuluh bulan kamu di sini, Nak. Kamu tak mau keluar? Kamu tunggu ayah pulang dari dalam sini, ya? Sudah sepuluh bulan, Nak. Tapi kenapa kamu tak tumbuh besar? Apa makan ibumu ini kurang banyak?" Air meluap dari ceruk mata kontras dengan senyumnya yang mengembang simetris. Adalah Ransih, perempuan muda yang tak pernah terima bahwa rahimnya telah kosong beberapa bilangan bulan lalu, tepat saat kepergian suaminya. 
****

Ia menghirup kepul aroma kopi perlahan-lahan dan dalam-dalam. Secangkir kopi aceh di kedai kopi bibinya. Belum ia teguk, ia letak kembali  di meja dihadapannya. Matanya yang tajam sarat akan kerinduan. Pikirannya rusuh setiap hari lebih dari separuh tahun, ia tak tenang. Tapi lelaki berkulit sawo matang ini kokoh ambil pilihan yang tak ia suka. Sebuah pena dan buku agenda dikeluarkannya dari laci. Kerap ia ratap kacau hatinya dalam doa atau carik kertas. 
Ransih, Istriku. Abang belum bisa pulang. Maaf tak bisa dampingimu sambut  buah hati kita tiba di dunia ini. Tapi  Abang janji sebelum anak kita pandai berjalan Abang sudah disisimu. Pastinya telah ada berkarung-karung rindu untuk keluarga kecil kita. Namun, itu semua tampaknya belum cukup untuk boleh membuatku pulang, sebelum ada sekarung uang untuk bapakmu.
****

Rumah Cahaya Medan,  April 2012.
Ririn Anindya Putri merupakan mahasiswi Jurusan Matematika FMIPA UNIMED. 

Senin, 20 April 2015

Temanku Seorang Super Saiyan (?)

dragonball.wikia.com

Asli, tengah buntu kejar deadline tulisan, tapi malah kepikiran sama teman dan tergelitik tulis tentang dia. Yanto namanya (bukan nama panggilannya). Istimewa amat ya nih anak? 

Aku curiga dia adalah seorang Super Saiyan level ascended, kalau kecurigaan pertamaku salah, maka kecurigaan berikutnya adalah dia sejenis I T - alien. Dalam penyamaran menjalankan misi tertentu. Tapi kalau salah juga, ya dia manusia - tapi manusia yang beda denganku.

'Kerjaan' dia di kelas pas kuliah cuma -atau seringnya- tidur, bangun waktu ada yang beli pulsa atau tanya tas jualanannya. Kalau tetiba dosen tanya dia, dia bisa jawab. Kalau aku tanya dia, ngakunya belum belajar, belum baca, atau malah tanya balik, "Apa itu?" . Kayaknya dia benaran emang belum tau, karena anaknya emang gak pelit ilmu kalau dia benaran tau - tapi ya itu, seringny bilang enggak tau.

Ujian dia lalui dengan santai, begitu juga untuk mata kuliah beraroma analisis, lancar. Bahkan untuk mata kuliah Analisis Real dengan dosen 'se-wow' Pak SS - yang mana dari 50 orang, lulus 3 orang. Dia termasuk yang lulus. Kalau mata kuliah yang lain? Teteup, dia mah amaaan. Ngomong-ngomong Pak SS, kalau ada teman sekelas ngobrol begini, "Nilaimu apa?", Dijawab, "Biasa". Biasa itu berarti E, sodara-sodara! 

Namun, sepandai-pandai cicak merayap makanannya nyamuk juga - apa hubungannya? Untuk mata kuliah Kalkulus Peubah Banyak, dia dapat E! Padahal aku aja dapat B. Tau kah kenapa? Karena kekuatannya hilang? Bukan. Tapi karena ketahuan tidur di kelas! Daebak.

Sabtu, 11 April 2015

Sembunyi



Sore tadi aku melewati sekumpulan anak-anak, seorang dari mereka berseru dengan angkuh, “Aku jagonya main petak umpet, tidak ada yang dapat menemukan kalau sudah bersembunyi!”  Teman-temannya tidak ada yang protes, tampaknya dia mengatakan kebenaran.

Aku tersenyum ganjil, ingin sekali rasanya mengenalkan anak laki-laki itu dengan lukaku. Lukaku juga jago sekali  bersembunyi, di balik senyum, di balik tawa, di balik tidur panjang, di balik kata, dan pada langit yang entah sebelah mana.  

“Hai, Dik,” Aku sedikit membungkuk, memegang kedua bahunya, menatap kedua matanya, “Kemampuanmu itu semakin dewasa akan semakin berkurang, karena kamu semakin jarang bermain. Sedang luka, semakin dewasa ia akan semakin mahir.” Mendengar kata-kataku, kedua alisnya bertaut, “Kakak ini bicara apa, sih?” Kali ini aku tidak lagi tersenyum tapi tertawa, “Sembunyi, lagi bicara tentang sembunyi.” Dia mengedar pandang ke arah teman-temannya , memastikan bukan hanya dia yang tak mengerti. Aku tinggalkan mereka bersama rasa penasaranku, 

“Hai luka, sekiranya kamu bermain petak umpet dengan anak laki-laki tadi, siapa yang terakhir ditemukan?”

Rabu, 01 April 2015

Review Dee's Coaching Clinic - Penulis Nasional Berbagi Pengalaman

Foto Bareng (Foto dari dokumentasi Kak Intan) 

Kurang dua pekan sebelum deadline resensi novel Gelombang – salah satu syarat ikutan Dee’s Coaching Clinic dan bila terpilih sebagai  resensi terbaik bisa lunch bareng Mbak Dee – aku beli novel Gelombang sampai 4 buku, 3 titipan. Gayanya mau ikut resensi, tapi enggak terkejar juga, sebab dikejar deadline lain dan belum baca  4 novel Supernova sebelumnya. (ini kali namanya berkilah). X_x

Alhamdulillah, rejeki enggak kemana, dapat kesempatan ikut melalui jalur undangan (berasa SNMPTN). Mekasih ya, Bentang! ^^. Jadi lah aku ikut. Ternyata ada 10 orang teman dari komunitas yang sama denganku (4 orang karena kirim resensi  Gelombang, 4 orang  juga dapat undangan, 1 orang karena nge-host, 1 orang enggak tahu darimana – lupa tanya- nemu aja di sana :D) .

Salah satu tujuan acara ini adalah menemukan dan menabur bibit-bibit penulis di Indonesia, roadshow ini diadakan di lima kota. Oya, undangannya kan dikirim melalui email, kita diminta konfirmasi undangan sekaligus kirim tiga pertanyaan. Hari H, tepatnya 22 Maret 2015, dengan semangatnya aku berangkat dari rumah nenek di Binjai nebeng Iyik a.k.a Ranger Ungu yang juga mau ke Dee’s Coaching Clinic di Hotel Santika Medan.
Hadir di lima kota

Acara dimulai pukul 10:06 WIB, begitu Mbak Dee masuk, udah deh, semua mata tertuju padanya. Berasa ada angin lembut  yang mengiringi Mbak Dee, semua berhenti begitu pun waktu, hanya Mbak Dee dan detak jantung yang berjalan. :D

Acara dibuka dengan pertanyaan Mbak Dee ke peserta tentang aspirasi masing-masing dalam menulis. Macam-macam jawabannya, aku enggak ditanya (ditodong), enggak jawab, aku masih terpikat. :D Oya, acara waktu itu juga dihadiri Mbak Ika Natasha, pertama kali tahu Mbak Ika Natasha di acara Tulis Nusantara, Mbak Ika sebagai salah satu pembicaranya.

Coffee Break pukul 11.00WIB, Love the coffee n' cheese cake

Mbak Dee ini enggak pelit senyum, ramah, dan seru aja, enggak jaim. Jadi bentuk pelatihanya lebih ke sharing. Kita tanya, Mbak Dee berbagi pengalaman. Kebayang kan gimana nikmatnya sharing yang enggak bersandarkan sama teori, tok? Kali ini aku tanya lah, khawatir pertanyaann di email gak sempat terjawab, para peserta lain pun antusias untuk bertanya. Ini poin-poin pengalaman yang dibagi:
  1. Ketika merencanakan sesuatu, kita harus membayangkan apa akhirnya.
  2. “Saya menulis bukan karena deadline, tapi deadline adalah alat saya menulis.” 
  3. Hal penting bagi penulis, tapi tanpa ini penulis enggak maju-maju, deadline!
  4. Konkritkan yang abstrak, salah satunya dengan membuat deadline, kita perhitungkan, berapa hari udah sampai mana tulisan kita, atau sehari berapa halaman.
  5. Personifikasikan ide, anggap dia seperti manusia, agar dapat menciptakan attitude positif terhadap ide dan bersahabat dengannya. Misalnya, kita lagi garap satu ide, terus muncul ide lain yang enggak ada hubungannya dengan karya yang sedang kita garap, kita bilang begini, “De (ide), nanti dulu ya, saya selesaikan yang ini dulu, entar kalau udah kelar, kamu bagus, kita akan jumpa lagi.” Karena bagaimana pun kita mesti kembali mempertimbangkan deadline. 
  6. Lalu bagaimana kalau kita punya banyak ide tapi setengah matang? Pilih satu dan commit!
  7. Ide yang paling cakep untuk digarap adalah yang serupa rasa gatal yang tak kunjung usai. Temuka ‘rasa gatal yang tak kunjung usai’ , di situlah ide penulis akan mengalir deras.
  8. Find your love and stick with it.
  9. Rutinitas menulis tidak akan mematikan kreativitas, justru rutinitas memberikan ruang dan kesempatan pada kreativitas. 
  10. Ada hari-hari di mana penulis hanya akan bengong di depan laptop, tapi ada hari-hari di mana menulis begitu lancarnya.
  11. Page turner membuat pembaca ingin membaca dan terus ingin membaca.
  12. Untuk menciptakan page turner diperlukan logika (logika kita adalah rangkaian sebab-akibat), perhatikan kalimat, setiap akhir babak tinggalkan tanda tanya, akhir dari keseluruhan cerita baru berikan konklusi. 
  13. Fiksi yang baik adalah fiksi yang seimbang, tubrukkan atau samarkan imajinasi dengan realitas, sehingga ia kan terasa nyata. Salah satu contohnya, misalnya mengenai Bukit Jambul (di “Partikel”) dan Kopi Tiwus (“Filosofi Kopi”). Mbak Dee berhasil menyamarkannya. Setelah mengetahui realitas Bukit Jambul dan Kopi Tiwus, ada yang mengemukakan ‘patah hati’ nya, karena ia salah duga selama ini. :D
  14. Lebih sulit jadi penulis yang enggak kelihatan, yang pembaca larut dalam tulisannya tanpa memikirkan siapa penulisnya dari pada penulis yang selalu diserukan pembaca tiap mebaca  kalimat dalam tulisannya, misal, “Gila nih penulis, keren banget diksinya!”
  15. Karakter / tokoh yang dibuat harus punya kebiasaan, karena manusia adalah makhluk yang dibentuk oleh kebiasaan. (Misalnya, kebiasaanku mikirin kamu. Kamu = makanan atau bangsa :D ).
  16. Conviction – keyakinan – adalah salah satu modal penulis.
  17. Bahan yang kita perlukan seperti apa dan seberapa banyak? Takar apa yang mau kita tulis, gunakan intuisi.
  18. Riset dalam menulis itu bisa wawancara, internet, pustaka, datang langsung ke lapangan.
  19. Dari riset ini biasanya hanya 10% yang digunakan, 90% nya diperlukan untuk conviction. Dengan kata lain, menulis fiksi pun kagak bisa ngasal. ^^
  20. Lalu bagaimana kalau ide cerita yang ingin kita tulis, udah pernah ditulis orang? Semua cerita bermain di angle – sudut pandang, temukan angle yang berbeda. Miliki bank data, gunakan ‘kamera penulis’.
  21. Menulis itu crafting – kerajianan.
  22. Please, kamu enggak mesti baru nulis ketika awal sampai akhir selesai.”
  23. “Enggak masalah jika antar bab belum runut, yang penting tidak berhenti menulis.”
  24. Someone can fix a bad page, but no one can fix an empty page.”
  25. Salah satu ciri cerita bagus, cerita itu bercerita kepadamu. 
  26. OK, poin 25 ini kesatuan dari beberapa poin mengenai tahapan atau proses kreatifnya Mbak Dee. Awal-awal menulis dulu, Mbak Dee mengawal proses kreatifnya dengan membuat timeline, jadi potongan-potongan cerita dirunut dalam timeline, penggalan waktu. Makin ke sini, karena banyak yang mesti dipersiapkan, timeline agaknya tidak cukup mengakomodir, Mbak Dee pakai metode Mind Mapping (peta pikiran). Lalu ditambah pembagian menjadi empat BAB, BAB I lebih ke pengenalan tokoh, setting, kenalan sama masalah – bibit-bibit masalah itu ditanam. Lalu BAB IIA dan IIB, nah ini konflik dituai, karakter keluar dari zona nyamannya, BAB III lebih ke penyelesaian – biasanya enggak panjang-panjang. Kalau aku ngebayanginnya, empat BAB ini dibagi seperti empat kuadran dalam koordinat Cartesius, entar di tiap BAB akan ditempeli note yang isinya adegan-adegan. Adegan merupakan satuan terkecil cerita, sifatnya dinamis. Adegan-adegan ini akan membantu ketika aroma-aroma mentok nulis mulai tercium. Mbak Dee juga membuat karakter tokoh, merangkumnya dalam satu halaman (bukan satu halaman novel, maksudnya untuk bahan gambaran karakter-karakternya gimana, jadi satu halaman itu dibuat seperti pengingat karakter atau pemandu pas menulis). Karakter ini bukan inti cerita, tapi karakter adalah ‘kuli’ yang mengangkut cerita dari awal ke akhir. 
  27. Dalam cerita Mbak Dee mengatur speed-nya, jadi enggak terus-terusan speed up. Untuk speed up gunakan narasi. Untuk speed down gunakan dialog.
  28. Challenge your self!”

Goody Bag ^^
Acara ini kelar sekitar jam 13.00 WIB, ditutup dengan book signing dan foto bareng. Terima kasih Mbak Dee dan Bentang, pertemuan ini sangat berkesan dan bermanfaat untuk saya. :)



Ada cerita pas acara kelar, aku dan beberapa teman menuju parkiran untuk ambil kereta (motor). Jadi ada satu teman yang heboh karena jok (tempat duduk) kereta enggak bisa dibuka, sedang jaket dan helmnya ada di bawah jok itu (bagasi kereta), disangkutin. Dengan muka muram sambil otak-atik kunci, dia bilang, “Padahal tadi bisa, enggak pernah kayak gini, enggak pernah macet.” Kita yang ngerasa iba dan lama nunggui dia, turun tangan bantuin, ada tiga orang yang secara bergantian cari cara buka tuh jok. 10 atau 15 menit kita sibuk karena itu, tau-tau dia bilang, “Eh, ini bukan kereta aku, kereta aku yang sebelah.” -__-“. Sayang, nih anak tetap enggak halal disantap, sekiranya bisa. :D

Created By Sora Templates