Sabtu, 13 Desember 2014

Marugame Udon & Tempura: Kelezatan ala Jepang, Pelayanan, Kenyamanan dalam Satu Paket


Invitation 
Datang ke Marugame Udon & Tempura, tujuan utamanya pasti lah makan, gak mungkinkan tujuan utama lihat mbak-mbak dan babang-babang kece (ahaha, walau pun mungkin saja terjadi,tapi itu bukan akuh, hu’um aku orangnya setia – setia sama kejombloanku). Setahun setelah hadir di Indonesia, restoran Jepang ini telah memiliki 13 outlet. Untuk para muslim, enggak perlu was-was dengan makanan dan minuman karena halal. Dan saat ini sedang dalam proses sertifikasi halal MUI. Direncanakan Januari 2015, sertifikasi halal restauran Jepang yang terletak di LG Sun Plaza Medah ini, sudah terbit. Selain halal, bahan-bahannya juga fresh.

Makanan & Minuman
Pertama kali kita akan disuguhkan dengan Menu Udon, ada 9 jenis udon di sini, macam-macam deh namanya, bisa lihat di gambar yang aku tampilkan. Ada udon yang bisa disajikan dingin, ada yang hangat, atau pu dingin mau pun hangat. Lihat saja kode di display, kalau ada "H" berarti hot, "C" artinya cold, kalau ada "H" dan "C" bisa disajikan hangat mau pun dingin.

ririnanindya.blogspot.com
Pilihan menu udon
Pilihan Tempura
Nah, yang kucoba waktu itu Nikku Udon, ini rekomendasi dari pegawai ramah pas lagi antri (lupa menanyakan nama, sepertinya PR atau managernya mungkin). Aku dan Kyo bersepakat, memesan jenis udon yang berbeda, dia pesan Curry Beef Udon.Well, ini dia penampakan dari Nikku  Udon yang kupesan. Ntar juga ditawarkan tambahan daun bawang atau remah-remah tempura, aku mah sikat aja.

Nikku Udon
Kita juga bisa menambahkan tamago (telur), beef sukiyaki, mentaiko (telur ikan), atau pun tori ball (bakso ayam). Untuk tambahan ini dikenakan chas tambahan.
Tamago (Rp 7rb), Beef Sukiyaki (Rp 30rb)
Mentaiko (Rp 12rb), Tori Ball (Rp 11rb)
Setelah udon diterima, kita lanjut memilih tempura. Jenis tempuranya juga macam-macam. Waktu itu aku pilih tiga jenis tempura, ebi tempura yakni tempura udang, tori (ayam) tempura, dan chicken chili tempura (cabai hijau gede, yang dalamnya diisi dengan ayam). Btw, itu Satria Baja Hitam, Si Kotaro Minami juga suka banget sama tempura, sampai motornya dikasih nama “Belalang Tempur(a)”. :D Untuk minumannya, aku pilih ocha hangat.
Ebi+Tori+Chicken Chili Tempura
Setelah itu, kita bisa menambahkan wijen, soyu, jahe, dan irisan cabai merah kalau mau (ini kita ambil sendiri lho, free). Bisa letak di udonnya langsung atau diletak di wadah yang disediakan di sana.
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba yakni merasakan nikmatnya makanan yang sudah di depan mata.

Itadakimasu!
Pesananku (Nikku Udon, Ebi +Tori +
Chili Chicken Tempura, Ocha hangat)
Pesanan Kyo (Beef Curry Udon, Brocoli+
Ebi+Chicken Chili Tempura, Ocha dingin)
Yang kucoba pertama kali adalah kuah kaldunya, kuah sebelum diaduk-aduk dengan campuran lainnya, “Umami” alias gurih, itu yang terlintas pada kecapan pertama. Kuah kaldunya tidak terlalu kental tapi juga tidak encer, nyaman di mulut. Setelah itu, yang kucoba adalah udonnya. Teksturnya kenyal dan lembut, mi udonnya ini terbuat dari tepung sriboga (tepung gandum). Tepung sriboga ini kayaknya enggak ada dijual di grosir. Rasanya mirip beras, sederhana tapi ngangenin… (Udon, kamu kangen aku juga, kan?).
Dicampurlah jadi satu, diaduk-aduk Nikku udonnnya , udon+kuah kake dashi soup (bukan kagebunshin no jutsu, ya)+ sukiyaki beef+ kremes-kremes tempura+ daun  bawang+irisan cabai+wijen+soyu+dan jahe. Nikku Udoooon, kamu luar biasaaaaah. Sempat juga cicip kuah  kari dari Beef Curry udonnya Kyo, yummy, next aku bakal cobain Beef Curry udon juga.

Dibawa pulang :D
Setelah menikmati udon, beranjaklah ke tempura. Makan udonnya itu udah buat cukup kenyang, aku gak bisa makan terlalu kenyang, aku kayak gitu orangnya (#pencitraan :D). Nah, sempatlah mencicipi tori tempura, garing di luar namun lembut di dalam, bagi yang suka rasa asin, ya kita pasti bilang kurang asin, tapi emang begitu cita rasa dari Jepang, buat aku sih yes. Ternyata, teman aku juga udah merasa kenyang, jadi dia minta tempuranya dibungkus, bawa pulang. Dari pada mubazir, dari pada kekenyangan enggak sanggup jalan. Eh, boleh. Aku ikutan juga lah, mungkin karena faktor genetis dari emakku, yang kadang-kadang lebih milih cemilan di wiritan dibawa pulang untuk orang rumah. :D  Tempuranya dimasukkan ke kotak dan juga dikasih soyu juga. Akhirul tempura, aku makan berdua aja sama adikku, sekalian ngenalin Merugame Tempura.

Ocha hangat
And then, tibalah meneguk ocha, ocha sih bukan sesuatu yang baru. Lah ocha kan diva Indonesia dengan lagunya Tegar dan Pudar. Baiklah, serius, serius. Tanteku yang tinggal di Nagoya, kalau pulang ke Indonesia pasti bawa ocha. Rasa ocha tanpa gula, jelaslah rada pahit, tapi pahitnya itu pahit teh, rasanya nyaman di mulut, kerengkongan, dan dada. Menurutku gitu. Apalagi kalau mikir tentang banyak manfaat ocha ini, salah satunya sebagai anti oksidan. Oya, aku juga suka banget sama gelas ocha-nya, langsug dapat sensasi minum di beranda rumah Nobita, terus di sebelahku ada yang lagi main igo.

Gochisousamadeshita!


Pelayanan dan Suasana
Higienis
Sambil lalu,aku sempatkan ambil gambar prosesnya, yakin deh sama kebersihannya, toh kita juga bisa lihat. Konsep service yang diterapkan di sini adalah self service, di mana kita akan mengantri, lalu menuju ke udon station, setelah dari ke udon station kita beranjak ke tempura station, lalu bisa menuju kasir, dan kemudian memesan minum. Jangan khawatir, jarak antar station dekatan kok, gak perlu naik kereta juga, apalagi bayar karcis, hehe. Kita juga gak perlu angkat-angkat udon kita dari satu station ke station berikutnya. Setelah udon dipesan, kita dikasih nampan untuk tempat udonnya, tinggal digeser aja itu nampannya untuk menuju ke station berikutnya. Setelah itu bayar, dan pesan minumannya. 

Waktu itu ramai pengunjung, apalagi sedang launching. Pasti boring kan kalau mesti nunggu lama. Ini enggak, servisnya asli cepat dan ramah banget. Udah. Satu ketika, bapak-bapak yang memberi sambutan saat acara pembukaan launching ini, mengunungi meja kami (kami berempat: aku, Kyo, Fitri, Uul), waktu itu aku telat (pencitraan runtuh), enggak sempat tau nama beliau, tapi dari perawakan dan cara berbicara,  bisa ditebak, pasti orang Jepang. Beliau mengunjungi meja kami, “Bagaimana rasanya? Apa ada yang kurang?” Ingatanku langsung ke Film Lovely Sam Soon, saat di mana Jin-heon (Hyun Bin) menyapa ramah pengunjung restaurannya, Bon Apetit. Lalu, beliau meminta izin dengan sopan untuk mengambil gambar kami, “Permisi ya, boleh saya ambil fotonya?” Haaa, sebelumnya kami juga foto-foto sendiri (gitu lah, kalau pergi sama kawan-kawan, suka heboh sendiri).  Sepertinya beberapa pengunjung lain juga diambil gambarnya. Akhirnya aku tahu, beliau adalah GM PT. Sriboga Marugame Indonesia, Bapak Hajime Kondoh. Dan akhirnya sempat juga ambil foto bareng di depan restauran bersama beliau (mana tau fotonya bisa dijadikan voucher makan gratis,ahaha). Bapak GM nya sangat ramah, gak heran  kalau pegawainya juga ramah.
Bersama Bapak Hajime Kondoh
GM PT Sriboga Marugame Indonesia


Dekorasinya juga enggak lepas dari nuansa Jepang, mulai dari foto-foto atau lukisan yang dipajang. Desain meja dan kursinya juga sederhana ala Jepang. Berasa homy banget (homy? Home aku enggak gitu juga sebenarnya, hehe). Pencahayaannya yang enggak berlebihan dan didominasi dengan warna pastel, pokoknya dapat deh Jepangnya. 
ririnanindya.blogspot.com
Dekorasi Marugame Udon & Tempura
Setelah beberap waktu kunjunganku, ternyata temanku berkunjung ke sana juga, dia bilang atmosfernya mengingatkan saat dia berada di Jepang. Terima kasih atas undangannya Marugame Udon & Tempura, OISHII. ^_^. Terima kasih juga untuk Bang Aswi yang sudah share infonya di grup Blogger Medan Community.  


Merchandise 
Testimoni teman :)

Minggu, 07 Desember 2014

Ratusan SMS Darah B


(Telah dimuat di Harian Mimbar Umum, 07 April 2012)

Oleh Ririn Anindya Putri

Tidak seperti biasa, baru beberapa menit dari jam 9 malam, kelopak mata Rei sudah minta ditutup dan tubuhnya telah nyaman berbaring di ranjang dengan seprei putih kesukaannya. Tiba-tiba ponsel yang memang seperti biasa tidur bersamanya dengan semangat mengabarkan sms masuk. Rei yang kalah semangat berlemah-lemah menggapai.

Tolong bantu menyebarkan. Mohon bantuannya, butuh darah bergolongan darah B. Untuk Aidina Maya, kelas 1 SMP, sedang kritis karena kecelakaan di Rumah Sakit Dahlia. Cp. Kiki: 087731684xxx. Tolong disebar, jangan sampai sms ini terputus.
Pengirim: Rani +623808098xxx
Penerima: Rei +628187896xxx

Rei yang berlimpah bonus sms, di tengah usaha melawan ketaksadaran karena kantuk yang bertambah-tambah, menyebar sms tersebut sekenanya, seberapa ia mampu.
****

Pagi masih biru, meski begitu jendela rumah sudah terbuka lebar. Mempersilahkan udara segar masuk dengan sesuka ke rumah itu, akhirnya para penghuni pun telah segar karena dirasuk udara pagi. Seperti tubuhnya, isi kepala perempuan 23 tahun berpiyama hijau pun sudah siap untuk menerima perintah. Memeriksa sms masuk adalah aktivitas yang tak terlewatkan gadis itu setiap pagi.  Ia membaca sms yang bermunculan, termasuk membaca ulang sms perihal membutuhkan donor darah. Kali ini, ia dengan semangat menekan keypad buram ponsel, meneruskan sms tersebut ke banyak teman.

Rei punya kesan manis akan donor darah pertamanya dan juga telah memiliki pemahaman yang baik tentangnya-tentu donor darah sukarela. Ia mengagendakan untuk  donor darah hari itu. Ya, ia bergolongan darah B, persis seperti yang tengah dibutuhkan.

Selang beberapa jam, sms baru sundul-menyundul, tak lain tak bukan menanyakan kepastian berita Si Adik Kecil – Aidina Maya. Adalah mengirim dan berbalas pesan kini tengah dilakukan.

Kakak kenal dengan pasien?
Pengirim: Arni +628578945xxx
Penerima: Rei +628187896xxx

Enggak dek, kakak dapat kabar dari Kak Rani. Tapi nanti kakak akan ke Rumah Sakit itu, dek.
Pengirim: Rei +628187896xxx
Penerima: Arni +628578945xxx

Kak Rani, itu Rumah Sakit di kota kita ini, atau dimana? Kakak kesana?
Pengirim: Rei +628187896xxx
Penerima: Rani +623808098xxx

Kayaknya gitu, Rei. Kakak baru bulan lalu donor, belum bisa lagi.
Pengirim: Rani +623808098xxx
Penerima: Rei +628187896xxx

Kak, lagi demam, enggak boleh donor darah…
Pengirim: Fifi +6287620163xxx
Penerima: Rei +628187896xxx

Kak, Yul bisanya sore. Kak cp nya kok gak bisa dihubungi?
Pengirim: Yuli +6289747107xxx
Penerima: Rei +628187896xxx

                Contact person tidak bisa dihubungi? Ah, Rei pun belum ada menghubungi contact personnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak ada nada sambung. Ia coba sms, sms ditolak. Selang beberapa menit, menghubungi lagi, tapi hasilnya tetap sama. Tak lama, ponsel tuanya berdering

“Mbak, saya Wiah, mau tanya tentang donor darah itu, kami bertiga mau donor, Mbak.”
“Mbak, tahu dari sms ya? Apa di sms itu contact personnya saya ya, Mbak?” Rei sedikit heran, karena ia tidak sedikit menerima telelpon atau sms bernada sama.
“Bukan, Mbak. Tapi Mbak Kiki, cepe-nya enggak bisa dihubungi, teman saya yang kirim sms bilang, dia tahu dari Mbak Rei.”
“Saya juga dapat dari teman, Mbak. Tapi itu pun, nanti saya akan ke Rumah Sakit Dahlia, nanti saya kabari ya, Mbak.”

Rei menanyakan Kak Rani yang meng-sms-nya, ternyata Kak Rani pun dapat dari temannya, dan temannya dapat dari teman temannya, dan kesimpulannya tidak pasti darimana sms itu berasal. Rei yang memang sudah berniat donor, ditambah tanda tanya yang telah memukul-mukul kepala memutuskan untuk pergi juga.
****

Rumah sakit punya aroma khas. Dan kebanyakan ummat manusia tidak menyukai aromanya. Wajah gadis itu jelas menyimpan rasa penasaran. Antara berharap dan tidak atas kebenaran sms tersebut. Mendatangi pusat informasi pertama kali sesampai Rei di sana.

“Bu, saya ingin menemui pasien bernama Aidina Maya, usianya…” Ingatannya tak sekuat keinginannya. Dia membuka kembali sms yang bersemayam di ponsel.

“Anak kelas 1 SMP, Bu. Sedang kritis karena kecelakaan.”
“Kapan masuknya, Dek?” Perawat yang sudah paruh baya itu bertanya  ramah.
“Tidak tahu, Bu. Saya dapat kabar dari SMS.”

Perawat yang Rei sapa Ibu itu, segera membolak balik daftar pasien, ia menggeleng. “Coba ke bagian anak, Dek. Kalau masih umur segitu, ditangani oleh bagian anak.”

Di ruang anak pun sama, perawat yang berjaga masih tetap menggeleng. “Coba, lihat namanya di papan tulis yang ada di depan ruang UGD, Mbak. Kalau dia kritis, dia akan dirawat disitu. Dan namanya tercantum di papan itu. “

Langkahnya cepat, namun pendek-pendek karena rok panjang yang dikenakan hari itu tidak cukup lebar. Jika ponselnya adalah manusia, ponsel  itu pasti sudah terengah-engah, meneriaki gadis itu. Ponselnya telah berdering berkali-kali tapi Rei tak juga dengar. Ponsel itu berbunyi lagi. Telepon dari adik stambuk di kampus.

“Kak, kami dapat sms dari call center Rohis kampus, ada yang butuh donor darah ya, Kak? “
“Hah, call center?” Rei jelas terkejut, kapan ia mengirim sms ke call center Rohis kampus. Di zaman ia kuliah saja, saat ia menjadi admin, tepatnya dua tahun lalu, call center  sudah beranggotakan 600-an orang.
“Hasanah bilang dia dapat sms dari kakak, lalu dia kirim ke call center, lalu di share ke member. Ini kak, ada tiga orang yang mau donor.”
“Nanti kakak hubungi, kakak lagi di Rumah Sakit, juga mau donor tapi sepertinya info tersebut… Nanti kakak kabari.”

Kepalanya naik-turun membaca nama-nama yang tertera di papan UGD. Berulang-ulang dicocokkan nama yang ada di sms dengan di papan. Bahkan ia nyaris seperti orang hendak menghapal tujuh nama yang ada di papan UGD beserta nama dokter yang merawat. Nihil.

Tanda tanya yang semula hanya menumbuki kepala, kini menjalar bersama alir darah. Siapa dalang semua ini? Apa ini cuma mau buat sensasi? Ah, bagaimana dengan ratusan sms serupa yang tersebar? Bagaiman dengan ratusan tanggapan? Bagaimana dengan puluhan niat?

Menggelengkan kepala dengan kencangnnya, seakan berontak dengan segala tanya. Lalu meluap syukur dibalik kehampaan yang menyelinap. Rei menepis prasangka-prasangkanya dengan kenyataan selama ini, sms semacam itu kerap ia terima, dan memang benar adanya. Mungkin di lain waktu ia akan memeriksa lebih dulu, menghubungi contact person sms semacam itu, terutama jika ia tak mengenali Si Pasien dan Si Contact person. Ia khawatir  hal-hal semacam ini justru akan mengurangi keinginan kuat seseorang untuk membantu jika ada sms yang tak jauh berbeda datang di waktu depan. Tubuh mungilnya tetap berjalan tegak, ia tersenyum ketika menyadari fakta lain, banyak kepedulian bahkan reaksi cepat untuk membantu orang yang tidak dikenalinya secara sukarela, ditambah pada umumnya orang-orang tersebut masih mendiami usia yang terbilang muda. Menyenangkan, batinnya.

Sambil menunggu angkot di teduh pohon beringin tepi jalan, Rei cekatan merancang sms pemberitahuan,

Saya (+628187896xxx )siang ini telah memeriksa sms yang menyatakan butuh donor darah B a.n Aidina Maya (sebagaimana sms yang di-forward ke saya dan saya forward pula, dimana cp tidak bisa dihubugi, di ruang informasi, ruang anak, UGD RS. Dahlia Medan, dan tidak menemukan pasien yang dimaksud. Bisa jadi info tidak valid, karena tidak update, informasi tempat – salah, dsbg. Semoga hal ini tidak mengurangi keinginan kita membantu yang membutuhkan donor darah dikemudian hari, karena sms-sms serupa yang saya terima sebelumnya baru kali ini tidak pas.

Dengan cekatan ia mengirim sms yang telah mencapai lima layar tersebut. Ditengah kesibukannya itu, ia menyetop angkot. Secara tak sadar, ia menyetop angkot yang salah. Harusnya angkot bernomor 06 tapi malah menyetop angkot 60.  Masih tak menyadari. Di angkot pun masih ber sms ria. Ponsel putih di genggaman kembali kencang berdering. Merampas perhatian penumpang lain akan jalanan.

“Ini dengan, Mbak Rei?”
“Ya.”
“Saya Irsyad. Saya dan empat teman saya berniat donor darah sukarela untuk adik itu, Mbak.”
“…”
****
Rumah Cahaya

Tropikal Puding Jelly ala Ririn


Ini adalah jenis puding yang penuh kejutan karena di dalam puding entah apa-apa saja yang dimasukkan :D. Yang pasti menambah kenikmatan rasa lah.

Bahan-bahan:

  •  2 bungkus Puding Inaco rasa coklat kemasan 21,5 gr
  •  2 bungkus Puding Inaco rasa strawberry kemasan 21,5 gr
  •  1 bungkus Nutrijell Yoghurt rasa blaccurrant kemasan 35 gr 
  •  1 bungkus Nutrijell rasa melon kemasan 10 gr
  •  700 gr gula pasir atau sesuai selera
  •  Air 3.100 ml 
  • Buah-buahan (nenas, pepaya, semangka merah, dan mangga) secukupnya. Potong dadu. Asli kagak nimbang, beli sama abang tukang rujak yang melintas, "Bang, buahnnya seribu lima ratus - seribu lima ratus." Begitu.

Cara Memasak:
  1. Masak Nutrijell Yoghurt rasa blackcurrent (cara memasak, ada di kemasan). Dinginkan. Lalu potong-potong dadu atau sesuai selera.
  2. Masak Nutrijell rasa melon (cara memasak, ada di kemasan). Dinginkan. Lalu potong-potong dadu atau sesuai selera.
  3. Masak puding Inaco rasa coklat (cara memasak, ada di kemasan). Setelah matang, tuangkan ke wadah. Tunggu hingga mengeras.
  4. Masak Puding Inaco rasa strawberry (cara memasak, ada di kemasan). Setelah matang, tuangkan ke atas puding coklat yang telah mengeras.
  5. Tunggu sekitar 30 detik - 1 menit, lalu tuangkan potongan Nutri Jell Yoghurt, kemudian tuangkan potongkan Nutrijell rasa melon. Lalu, letakkan potongan buah di bagian paling atas. Kalau gambar di atas, ada potongan jelly yoghurt lagi di atasnya, itu karena masih ada kelebihan jelly.
  6. Akan lebih nikmat disajikan setelah didinginkan. (34 - 40 porsi).
Penggunaan waktu bisa disiasati, misalnya kalau pakai kompor gas dua tungku, sambil masak puding coklat,  masak jelly yoghurt. Sambil potong buah, masak jelly melon.
Jangan mencampurkan potongan agar-agar (jelly atau puding) ke agar-agar yang masih panas, itu akan mengakibatkan mereka (jelly atau agar-agar itu) jadi luruh, lebur jadi satu (kesalahan yang pernah kubuat), dipikir potongan jellynya ngumpet, rupanya luruh.--
Tapi kalau mau dicampur (seperti resep di atas), jangan sampai mengeras juga, nanti enggak lengket, lepas-lepas.
Mereknya mesti yang di atas? Enggak juga, waktu itu merek di atas yang ada di market.
Wadah sebaiknya dicuci/dibasuh dengan air matang, agar enggak menyebabkan agar-agarnya lengket di wadah.

Filosofi masak agar-agar :")
Selagi terus mencoba, terus belajar, enggak ada namanya produk gagal, yang ada produk belajar.
Percobaan pertama, padahal cuma masak agar-agar biasa, tapi karena sepele sama takaran air, 2 jam tuh agar-agar enggak mengeras, sampai seminggu juga bakal begitu, enggak mengeras kecuali mengeras karena beku diletak di freezer.

Percobaan kedua, enggak sabaran, potongan jelly nya di letak di puding strawberry yang masih panas. Akhirnya, luruh lah jellynya dengan puding, teksturnya jadi labil - jelly enggak, puding enggak.

Percobaan ketiga dan keempat, alhamdulillah sesuai dengan yang direncanakan.

Telur Orak Arik

Well, ini mirip-mirip telur dadar tapi karena diproses dengan cara yang beda, sensasinya juga boleh jadi beda.

Bahan-bahan:
5 buah Telur ayam
2 siung Bawang merah (cincang kasar)
1 siung Bawang putih (cincang kasar)
2 buah Cabai (iris)
1/3 sdt Lada bubuk 
2 sdm Minyak makan (boleh diganti dengan olive oil atau mentega)
Daun bawang dan daun seledri secukupnya (iris)
Garam secukupnya 
*Plus cinta dan keikhlasan biar enak masakannya :')


Cara memasak:
1. Campurkan telur, garam, dan lada, aduk rata.
2. Panaskan minyak, tuang bawang merah dan bawang putih, jika telah harum, masukkan cabai merah. 
3. Jika cabai telah layu dan harum, tuangkan telur, lalu aduk-aduk. Lalu tuangkan daun bawang & seledri.
4. Aduk hingga daun bawang & seledri layu dan telur matang. Sajikan. (Porsi 3 - 5 orang).


Pada resep ini juga dapat ditambahkan dengan potongan sosis atau pun bakso. Boleh jadi lebih enak lagi jika disajikan untuk sarapan, tapi menyajikannya pas jam 10 pagi atau tengah hari (kenapa lebih enak? karena  sarapan jam segitu, pasti lah udah kelaparan :D )

Created By Sora Templates