Rabu, 30 Mei 2018

Waspadai 6 Cara Gagal Punya Rumah Sendiri


Ibu pernah cerita, dulu semasa kecilnya hingga SMA, tak kurang tujuh kali berpindah – pindah rumah. Hingga seringkali, orang – orang yang mau ke rumah mereka jadi salah kira, salah alamat. mendatangi rumah sewa lama, eh padahal sudah pindah.

 “Ke mana, ke mana, ke mana? Kuharus mencari ke mana?”

Mungkin kalau lagu Ayu Ting – Ting sudah hits dulu, para tamu atau pak pos bakal bernyanyi seperti itu. Konon lagi, telekomuikasi belum semudah sekarang. Belum lagi memikiran kerepotan saat proses pindahan dengan enam orang adiknya. Bersebab masa lalunya, begitu bekerja dan berumah tangga, ibu berupaya agar punya rumah, tentunya bekerja sama dengan bapak pula. Itu juga yang ibu pesankan kepada kami, anak – anaknya.


Memang sekarang kalau dilihat – lihat, seperti ada dukungan berbagai pihak agar masyarakat memiliki rumah. Misalnya, lewat program pemerintah, tawaran – tawaran dari perbankan, atau pengembang properti itu sendiri. Kayaknya makin mudah, tapi kok tetap aja ada kekhawatiran,

“Apa mungkin ya bisa punya rumah sendiri? Dari mana uangnya? Bukannya apa – apa mahal?”

Baiklah, kali ini saya mau berbagi tips gagal punya rumah sendiri. Karena untuk sukses, kita kudu mewaspadai kegagalan. Hah.  Apakah ada tips di bawah ini yang kita jalankan?

1. Enggak Ada Niat dan Upaya
Kalau konglomerat berat mah enggak ada niat tetap bisa punya rumah sendiri.
“Bosan nih di rumah, belanja yuk.”
“Mau shoping apa, Sis?”
“Shoping rumah aja, yuk!”
Tapi kalau bukan, ya kudu punya niat. Karena untuk mewujudkannya, ada saja godaan. Misalnya pingin ini, itu, kendaraan yang begini. Punya rumah sendiri dengan upaya sendiri, nomor sekian, bahkan enggak ada dalam daftar keinginan. Kemungkinan besar gagal punya rumah. Di luar faktor x, misalnya menang hadiah undian bungkus kopi berhadiah rumah.  

2. Mudah Berhutang
Ada yang bilang, gaya hidup acapkali lebih mahal daripada kebutuhan hidup. Benar, sih. Kadang produk fashion buat gemes, diskon – diskon buat kalap, kirain bakal lebih hemat, enggak tahunya malah beli yang enggak perlu. Di samping masih harus memenuhi keutuhan pokok dan mungkin cicilan kendaraan atau kartu kredit.

Kalau saya pribadi, menghindari pemakaian kartu kredit apalagi untuk hal konsumtif. Karena ya tetap aja namanya hutang, harus dibayar. Kalau bentar – bentar gesek kartu kredit, enggak bisa tahan keinginan lalu berhutang? Nah, ini tips kedua untuk gagal punya rumah.

Jadi untuk punya rumah, perlu tekad yang membara mengendalikan hutang. Perlu khusus batasan tagihan, misal tidak lebih dari 20% - 30% dari penghasilan perbulan. Dan sudah bisa mulai mengganggarkan untuk DP tanah atau DP rumah.

3. Malas Menabung atau Berinvestasi
Karena banyak hal menarik di sekitar kita, mulai dari kafe menarik, bawaannya pingin kokow bareng teman atau produk fashion yang buat lapar mata, jadi kadang merasa, harus beli karena uangnya ada, enggak perlu nabung atau investasi. Nah, ini tips gagal ketiga. Tetap bersosialisasi tanpa menguras kantong, itu perlu. Misal, pilih tempat yang sederhana, atau bawa bekel, atau ya silaturahim langsung ke rumah teman atau kerabat.

4. Enggak Mau Survei


Mau itu bangun rumah sendiri atau beli dari developer perumahan, tetap perlu survei. Survei lokasi, strategis atau tidak, kira – kira lebar jalannya berapa, atau bahan - bahan dengan kualitas seperti apa yang digunakan. Tujuan utama ya biar enggak menyesal nantinya.

Kalau berminat pada perumahan, biasanya pengembang atau developer sudah melengkapi dengan fasilitas tertentu dan umumnya letak rumah lebih rapi, upayakan datangi rumah contohnya, biar bisa melihat langsung, dan merasakan sensasi tinggal di rumah tersebut. Agaknya, tidak cukup merasakan sensasinya hanya dengan melihat brosur. Sayangnya, enggak semua developer perumahan menyediakan rumah contoh.

5. Memilih Developer yang Tidak Kredibel
Penting ini, memilih developer yang tidak kredibel, sama saja menambah besar risiko gagal punya rumah sendiri. Mulai dari rumah yang entah kapan jadinya, bahan bangunan yang tak sesuai kesepakatan, sampai uang pembeli yang dibawa kabur.

Kok kayaknya saya menulis enggak punya solusi ya terkait developer perumahan ini, haha. Oke, salah satu developer perumahan yang sudah cukup dikenal di Medan karena produknya bukan hanya rumah, tapi juga ruko, gudang, sampai kavling ekonomis, yaitu Wiraland. Developer properti satu ini juga menyediakan fasilitas rumah contoh. Bahkan ada juga teknologi virtual yang memudahkan calon pembeli untuk merasakan sensasi rumah contoh lewat smartphone.


Oh ya, developer yang mengusung enviromental reserve atau pemaksimalan sistem penghijauan di masing – masing rumah ini, juga memberikan penawaran kemudahan cara bayar. Salah satu cara bayar yang cukup digemari masyarakat Kota Medan adalah cicil 60 kali tanpa bunga. Proses ini membuat masyarakat yang tidak mau ribet dengan KPR lebih dimudahkan. Dan saat ini sedang diperpanjang hingga akhir Meri 2018 ini gratis biaya KPR dan pajak.  Sebenarnya biaya yang besar adalah pajak, karena nilainya 5-10% dari harga rumah. Banyak sepertinya yang belum saya jabarkan tentang developer ini, bisa cari info lanjutnya aja ya di https://www.wiraland.com/ (061 80025888).

6. Enggan berdoa dan bersedekah
Karena mau beli rumah, jadi enggak mau bersedekah, lupa berdoa. Hmm, payah bilanglah. :D

Agar selamat punya rumah sendiri, waspadai enam tips di atas.


Kamis, 17 Mei 2018

Faber Castell Colour to Life: Stimulasi Kreativitas Lewat Mewarnai dan Ponsel Pintar

Faber Castell Colour to Life. Teringat zaman bocah dulu, saat masih TK hingga SD, hampir enggak pernah menolak jika dititahkan untuk mewarnai. Secara kan, umumnya anak - anak senang dengan warna - warni apalagi kalau bebas berkreasi. Sekarang, apa anak - anak masih suka mewarnai? Atau lebih suka berlama - lama di depan gawai?

Keasyikan tersendiri
Yakin sih umumnya anak - anak pada dasarnya tetap sama: suka bermain, berkreasi, memiliki rasa penasaran. Sedang gawai kini hadir lekat di tengah mereka. Di sini jadi tugas orangtua atau keluarga yang lebih dewasa, untuk memilih sarana belajar dan bermain yang tepat dan disukai.

Senangnya ya, Dik. 
Warnai, lihat dia hidup!

Pada 5 Mei lalu, bertempat di Gramedia Sun Plaza, akhirnya saya berinteraksi dengan penyatuan aktivitas mewarni dan bermain gawai lewat teknologi Augmented Reality pada Colour to Life dari Faber Castle.

Peluncuran Colour to Life di Gramedia Sun Plaza Medan
Sederhananya, kita mewarnai dan taraaa yang kita warnai itu 'hidup' di dalam gawai. Bisa diajak berswafoto atau dimainkan, permainanya pun cukup edukatif dan aman alias enggak mengandung kekerasan. Tapi teteup, sesuaikan dengan usia anak ya Bu Ibu, dan batasi jam bermain mereka. Karena bukan berarti Colour to Life hadir dan Bu Ibu anteng gak menemani anak bermain. Awas rebutan juga sama anaknya ya, Bu. :D

Bongkar paket Colour to Life
Isi paket Faber Castle Colour to Life
Satu set Colour to Life berisi 20 connector pen dan sebuah buku yang berisi 15 lembar Augmented Reality. Connector pen-nya cukup unik karena dia bisa dijadikan permainan rancang - bangun alias lego. Apa untuk memainkkannya pakai kuota kayak main Mobile Legend? Kuota hanya diperlukan saat mengunduh aplikasinya di Play Store atau App Store, setelah itu bebas kuota.

Dulu saat SMP enggak terbayang Faber Castle mengeluarkan produk semacam ini, Tahunya cuma itu, pensil 2B biar bisa lulus UN.

Begini cara memainkannya

Cara memakai Colour to Life dari Faber Castle
Pertama, warnai karakternya. Nanti karakter pada permaian di gawai akan sama persis dengan yang kita warnai. Tapi jangan mewarnai bingkainya. Karena pada bingkainya ada semacam QR Code sehingga gambar dapat diubah dalam bentuk digital.

Sesuaikan dengan selera, bebas!
Kedua, pindai alias scan. Buka aplikasinya, arahkan kamera ponsel dari atas buku dengan jarak sekitar 30 meter. Scan gambar termasuk bingkainya. Jika fokusnya pas, akan ada tanda hijau yang muncul lalu karakter siap dimainkan. Tapi jika gagal dan tanda hijau enggak muncul, arahkan kamera ke lain tempat dulu, lalu arahkan kembali ke buku.

Eh, keluar?
Ketiga, interaksi 
Karena sudah berhasil, kita bisa mengecil besarkan, dan tentu bisa dimainkan. Beda karakter, beda pula permainannya.

Keempat, berswafoto dengan hasil mewarnai kita yang telah muncul dalam gawai.

Terakhir, mainkan! Setiap karakter yang berbeda akan ada games yang berbeda pula.

Bermain boleh aja,apalagi bagus tapi tetap perhatikan waktu dan jaga mata ya
Rahasia di balik permainan!

Berbagai kelebihan dari permaianan yang ada di aplikasi, di antaranya dapat melatih koordinasi tangan dan mata, tmelatih motorik, melatih refleks dan perhatian, melatih keseimbangan otak kanan dan kiri, serta menajamkan ingatan.

Permainan dengan unsur yang aman dan edukatif
Satu paket Colour to Life yang dibandrol seharga Rp 119.000 ini hadir dengan agar anak - anak bermain tak hanya sebatas objek, melainkan juga subjek. Sehingga ini diharapkan merangsang anak berperan di era yang semakin digital kelak. Dan anak tak serta merta meninggalkan sebatang pensil atau kelir walau banyak yang serba digital karena,

"Desain bermula dari sebatang pensil." Tutur Bapak Yandramin Halim selaku Managing Director PT Faber Castle International Indonesia.

Rabu, 02 Mei 2018

Nafas Empat Pilar dalam Bermedia Sosial


Ketika pisau di tangan saya, ibu was - was. Tak jarang, sigap ia menjauhkan dari genggaman putri kecilnya. Itu dulu. Sekarang? Tanpa dipantau atau diminta, nyaris sehari - hari berinteraksi dengan benda tajam itu. Mulai dari ketika mengupas bawang, mengiris tomat, atau memutus tali karung beras. Pisau, alat yang dapat berguna atau berbahaya tak ubahnya seperti media sosial. Lewat media sosial, kita dapat menghimpun manfaat atau justru sebaliknya, mendulang mudharat.

Temu ramah MPR RI dan warganet Medan. 
Difoto oleh Pertiwi Soraya

Kini, lewat media sosial, arus informasi semakin deras, memberi kabar semakin cepat, seolah tak berjarak. Banyak konten positif bertabur dan mudah diakses seperti info komunitas kreatif, hal - hal ilmiah, cara mengerjakan sesuatu, vidoe motivasi atau reliji, dan banyak lagi.

Namun,tak kalah dengan konten positif, konten negatif pun lalu-lalang. Mulai dari adu domba, perundungan, berita hoaks, video prank yang kerap tak sopan dan bisa berbahaya, seolah bangga ketika viral dan diikuti, atau video curhat dedek - dedek SD yang diselingkuhi dengan berurai air mata. Allahuakbar, umur segitu dulu kakak menangis gara - gara enggak dapat jepitan rambut kupu - kupu yang sayapnya bisa bergoyang - goyang, Dedeeek!

Gelar wicara yang sungguh tidak membosankan. Seru.

Ternyata, media sosial bukan sekadar alat, tapi ketika berpadu dengan para warganet, ia menjelma kekuatan bangsa atau pun kelemahan. Hal ini lah yang menjadi perbincangan pada "Netizens Medan Ngobrol bareng MPR RI", 20 April 2018, di Ballroom Diamond, Grand Swissbell Hotel, Medan yang dihadiri sekitar 50 peserta. Yang kala itu pendukung kegiatan ini adalah BlogM - Blogger Medan. Selain teman - teman blogger, hadir pula teman - teman Forum Lingkar Pena, Medan Heritage, dan beragam komunitas lainnya atau undangan personal.


"Bagaimana pun, setiap diri harus memiliki filter dalam menyerap atau membagikan informasi." Pesan Kepala Biro Humas MPR, Bu Siti Fauziah. 

Kepala bagian pengolahan data dan sistem informasi Setjen MPR, Pak Andrianto, yang juga hadir sebagai narasumber kala itu, mengajak peserta untuk mencintai negeri ini, dengan mempelajari cita - cita para pendiri bangsa terhadap bangsa ini. Di antaranya lewat empat pilar: pancasila sebagai ideologi, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Bersama Pak Andrianto yang sepertinya rajin olahraga. Yakin.
Difoto oleh Pertiwi Soraya
Empat pilar ini bukanlah sebatas perkara teks saja yang harus dihapal, melainkan nilai - nilai yang tercermin dalam tingkah laku sehari - hari. Jika ia telah tertanam pada sesorang, tentulah ia akan menghindari melakukan perundungan atau pun adu domba. Karena hal - hal itu tak sesuai dengan nilai - nilai bangsa.

Empat pilar bukan hanya disosialisasikan lewat kegiatan gelar wicara seperti ini. MPR juga telah melakukan lewat pertunjukan seni atau pendekatan lainnya. Kita pun dapat mengambil peran. Caranya? Salah satunya melalui media sosial. 











Created By Sora Templates