Kamis, 05 November 2015

My Prince Charming Is: Persiapan Pra-Nikah #3

Sambungan
Mudah-mudahan berkesempatan dan berkenan membaca dua parts sebelumnya. ^^

Tentang Persiapan Diri  "Barakallahu Laka ... Bahagianya Merayakan Cinta"
Berbicara tentang persiapan diri – terutama persiapan pra-nikah, jadi teringat tulisan Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya “Barakkallahu laka... Bahagianya Merayakan Cinta” yang diterbitkan oleh Pro-U Media.
...
Wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor, dan laki-laki yang kotor hanyalah untuk wanita yang kotor. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik hanyalah untuk wanita yang baik.(QS. An –Nur :26)

Cara berpikir kita masih berbasis objek, yakni ‘dia’. Hatinya berkata, “Wah saya harus memperbaiki diri dulu nih. Soalnya kalau nggak, belum pantas dapat istri ‘dia’!”
Akibatnya, setelah melakukan proses perbaikan diri pun, masih ada pertanyaan, “Bagaimana kita mengukur bahwa kita sudah pantas dan siap untuk menikah? Bagaimana mengukur bahwa kita sudah layak mendapatkan dia? Dan bagaimana kita mengukur, bahwa dia juga sesuai dengan kita?”

... Saya kemudian mencoba menggarisbawah ulang, bahwa perbaikan diri harus berbasi subjek, yakni saya. Hilangkan semua kepedulian dan ketergantungan pada hal-hal di luar ‘saya’. Itulah ikhlas. Itulah ikhlas dalam perbaikan diri.

Tak peduli, ada atau tidak ada ‘dia’, ‘saya’ harus terus melakukan perbaikan diri. Bukan untuk mengukur pantas nggak dapat ‘dia’. Apalagi kalau ‘dia’nya definitif. Itu terlalu cetek untuk menjadi tujuan sebuah perbaikan diri yang nantinya adalah proses terus menerus yang juga kita lakukan setelah menikah dan sepanjang hidup. Kalau pun ‘dia’ terlanjur definitif, yang kemudian harus dipikirkan adalah ... , “(1) Bagaimana saya bisa mempersiapkan pernikahan dengan sukses?” dan “(2) Dengan begitu insya Allah saya bisa mendapatkan yang jauh lebih baik daripada dia.”

Soal siapa yang lebih baik dari dia, tak ada waktu untuk menebak-nebak. Biarlah,itu urusan Allah. .... Lalu saya ingat di forum Masjid DT, “Kalau kita sudah berusaha memperbaiki diri, kemudian ketika kita menikah, ternyata kita mendapatkan jodoh yang tidak sebaik kita, bagaimana?”

... Pertama, memang ada kemulian yang Allah berikan pada hamba-hambaNya, berupa ujian melalui pasangan hidup seperti yang dialami Nabi Nuh, Nabi Luth, dan Aisyah bintu Muzahim. Kedua, mungkin kita memang telah melakukan perbaikan dan itu tampak secara zahir. Tetapi secara batin kita mungkin lebih buruk lagi dari pasangan hidup kita itu; niat kita, keikhlasan kita, dan prasangka-prasangka pada Allah misalnya. Nah, kalau ditimbang total, jadinya satu sama.

Kemungkinan ketiga, jangan-jangan kita ini hanya merasa baik, tapi sebenarnya parah. Dan ini yang menghawatirkan. Karena merasa baik sering menutupi pintu-pintu perbaikan selanjutnya. ...

Ternyata soal nikah gampang-gampang susah ya? Ingat ada dua gampangnya dan satu susah di kalimat saya tadi. Jadi tetap lebih banyak gampangnya, insya Allah. Kecuali jika kita memang suka mempersulit diri dan orang lain. Sungguh nyata, mempersulit diri membuat diri kita sulit di dunia, sedangkan mempersulit orang lain membuat kita sulit di hadapan pengadilan Allah.



Semoga Allah melimpahkan keberkahan ilmu untuk ustadz Salim Al Fillah dan keluarga, dan tulisan-tulisannya menjadi amal jariyah, aamiin. Di atas hanyalah sebagian paragraf dari halaman 36 – 38 dari buku setebal 534 halaman. Bukan bermaksud mem-promosikan, tapi saya pikir buku yang bahkan belum kelar dibaca ini memang reccomended

Allahu'alam.

Satu masa 'penculikan' Ustadz Salim ke Rumah Cahaya FLP Sumut 

My Prince Charming Is: Persiapan Pra-Nikah #2

Sambungan...
(Semoga diberi kesempatan dan ke-berkenaan membaca tulisan ini sampai akhir, part sebelum dan setelahnya ^^)

Sekitar pekan lalu, aku membaca e-flyer tentang grand launching klinik nikah (Klik) yang diselenggarakan di Masjid Al-Jihad Medan pada tanggal 1 Nopember 2015. Awalnya, yang membuat tertarik adalah temanya “Nikah Pobhia”, karena - hard to say – sempat ada kecemasan tertentu bagiku untuk melangkah ke jenjang pernikahan, berkaitan dengan sesuatu yang menjadi target, sedang aku pernah baca, jika seorang pemuda Islam tidak ingin menikah maka perlu diperiksa aqidahnya – lupa ngutip di mana, jadi kupikir ada yang harus diperbaiki dariku. Bukan tidak ingin sebenarnya, mungkin tepatnya sangat tidak siap. Kedua, salah satu pembicaranya adalah Ustadz Latif Khan. Ketiga, gratis. :D


Poin yang kutangkap dari tausyiah ustadz Latif adalah berprasangka baik kepada Allah dan niat ibadah yang harus dijaga. Beliau juga menceritakan perjuangannya untuk menikah, dan kini memiliki 9 orang anak. Menjadikan rumah tangga miniatur surga di dunia dan menunjukkan bahwa berumah tangga bukanlah pengekang kebebasan, serta mendidik seorang presiden, pengusaha, da’i di rumah kita sendiri. Kemudian tausyiah dari Ustadz Yosi, bahwa husnudzon harus dilengkapi dengan ilmu, mulai dari memilih pasangan, pun caranya. Ustadz Yosi juga menyampaikan bahwa jomblo yang bersyukur akan melakukan persiapan sedang jomblo yang menikmati kejombloannya akan terlena.
Grand Launching KLIK di Masjid Al-Jihad Medan
Dan di situlah pertama kali perkenalanku dengan kuliah pra-nikah - baru kenalan. Udah pernah dengar sebelumnya, tapi di Medan baru ini ada. Saat itu ketika di acara grand launching juga dibuka pendaftaran awal, kemudian kami menerima sms untuk mendaftar ulang.

KLIK (yang menyelenggarakan kuliah pra nikah) bukanlah biro jodoh. Namun dengan mengikuti perkuliahannya kita akan diedukasi mengenai pernikahan: dari mulai mengetahui hukum-hukumnya, tanggung jawab dalam berumah-tangga, tata cara ta’aruf, sampai proses administratif penyelenggaraan pernikahan. Dan belakangan aku baru tahu, bahwa yang ikhwan juga bakal ada praktik ijab – qabul!

Perkuliahan ini dilaksanakan selama 3 bulan/chapter (angkatan), dengan 1 kali pertemuan / pekan. Untuk Medan, nantinya lokasi perkuliahan di Ma’had Abu Ubaidah, bakal seperti kuliah biasanya. Di mana satu chapter ada 40 orang, penyelenggara berencana agar ikhwan dan akhwat pada tiap chapter berimbang, namun sejauh ini (kemarin) pendaftar sudah mencapai 170 orang (4 chapter, lebih 10 orang) dan perbandingannya 1 ikhwan banding 3 akhwat. Tapi belum tahu, siapa yang akan ditempatkan di-chapter berapa, keputusannya insyaAllah akan dikabarkan Jumat (6 Nopember 2015). 

Jadi kalau kamu ikhwan, segeralah mendaftar, calon imam kan, ya? Entar akhwatnya sudah ‘matang’, ikhwannya belum. Akhwat juga, jika ingin mendaftar segeralah, sebab untuk kali ini pendaftaran ditutup pada hari Kamis (5 Nopember 2015) jam 8 malam. Untuk biayanya sendiri, chapter pertama gratis. Sedang chapter selanjutnya masih sebatas infak, tidak tahu bagaimana perkembangannya nanti, tapi kemungkinan sekitar 200 ribu, digunakan untuk operasional – jadi ceritanya, sejauh ini masih pendaftaran dulu, belum ada biaya apa pun. Teman bilang kalau di Jakarta perkuliahan seperti ini sekitar 800ribu, sedang standarnya adalah 550ribu.

Mengingat sekiranya kalau jodoh lebih dulu datang daripada maut - dan aku enggak tau yang mana lebih dulu, berarti harus punya bekal wawasan untuk menjalani ‘profesi’ seorang istri atau (calon) ibu. Profesi seumur hidup yang insyaAllah enggak kenal pensiun, lalu pertanggungjawabannya pada Allah. Ya, aku dan berapa teman sudah mendaftar, dan kita hujan-hujanan semalam pas mau daftar. Belum tahu bakal ditempatkan di-chapter ke-berapa. Dan pendaftarannya ini tidak boleh diwakilkan, kita harus datang langsung ke kantornya, sementara ini kantornya berupa home office yang berada di Jalan Pintu Air IV Medan. Ini pekan ke-6 KLIK ada di Medan, sebelumnya sudah ada di Malang dan baru grand launching juga di Surabaya.

Karena kontak penyelenggaranya juga sudah tersebar, jadi aku bagi tahu di sini juga kontaknya (0856-6252-254) bisa juga dihubungi melalui WA, mana tahu minat dan berpikir ini perlu.

Bersambung

Rabu, 04 November 2015

My Prince Charming Is: Persiapan Pra-Nikah #1

Seorang teman kesayangan bertanya, “Who is your prince charming?”
Kujawab, “My prince charming is my hubby, whoever he is, insyaAllah.” Sesungguhnya aku tidak tahu siapa dia, aku bersugesti sebelum semua terjadi. Kalau kata-kata adalah doa, maka sugesti juga termasuk kan, ya? ^^

Waktu SD aku terpikat dengan cerita cinta Usagi dengan Mamoru Ichiba, sedang saat SMP dengan cerita cinta antara Candy-Candy dan Antony Brown Audrey. Sampai akhirnya, membaca kisah Fatimah radiyallahuanha dengan Ali radiyallahuanhu.

Pada satu kesempatan Fatimah berkata, “Sebenarnya, sebelum menikah denganmu ada seorang pemuda yang kusukai.”
Ali cemburu, “Lalu kenapa kamu menikah denganku?”
“Karena pemuda itu adalah kamu.”

Jadi sempat mikir (mikir apa ngayal?) entar bisa enggak ya, ‘gangguin’ suami dengan cara begini? Sekali pun, sekiranya tak pernah memendam cinta sebagaimana Fatimah terhadap Ali.

Belum lagi kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha. Ketika Zulaikha mengejar-ngejar Yusuf dengan cara yang jelas Allah tidak akan ridho, Allah menjauhkan Yusuf dari Zulaikha. Namun ketika Zulaikha bertaubat, meski tak lagi muda, Allah satukan Yusuf dengan Zulaikha. Subhanallah, Allah tak pernah kehabisan cara menyatukan hamba-hambaNya.

Apakah semua orang akan benar-benar bersama dengan orang yang dia sukai? Dunno, tapi itu tidak terjadi antara Laila dan Qais. Dan di sekitarku, itu tidak selalu terjadi. Ada yang sudah sangat dekat dan sepertinya tidak mungkin terpisah, tapi akhirnya tidak bersama juga.

Seseorang akan bersama orang yang ia cintai.”

Saat itu, membaca penggalan hadis riwayat Bukhari dan Muslim tersebut ketika ayah baru meninggal dunia. *Harap cari dan baca hadis seutuhnya, ya. Lalu berkesimpulan, aku akan bersama ayah kembali, karena mencintai ayah. Ternyata itu bukan kesimpulan akhir, karena sebaik-baik kebersamaan adalah bersama Allah dan RasulNya, bersama orang-orang yang mencintai keduanya. Jika itu terjadi, kita pun akan berada di sebaik-baik tempat (lalu ayah bakal ngikut ^^). Kemudian bertambahlah semangat kita mempelajari dan mejalani cinta seperti itu.

*Kutarik nafas dengan rasa malu karena ngarep ke sebaik-baik pertemuan dan tempat dengan modal yang belum sebaik-baiknya.

Ya intinya, tidak saklek tentang, “Kamu suka dia (laki-laki atau perempuan itu), kamu pasti nikah sama dia.”

Yaa ayyuhal jomblo *sambil ngaca. Kita tidak akan pernah tahu mana lebih dulu datang: Jodoh atau maut. Karena tidak tahu, maka pilihan terbaik adalah mempersiapkan keduanya. Dan persiapan pada keduanya adalah ibadah, yang dapat mengantarkan kita pada Maha Cinta. *_*

Terus terang, kesadaran itu pun kudapat baru-baru saja, semoga enggak hilang (lagi). Terutama persiapan pra-nikah. Pernah satu ketika, ikut dauroh pra-nikah karena 'didorong-dorong'. Tadinya kupikir acara itu akan membuatku menggebu-gebu menikah keesokan harinya. Masih terlalu asyik sendiri. Tapi ternyata, di sana ada wawasan yang diberikan: perkara niat, hukum, cara, dan pengalaman para pembicaranya. Sayangnya, pemahaman dari dauroh tersebut tidak kujaga – apa-apa yang tidak dijaga akan rusak. Jadinya lupa. Terus masuk kaum jomblo yang terlena dengan kejombloannya.

Jadi teringat ada cerita (fakta), ada yang ditawari ta’aruf, yang ditawari tidak siap. Di saat itu dia baru beli buku tentang nikah, dan itu hanya dua buku. Finally, ta'aruf tidak berlanjut. Patah hati sih enggak, cuma jadi sadar ternyata ada kesempatan yang terlewat karena ketidaksiapan.

Berbeda dengan seorang teman yang jauh-jauh hari sudah bersiap. Nih contohnya, dia sampai punya buku sebanyak ini, ambil gambar ini dari FB-nya, sebut saja namanya Puput. Dia melakukan persiapan sejak umurnya 15  tahun.


Bang Roby (penulis buku “Married because of Allah” dia bahkan melakukan persiapan sejak SMA, lalu menikah di umur 22). 


Jangan tanya aku, aku golongan orang insaf baru-baru aja. Setelah direnung-renungkan, nikah itu ibadah, dan menjalankan ibadah itu perlu ilmu. Seperti ibadah haji, perlu ilmu dan persiapan. Terus kenapa nikah enggak dipersiapkan, ya? Terlepas kapan dan dengan siapa menikahnya. Sebagaimana iman, pemahaman ini pun bisa fluktuatif, berharap bisa menjaganya. 

Bersambung

Sedang Patah Hati

Allahu rabbi, izinkan ku jatuh cinta padamu setiap hari, berkali – kali. Lalu mohon ridhoi ku 'tuk mampu bersetia. 
Izinkan kuputuskan segala hal dalam kecenderungan padaMu. Tanpa izinMu, aku bisa apa?

Diri ini sedang patah hati. Patah hati sebab menyadari lebih banyak teringat makhlukMu. Mengatasnamakan mencintai karenaMu dalam kalimat tanpa ‘mencurigai’ hakikat.  

Diri ini sedang patah hati, sebab makin jauh dariMu padahal Engkau tak pernah menjauh. Jangan biarkan menjadi lebih lemah lagi: zahir, terutama bathin. 

CintaMu adalah cinta paling agung, cinta yang menguatkan bukan melemahkan, yang mengasihi tanpa pernah melukai.

Ya Rabbana, sebenarnya aku tak pasti apa itu definisi cinta. Tapi apa pun artinya, jika dariMu, maka aku yakin, itu adalah sesuatu yang mengobati, menyelamatkan.

Minggu, 01 November 2015

(Yang) Kembali

“Lima belas menit lagi, aku sampai rumahmu.” Aku bicara singkat, mengingat pulsa mulai sekarat.

“Masih nge-blow di salon, setengah jam lagi, OK?”

Ah, Roya masih belum berubah. Kalau mau datang ke acara apa saja, pasti nyalon. Aku tidak coba mendebatnya, hemat pulsa.

Wajar saja Roya ingin tampil maksimal di acara reuni SMA. Ada cinta lamanya yang belum kunjung kelar di sana. Aku sempat heran dengan acara reuni ini, sebab baru tahun lalu kami tamat SMA dan sudah berkumpul beberapa kali: kami berkumpul di pernikahan Reni – teman sekelas, berkumpul di acara keberangkatan haji wali kelas kami dulu, dan buka puasa bersama yang baru saja bulan lalu. Heran tapi tidak protes, dan ikut saja. Kuakui masih sering rindu kemeriahan masa – masa SMA.

Aku bercermin sekali lagi sebelum berangkat. Ini sudah ke-lima kalinya bercermin. Tidak ada yang berubah. Namun tiba-tiba teringat, sudah banyak fotoku menggunakan kaos rajut lengan panjang bewarna biru ini, kaos favorit. Kalau kumpul bareng teman, pasti nanti akan foto-foto.

Ah, dasar cewek! Emang suka rempong.’

Meski merutuki diri, langkahku tetap mengarah ke kamar, tepatnya menuju lemari pakaian.

Kulirik jam yang sudah menunjukkan pukul dua siang, harusnya aku sudah sampai di Cafe Fufu, kafe depan sekolah, tempat kami melangsungkan reuni. Mana lagi masih harus menjemput Roya. Kututup lemari, tidak jadi ganti pakaian. Bergegas menyambar kunci motor, lalu menyalami ibu.

“Jam lima sore harus sudah sampai di rumah, ya! Nanti malam kita mau ke rumah Pakde.” Ibu mengingatkan.

Aku memang sering lupa waktu jika sedang berkumpul dengan teman – teman.
*****

“Roy, kamu mau reuni atau peresmian perusahaan?” Aku terkesima melihat gaun dan make-up-nya. Yang ditanya hanya senyum-senyum.

“Pakai ini!” Aku menyodorkan helm.

“Kita lewat jalan pintas saja. Kan aman enggak ada polisi, enggak bakal ada yang tilang. Kalau pakai helm, rambutku...”

“Itu kalau enggak ada polisi, kalau tiba-tiba ada? Lagian, jauh – dekat aspal keras, loh!”

Teringat kecelakaan sewaktu SMA, meski sudah bisa mengendarai motor, orang tua belum seutuhnya mengizinkanku membawa motor apalagi keluar komplek rumah, dan tentu saat itu belum punya SIM. Aku keras kepala. Diam-diam kuambil kunci motor, lalu pergi jalan – jalan sore ke luar komplek sendirian. Tak lupa kupakai helm, bukan karena sadar keamanan, tapi helm abangku cukup keren, helm dengan stiker Cyborg Kuro Chan.

Di jalanan sepi, kupacu motor seberapa cepat aku berani. Tiba-tiba roda tak bergerak, aku tejatuh. Mobil di belakangku mengerem mendadak, lalu mobil itu ditabrak angkot di belakangnya. Betapa ketakutan jadinya. Lebih dari keamananku, aku sangat khawatir jika ada orang lain terluka. Setelah diperiksa, ternyata penyebabnya adalah rantai motor yang kurang perawatan, kendor, dan lama tidak diberi oli. Rantai motor mendadak keluar dari gear dan ada bagian rantai yang terselip. Tidak ada korban jiwa atau pun terluka, tapi penyok kedua mobil tak terelakkan. Tetap saja, habislah aku.

Benar saja, aku pasrah menerima kemarahan para pengemudi lainnya, yang akhirnya mencoba memaklumi keadaan – dan tentu kami menanggung biaya perbaikan kerusakan mobil mereka – maksudku bukan kami, tapi orang tuaku. Ditambah lagi tak kurang dari sepekan, ibu terus mengungkit-ungkit kesalahan di tiap kesempatan. Belum lagi, uwak tukang kusuk yang sembari mengusuk, ia menasihati, tepatnya mengomel tanpa putus. Jangan tanya sakitnya tulang – belulang seperti apa, meski tidak ada yang patah, namun tiap sisi terasa nyeri.

Roya cemberut tapi ia tidak bisa menolak permintaan, apalagi jika aku sudah menatapnya tajam tanpa kata. Akhirnya ia pakai helm yang kusodorkan tadi.

“Roya, senyumlah. Jangan gara-gara helm merengut gitu. Mana lebih penting, yang di dalam kepalamu atau rambutmu yang bisa dirapikan nanti?”

“Emangnya kita bakalan jatuh, apa?”
***

Cafe Fufu, sampai detik ini aku tidak pernah mencari tahu mengapa kafe di depan sekolah SMA-ku dinamakan Fufu. Yang kuingat pasti, kafe ini pernah digerebek guru piket karena ada yang membolos sekolah dan malah melarikan diri kemari. Memang banyak ‘kajaiban’ di muka bumi ini, contohnya para siswa yang bolos sekolah malah pergi ke kafe yang letaknya beberapa meter di hadapan sekolah. Namun sejak saat itu, pemilik dengan tegas melarang siswa datang ke kafe di jam sekolah.

Bagiku, konsep Cafe Fufu kini jauh lebih menyenangkan. Selain menyajikan beberapa permainan seperti monopoli, ular tangga, congkak, dan kartu berisi teka – teki. Kafe ini juga dipenuhi buku-buku, mulai dari komik sampai ensikopedi dan biografi. Sayangnya, buku-buku hanya boleh baca di tempat.

“Manajer kami bilang, memang akan ada rencana buat kafe ini jadi sekaligus taman baca. Jadi, buku-bukunya boleh dipinjam, tapi khusus member.” Jawab Mbak waitress saat aku mencoba bernegosiasi meminjam buku untuk dibawa pulang. Negosiasi gagal.

Melihat buku – buku yang terpajang apik, hampir lupa dengan tujuan utama datang kemari: reuni.
*****

Agus Arianda, biasa kami memanggilnya dengan Gusar karena ada dua orang bernama Agus di kelas kami. Gusar adalah gebetan Roya saat di kelas dua belas, dan masih menjadi gebetan sampai sesaat sebelum mereka bertemu di acara reuni ini.

Beberapa menit lalu, Roya harus menerima kenyataan bahwa Gusar mengajak pacar barunya ke acara reuni, teman satu kampus Gusar, begitu keterangan yang kudapat. Rona wajah Roya berubah, ia bahkan tidak mencoba merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm. Ia jadi lebih banyak       membisu. Sesekali Roya melirik Gusar yang sedang bercanda dengan pacarnya. Dan aku memerhatikan pemandangan ini dari salah satu sudut ruangan. Aku mengerti, seperti biasa, bahwa jika tiba saat-saat seperti ini, maka sebaiknya sejenak membiarkan Roya sendiri. Ini bukan yang pertama kali.

“Roya, itu kopimu entar dingin. Coba deh kuenya, enak!” Kuhampiri Roya dan berusaha  mengalihkan perhatiannya.

“Ambil saja.” Jawabnya datar dengan tatapan kosong.

Cinta anak remaja, antara pengorbanan dan kebodohan.’ Batinku. Aku mendadak tua dan kehilangan empati.
*****

Beginilah Roya, sahabatku. Mudah patah hati tapi juga mudah move on. Satu jam lalu, ia adalah orang yang paling sunyi dan kelabu. Tapi sekarang, dialah yang paling ribut. Kini ia sedang berada di atas angin. Ia memimpin untuk permainan ular tangga.

“Roy, udah jam lima. Aku mesti pulang. Udah mendung, nih!” Aku setengah mendesak.

“Bentar, bentar. Jangan pulang duluan!” 

Harusnya jam lima sore aku sudah sampai rumah, tapi yang ada jam setengah enam sore baru beranjak dari Cafe Fufu. Tanpa kuminta, Roya sudah memakai helm.  

“Udah rintik. Kita terobos? Aku takut kena marah ibu. Entah pun ibuku sudah merepet di rumah.”

“Ya, terobos. Masih rintik kecil. Kan jalan pulang, enggak apa basah-basah. Enggak ada bawa notebook. HP kita taruh di bagasi motor saja.” Roya menyarankan.

“Roy, dirimu pakai celana leging juga, kan? Duduknya enggak usah menyamping kayak tadi, boleh? Agak-agak duduk macho, mungkin kita bakal ngebut sedikit. Kejar waktu.”
*****

Awalnya hanya rintik, tapi tak lama, hujan menderas. Meski tanpa mantel, aku dan Roya memutuskan tidak berteduh. Beberapa ruas jalan tergenang. Kami sudah basah kuyup. Sempat terlihat di pinggir jalan, beberapa pengendara yang berteduh menatap kami.

Beberapa kali kusalip mobil yang berjalan pelan. Benar – benar menguji kesabaran apalagi gigil mulai merasuk tubuh, sedang pandanganku jadi sedikit buram diterpa hujan.

Kali ini, truk pengangkut pasir di depanku sulit sekali didahului. Berjalan sangat lambat. Bisa jadi agar tidak terjadi cipratan air dan mengenai orang-orang di pinggir jalan, tapi juga bisa jadi karena jalan memang tidak terlalu lebar. Setiap kali hendak menyalip, ada saja kendaraan dari arah berlawanan.

Kosong!

Jalanan di sisi kanan kosong. Kupacu motor lebih cepat untuk mendahului. Mendadak motor kehilangan keseimbangan, ternyata melintas di jalan berlobang yang tergenang air. Jelas aku tidak melihat lobang tersebut. Hujan pun masih deras.

Aku terjatuh, kepalaku membentur aspal. Terasa benar bahwa kepalaku selamat karena tebalnya busa helm. Aku terguling-guling. Sekilas kulihat sinar kendaraan. Pasti lampu truk yang kudahului tadi.

Matilah aku!

Roya!

Ya, Tuhan...

Tubuhku tak lagi berguling, terhenti di pinggir jalan. Aku langsung duduk, kulihat motorku tak jauh dariku, sedang truk sudah jauh. Tak kudapati Roya.

Aku mengedar pandang mencari – carinya. Perasaan ini lebih menakutkan dari pada saat pertama kali jatuh dulu. Sekarang aku tak peduli dengan kemarahan orang-orang, uwak tukang kusuk, atau bahkan saat ini tak masalah jika ibu mengomel padaku sepekan atau setahun. Biarlah semua itu, asal sahabatku selamat.

Akhirnya kutemukan ia berada sekitar sepuluh meter dariku, di sisi jalan yang sama. Entah bagaimana algoritmanya, kami berhamburan di tempat berbeda. Sepertinya, kami jatuh ke sisi kanan jalan, sedang truk ada di sisi kiri, dan sisi kanan masih kosong dengan kendaraan.

Roya bahkan masih bisa berlari ke arahku. Kami bertatapan, mencoba membaca keadaan.

*****

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Profil Penulis:
Ririn Anindya Putri. Lahir dan besar di Medan. Bergiat di FLP Sumatera Utara. Seorang pengendara motor yang berhenti sebelum garis putih jika lampu lalu-lintas bewarna merah.








Created By Sora Templates