Rabu, 30 September 2015

Permasalahan dan (Alternatif) Solusi Aplikatif Mewujudkan Kebahagiaan Pendidikan Indonesia

Judul    :  Menjadi Sekolah Terbaik: Praktik-Praktik Strategis dalam PendidikanPenulis : Anita Lie, Takim Andriono, Sarah Prasasti
Penerbit : Tanoto Foundation dan Raih Asa Sukses
Cetakan : I, 2014
Halaman : 188 halaman
“Pengetahuan menjadi motor penggerak zaman yang menjadi penentu kapasitas sebuah bangsa.” (Tanoto Foundation)
Indonesia adalah negeri yang komlpeks, begitu pun dengan masalahnya, maka wajar jika penanganannya tidak instan. Pendidikan adalah sebuah proses yang akan menentukan apakah negeri akan mampu menghadapi tantangan dari dalam mau pun dari luar - seperti globalisasi. Dan masyarakat negeri ini pun tahu persis bahwa aspek pendidikan memiliki tantangannya pula.
Permasalahan-permasalahan pendidikan sering didengar pada berita-berita harian, pada percakapan serius mau pun santai, atau pengalaman pribadi. Mulai dari kecurangan dalam praktik pendidikan, kompentensi, kesejahteraan, pemerataan guru, sampai dengan siswa yang stres menghadapi ujian. Sebuah gambaran ketidakbahagiaan proses pendidikan. Memang tidak semua sekolah atau pun guru seperti itu, tapi ini lah realita bahwa hal tersebut masih kerap kita temukan. Mungkin sudah ada yang mulai jenuh, apatis, atau pun pesimis. Pemikiran-pemikiran itu wajar saja muncul di tengah masyarakat, namun perlu disadari bahwa hanya dengan anggapan ‘dari sananya sudah begitu’ dan sebatas cemas, kita tidak akan mendapati kemajuan. Perlu disadari bahwa pendidikan seyogyanya menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya pemerintah.
Ketika membaca buku ini, ada banyak ‘Aha!’ yang saya dapati, ide-ide segar, dan inspirasi yang menyejukkan. Pada bab awal pembaca disuguhkan mengenai dimensi dan permasalahan pendidikan. Yang kerap tampak di mata kita adalah permasalahan pada ‘hilir’ seperti yang kita temukan di berita harian, padahal kita memerlukan perbaikan dari ‘hulu’ sampai dengan ‘hilir’. Buku ini memaparkan hal-hal tersebut, termasuk kesenjangan-kesenjangan yang terjadi pada praktik pendidikan dan penyebabnya. Bersyukurnya saya, buku ini tidak hanya memaparkan masalah, namun juga solusi yang dapat diaplikasikan. Konon lagi ketika membaca kisah-kisah nyata para pelaku di tengah keterbatasan, rasanya – apa yang tak mungkin.
Sebagaiamana yang disampaikan sebelumnya bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Gerakan-gerakan filantropi merupakan bukan sekedar angin segar, namun juga menjadi bagian solusi. Salah satunya adalah bagaimana sebuah gerakan filantropi - Tanoto Foundation yang didirikan oleh Bapak Sukanto Tanoto telah dan masih berkontribusi untuk pendidikan secara nyata, memiliki perancangan yang disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, dan berkesinambungan.
Dalam buku ini, kita diingatkan bagaimana hal-hal terlupakan – seperti keunikan dan kearifan lokal – dapat diberdayakan untuk proses pembelajaran dan nantinya juga dikelola dengan bijak oleh output dari proses pendidikan. Penyebaran perangkat pendidikan memang harus merata, guru berkualitas, sarana dan prasarana, namun bukan berarti prosesnya pembelajarannya harus sama dengan mengabaikan keunikan yang ada pada tiap daerah.
Langkah-Langkah Aplikatif menuju Kebahagiaan Pendidikan
Siapakah kepala sekolah, guru, atau siswa yang dapat menyebutkan visi dan misi sekolahnya? Semoga banyak yang dapat menjawab. Apakah visi sekolah adalah sekedar tuntutan administrtatif atau telah menjawab - mau di bawa kemana sekolah ini? Mampukah visi itu dipahami dan memberikan motivasi? Pertanyaan-pertanyaan yang lebih menggelitik dapat hadir dibenak kita ketika membaca bab ke-lima. Visi seharusnya menjadi ruh bukan label semata. Lalu, ketika telah memiliki visi, apa rencana strategis yang akan diterapkan? Menariknya, kita dapat menemukan gambar - delapan pertanyaan untuk menyusun rencana strategis, yang memudahkan kita merancang rencana strategis sekolah, bahkan saya berencana, ‘menguji’ rencana strategis kehidupan pribadi saya atau sebagai seorang guru dengan delapan pertanyaan yang dipaparkan.
Untuk menjadi sekolah terbaik, hendaknya pelaksana sekolah mau dan terus belajar. Maka perlu sebuah bentuk kepemimpinan yang transformatif, di mana guru diberikan ruang pula untuk mengembangkan kreativitasnya, mendorong tumbuhnya semangat dan budaya belajar, sehingga semua orang merasa dihargai dan dipercayai. Sehingga semua orang berbuat karena dia paham mengapa perlu dilakukan, bukan sekedar mengejar pemberian yang bersifat ekstrinsik. Pada kenyataannya, mengubah pola pikir tidak semudah berwacana. Namun pada buku ini, kita bisa membaca kisah nyata para kepala sekolah yang memiliki pola kepemimpinan transformatif, mereka mencapai lebih dari sekedar posisi!
Buku setebal 188 halaman ini, juga mengingatkan akan pentingnya kerjasama setiap elemen masyarakat, guru, kepala sekolah, orang tua,stake holder, calon guru, LPTK, dan para pengambil kebijakan untuk bekerja sama agar output merupakan outpput mengoptimalkan potensinya, sebuah potensi yang lebih dari angka-angka hasil ujian, potensi yang mampu menjawab tantangan kehidupannya, bahkan menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa.
Buku dengan cover - siswa tersenyum - yang menyiratkan harapan pendidikan lebih baik, banyak memaparkan kurikulum KTSP, sedang saat ini kurikulum 2013 mulai digalakkan. Namun, hal tersebut tidak mengurangi relevansi praktik-praktik strategis untuk diterapkan karena buku ini hasil pemikiran mereka yang telah turun ke lapangan, bukan hasil perenungan di balik meja saja. Buku yang berpesan bahwa kita perlu tetap belajar, bahu-membahu untuk tidak mewariskan permasalahan pendidikan yang lebih kompleks untuk generasi berikutnya, dan tentu pendidikan untuk generasi saat ini, serta menjadi bagian dari solusi.
Sikap-sikap optimis, kreatif, dan passionate yang ditunjukkan para pelaku pendidikan yang dijadikan contoh dalam buku ini, mematahkan paradigma hambatan sama dengan awal dari kegagalan. Mereka yang berjuang dalam diam, tidak lah sedikit. Mungkin boleh jadi menggambarkan kondisi ini seperti sebuah daerah dengan persawahan yang padinya mulai layu, sumurnya mulai kering, dan tanah-tanahnya gersang. Kemudian hadir awan yang berarak, menjatuhkan gerimis, membasahi tanah, sumur, dan padi. Sebuah harapan. Namun yang perlu kita pelajari, harapan yang ingin kita bersama-sama wujudkan, harus lah kita upayakan bukan kita tunggu.

(Tulisan ini, pertama kali saya tulis di akun kompasiana saya, pada Agustus 2014).

Rabu, 23 September 2015

Seminar Parenting DANCOW : Cinta Ibu, Cinta Sejati


"Bunda adalah sahabat sejati anak-anaknya", salah satu kalimat pembuka di seminar parenting yang diadakan oleh Dancow bekerja sama dengan majalah Nakita pada 12 September 2015, di hotel Grand Serella Medan. Dengan para pembicara profesional: Dra. Ratih Ibrahim, M.M, Psi, Dr. Diana Sunardi, dan Sari Sunda Bulan, Amg. Mbak Shanaz Haque memandu jalannya acara dengan seru, ditambah demo masak oleh Chef Sutanto, dengan makanan bergizi serta menarik dilihat. 

Ini adalah seminar parenting pertama yang kuhadiri, mengusung tema "Lindungi Eksplorasi Si Kecil dengan Nutrisi dan Stimulasi Tepat". Awal mulanya sebab mendapatkan kesempatan sebagai undangan (terima kasih Dancow dan Nakita, dan juga Mbak Ai :)) . Tentu aku menyambut, berbicara tentang anak-anak atau menjadi orang tua selalu menarik bagiku, hitung-hitung sebagai persiapan menjadi ibu (nah loh Mas, belum dilamar aja udah siap-siap jadi ibu, bisa dibayangkan kan calon ibu seperti apa aku ini - pencitraan :D).

Sahabat sejati tentunya akan memberikan yang terbaik. Dan apa yang lebih baik dari cinta sejati? Ya, cinta ibu adalah cinta sejati.

Memberikan yang terbaik tidak berarti memberikan apa pun. Sebab cinta sejati pada anak itu adalah cinta yang seimbang. Memberikan apa yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak agar berlangsung optimal seperti dalam hal nutrisi, stimulasi, dan attachment. Begitu dan berikut inilah hal yang kutangkap dari yang disampaikan para pembicara.

1. Nutrisi
Jangan melulu menyalahkan anak ketika mereka mengalami keterlambatan belajar apalagi sampai 'melabeli' nya. Mungkin bisa jadi itu adalah sebab kelalaian pemberian nutrisi pada masa kandungan. Sebab, masa kehamilanlah yang mengawali kehidupan, 1000 hari pertama amatlah penting. Nutrisi 1000 hari pertama memiliki efek jangka pendek dan panjang: gangguan metabolisme, imunitas, dan rendahnya produktivitas kerja. Jadi, para ibu yang sedang mengandung tidak bisa hanya makan berdasarkan selera saja, karena makanan janin berasal dari ibu.

Saat telah lahir ke dunia, ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, mengandung segala nutrisi yang diperlukan. Sebaiknya, memberikan ASI ekslusif selama enam bulan. Setelah enam bulan, produktivitas ASI akan mulai menurun sehingga diperlukan makanan pendamping ASI. Makanan yang diberikan juga harus bertahap, tekstur makanan harus diperhatikan, pun begitu pula kandungan nutrisinya.

Banyak orang tua yang khawatir ketika anak tidak gemuk. Sebenarnya yang lebih penting diperhatikan daripada berat anak adalah tinggi badan anak. Anak mencapai 50% tinggi dewasanya saat berumur dua tahun.

Untuk jadwal makan, orang tua juga penting membuat jadwal makan anak. Mendisiplinkan anak sejak dini, memberikan batas waktu untuk makan. Tidak semua anak dapat menuruti, namun hal ini juga perlu agar anak 'tahu lapar',  dan mengerti konsekuensi jika tidak mau makan -  tentu ini bukan berarti membiarkan anak tidak makan seharian. Variasi makanan pun diperlukan.

2. Stimulasi
Selain nutrisi, stimulasi juga diperlukan untuk perkembangan anak. Misalnya me-stimulus anak untuk mengenal warna, mengetahui namanya, nama orang tua, mengenal rasa, atau memilih permainan yang sesuai dengan usia mereka. Daripada gadget, anak - anak lebih memerlukan untuk banyak bertemu anak - anak seusia mereka. Para orang tua juga perlu membangun karakter anak sejak dini, dimulai mengajarkan anak agar menjadi problem solver, bisa dengan cara menanyakan, "Mau makan apa hari ini, ayam atau ikan?", beri kesempatan pada anak untuk memecahkan 'masalahnya' sendiri.

3. Attachment
Kelekatan. Jika anak balita masih senangnya nempel dengan ibunya, tentu itu lebih baik ketimbang anak lebih lekat dengan tivi atau gadget. Anak - anak perlu diperkenalkan dengan teknologi, namun batasi waktunya, misal 30 menit paling lama. Bagi orang tua yang bekerja, harus lah memiliki waktu untuk anak. Jangan sampai mereka justru lebih lekat pada pengasuhnya. Sayang sekali jika para orang tua kehilangan momen-momen seperti ini. Aku pernah membaca suatu penelitian - mungkin bisa dicek, karena lupa pernah baca di mana- bawa pelukan rutin pada anak akan meningkatkan imunitasnya dan baik bagi psikologis si anak.

Untuk lebih lengkap dan update, Bunda dan Ayah (yang bukan juga boleh -  seperti aku)  bisa mengunjungi http://www.dancow.co.id/DPC, atau like Fanpage Facebook Dancow Parenting Center,  follow Twittter di @DancowCenter. 
Created By Sora Templates