Minggu, 29 Maret 2015

Cara Membuat Saos Cabai, Sederhana dan Aman

Ini resep sederhana sekali dan banyak orang sudah tau memang. Berhubung pekan ini harga cabai dan tomat di Medan lagi murah, ditambah udah maraknya penjualan saos abal-abal (salah satu pabrik yang digrebek gak jauh dari rumahku), mending buat sendiri, kan? ^^

Bahan-bahan:
- Cabai merah,1 ons. Cuci bersih. (Kalau mau lebih hot bisa ditambah beberapa cabai rawit).
- Tomat 2 buah yang ukuran sedang.Cuci bersih.
- Bawang merah & bawang putih, masing-masing 3 siung. Kupas, jangan sama kulitnya, apalagi akarnya :D, cuci bersih.
- Asam cuka atau asam jeruk, 1 sendok.
- Gula secukupnya, kira-kira sih 2 sendok makan. (Icip-icip lah, ya)
- Garam secukupnya, sekitar 2/3 sendok teh.

Cara membuat:
Bahan-bahan yang sudah dicuci bersih di atas, direbus dalam panci sampai matang, lembut, ntar tomatnya jadi kelihatan rada bonyok.Tiriskan. Blender bersama gula, garam, dan asam sampai halus. Udah gitu aja.

Enggak pakai bahan pengawet, karena yang namanya saos gak pernah awet di rumah kami, langsung habis. Tapi pernah juga baru habis tiga hari, disimpan di kulkas, rasanya masih segar. O iya ya, apalagi yang namanya cabai juga merupakan bahan pengawet alami. Mudah, kan? :)



Jumat, 27 Maret 2015

Pengalaman Menebus Tilang STNK (sekaligus Cuci Mata di Bangunan Tua yang Apik)

14 Februari 2015, ada apa? Hari itu aku enggak bisa menolak saat seorang om-om kasih surat bewarna pink, mengejutkan tapi enggak buat berbunga-bunga. Kuburan Gajah Mada jadi saksi, maksudnya TKP ada di depan kuburan jalan Gajah Mada Medan.

Huum, hari itu dikasih surat tilang warna pink (orang bilang sih slip merah). Aku baru pulang dari perpustakaan kota yang ada di jalan Iskandar Muda, naik motor, waktu mau belok kiri ke jalan Gajah Mada, lampu hijau, jadi jalan aja. Ci Luk Ba! Pak Polisi suruh menepi. Lampu motor, helm? Aman. Pakai masker, pakai sarung tangan lagi. Tapi mungkin doa aja yang kurang panjang pas berangkat. *_*

Waktu diminta menunjukkan surat-surat kendaraan, dengan polos rada cengengesan aku bilang, "Saya enggak ada SIM, Pak." Ternyata pengakuan itu membuat Pak Polisi spontan tertawa (enggak tau lucunya di mana). Setelah ngobrol-ngobrol (iya, benaran ngobrol, tinggal di mana, suku apa, lalu aku juga tanya-tanya di mana dan bagaimana tebus tilangnya) Pak Polisi minta maaf karena terpaksa harus menilang. STNK ditahan. Sepatuh-patuhnya pengendara, tanpa SIM ia tetap saja 'pengendara pendosa'.

"Kalau enggak sempat datang sidang, kamu titip aja sama Bapak hari ini." Tawarnya.
"Enggak usah Pak, ngerepotin. Tanggal segitu saya bisa, kok. Mekasih ya, Pak." Aku penasaran pingin punya pengalaman tebus tilang dan enggak pingin merasa bersalah sama diri sendiri kalau pakai adegan mencoba 'kasih uang' ke oknum policek,  tapi tetap saja dialog tilang-menilang terasa ganjil. Namun begitu lah adanya. :D

Di surat tilang tertulis kalau yang dilanggar pasal 288 ayat 2. Setelah  googling (ceritanya persiapan sebelum menghadapi persidangan, buta soal pengadilan, enggak punya pengacara juga :D). Pasal 288 ayat  2 yang inti isinya tidak dapat menunjukkan SIM , denda maksimal Rp 250.000. Tapi beda loh dengan pasal kalau kita enggak punya SIM. Kalau enggak punya SIM itu kena pasal 281 UU No. 22 Thn 2009, dengan denda maksimal Rp 1.000.000.

Kita juga mesti datang di hari, tempat, dan jam yang dituliskan di surat tilang, biasanya dua pekan dari waktu ditilang, tempatnya di Pengadilan Negeri Medan yang dekat Lapangan Benteng dan sebelahan sama Hotel Santika (btw, ada pengadilan negeri, pengadilan swasta ada juga kah?). Kalau jamnya, aku mesti tiba jam 10 pagi.

Dua pekan kemudian, sesuai hari yang ditentukan, begitu sampai di parkiran Pengadilan Negeri Medan sekitar jam  09.50 WIB, disambut bapak-bapak yang menawarkan jasa untuk tebus tilangan, lengkap dengan daftar harganya. Pasal 288 (2) di daftar bapak calo kenanya Rp 120.000. Pernah dapat brosur cicilan motor? Nah, mirip itulah bentuk daftar harga yang disodorkan bapak calo tapi enggak pakai cicilan 12 - 36 bulan. Dari awal memang pingin tahu, rasakan sendiri tebus-tilang, dan mengikuti prosedur,  sekalian berdarma wisata ke bangunan yang arsitekturnya khas tempo doeloe. Waktu itu ditemani emak, emak sedikit ragu ketika bapak-bapak itu bilang, "Biar saya bantu, Bu. Nanti di dalam lama, enggak tau lagi berapa kenanya. Bisa-bisa lebih besar." Baik-baik lah kita tolak tawaran Bapak calo bertopi itu. Sampai di depan pintu masuk gedung pengadilan, pas tanya di mana ruang sidang tebus tilangnya, eh, ditawari calo kedua, kali ini lebih murah jadi Rp 100.000. Ditolak baik-baik lagi  lah.

Bayanganku, sidangnya itu bakal didudukkan di kursi pesakitan, terus ditanya, "Sodara Ririn,..." Tapi ternyata enggak,  lho. Ada ruangan kecil di dalam gedung tersebut, di ruangan itu ada loket seperti untuk beli tiket bus atau bayar listrik. Kita masukkan surat tilangnya ke situ. Di kaca loket penebusan tilang ada tulisan yang berisi peringatan larangan menggunakan calo dan jika diwakilkan sertakan surat kuasa dan fotokopi KTP. Tapi kenyataannya, bapak calo yang tawari jasanya di parkiran tadi justru paling depan, padahal aku duluan masuk ruangan itu. Pas nunggu-nunggu, sempat ngobrol sesama tilanger (orang yang kena tilang), dia bilang dia kena dua pasal. Entah karena naluri calon emak-emak, atau karena sempat baca blog yang menawar jumlah tilang, atau juga teringat drama I Can Hear Your Voice yang pengacara dapat berupaya  mengurangi hukuman yang dituntut  jaksa,  jadi aku pun bertanya ke abang itu, "Denda tilang bisa ditawar?" Abang tilanger  menggeleng, "Enggak, udah ada itu nilainya."

Waktu itu nunggunya enggak sampai 5 menit, udah dipanggil, "Ririn Anindya!" Aku bergegas menghampiri. "Lapan puluh ribu." Katanya. Setelah menyerahkan uang, STNK pun diberikan. "Periksa nama di STNK nya." Lanjutnya. Udah gitu aja? Iya, gitu aja. -__-

Enggak usah khawatir ribet mengurus tebus tilang. Karena enggak pakai ribet kok, bisa duduk-duduk di gedung itu juga, adem. Gedung dengan lantai marmer (atau tegel?) dan langit-langit  yang apik, pencahayaannya juga pas, berasa kembali ke tahun 1940an (eh, tahun segitu aku belum lahir), Sayang waktu itu kamera ponsel lagi hank, kalau enggak, udah poto-poto :D. Bahkan si Emak katanya sempat lihat selintas sel tahanan perempuan (cuman aku enggak lihat dimananya).  Kalau takut lama, bawa aja termos sama mi instan cup, jadi sambil nunggu bisa sambil makan, atau sambil jualan? Aha! Kenapa baru kepikiran sekarang?

Jadi, enggak perlu kita bertekak-kalau kata orang Medan- atau sampai bayar-bayar oknum policek atau calo.  Yah, tapi tetap lebih baik lengkapi surat-surat kendaraan dan patuhi peraturan lalu lintas. :)

Lagian kalau uangnya untuk bayar tilang mulu, entar gimana dong sama tabungan untuk memulai hidup baru? Eh? x_x
Created By Sora Templates