Sesayang-sayang ibu kepada sang bayi, ibu juga bisa lelah. Selelah-lelahnya si ibu, bayi tetap ia cinta.

Jika hari-hari sebelumnya ia begitu dinamis dengan segala aktivitas. Seperti berkerja atau berkomunitas, maka saat baru melahirkan adalah masa ibu banyak 'mengalah'.

Bayi memang enggak pernah memenjarakan si ibu, namun terkadang ucapan atau ekspetasi lingkungan kepadanya, membuat ia terkungkung.

I love you to the moon and back, and to the moon again, and back, begitu terus.

"Baru anak satu kok sudah kerepotan?"
"Gitu aja kok stres, gejala kurang iman!"

Itu sebabnya, peran keluarga terutama suami sebagai support system sangat penting demi menjaga kewarasan ibu baru. Karena tengah beradaptasi dengan tugas yang sebelumnya asing, seperti membersihkan kotoran bayi, menyusui, menimang, bergadang, dan mungkin masih mengurus perkara domestik pula. Kini, keasingan menjadi tugas yang itu-itu saja dan itu-itu lagi.

Alhamdulillah, teman, keluarga, terutama suami benar-benar berupaya jadi support system-ku yang - haduh - ya aku tak jarang mengalami mood swing. Bukan, bukan kufur nikmat. MasyaAllaah, peran baru ini sangat kunikmati, lelah namun seru. Dan kuyakin suatu saat bakal rindu. Tapi bukan berarti 'haram' dilanda penat, kan?

Masa seperti ini, selain apresiasi dari dirinya sendiri dan orang sekitar, para ibu biasanya juga butuh apa? Ya, jalan-jalan atau liburan!

Jl. Abdullah Lubis di depan tempat makan yang akrab dalam kenangan dan masa di depan

Sudah beberapa kali aku dan suami merencanakan liburan keluar Medan pasca melahirkan, namun tak kunjung dapat kesempatan. Kerap ada agenda di akhir pekan, atau terkadang kondisi sedang enggak memungkinkan.

Beberapa hari lalu suami memberi kejutan,

"Hari ini Aa libur." Ujarnya pada Rabu pagi.
"Libur apa?"
"Libur dewe (sendiri). Enaknya kita ke mana?"

Akhirnya kami berwisata dalam kota. Wisata sederhana yang mampu meningkatkan energi untuk hari-hari berikutnya. Bahkan, dalam beberapa jam dapat wisata religi, kuliner, dan alam. Kok bisa?

Wisata Religi

Saat Nua lahir, aku berkata dalam hati,

Kehadiran anak adalah anugrah dari Allah, maka sepatutnya membuatku lebih bersyukur dan dekat dengan Penciptanya, Penciptaku.

Bukan malah sama sekali, misalnya, tak lagi pernah datang kajian. Meski, katakanlah, kajian kini bisa didengar lewat youtube.
Jadi hari itu, kami memutuskan pergi ke taman surga.

Sebagian taman Masjid Al Jihad Medan

Dalam hadis riwayat at-Tirmidzi No. 3510, Rasulullah bersabda,

Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, perbanyaklah berzikir.'' Para sahabat bertanya, ''Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman surga itu?'' Nabi menjawab, ''Yaitu halaqah-halaqah zikir (majelis ilmu)."

Aku langsung terpikir masjid Aljihad di Jl. Abdullah Lubis, Medan. Selain sering ada kajian tak rutin dan event, di masjid ini ada kajian rutinnya juga (tapi saat itu kami belum tahu jadwalnya). Jadi aku dan suami serta si bayi, langsung pergi ke sana dengan motor.

Jadwal kajian rutin masjid Al Jihad Medan

Kami tak berjodoh, kajian baru akan berlangsung bada magrib. Enggak mengapa, setidaknya kami sudah tahu jadwal kajian rutin.

Jam makan siang pun tiba, saatnya berlanjut dengan wisata kuliner.

Wisata Kuliner Medan

Di seberang masjid Al-Jihad, ada tempat makan yang dulu pernah kukunjungi bersama ibu. Di lain waktu bersama sahabat. Di lain kesempatan, bersama kawan komunitas, termasuk suami yang saat itu statusnya masih teman 'satu geng'. Dan hari ini, bersama anak dan si teman satu geng yang telah berstatus suami. Karena sering kemari, sebenarnya sudah lupa berapa kali pastinya.

The Legend of Medan

Mie Ayam Jamur Haji Mahmud Medan, nama tempat itu. Tentu enggak asing, karena merupakan kuliner halal di Medan yang telah 31 tahun melegenda.

Menunya beragam. Disebabkan lagi kangen Mie Ayam Jamur Spesial, tanpa pikir panjang, aku memesannya. Sedang suami memesan Mie Ayam Bakso.

Mie Ayam Bakso Haji Mahmud

Mi ayam dan kuahnya disajikan terpisah. Dalam satu mangkok, kita akan menemukan mi ayam pastinya, jamur yang lembut, sawi rebus dan tauge dengan kematangan pas, bakso, tahu bakso, telur yang gurih, kriuk-kriuk, dan pangsit renyah. Ramai kali isiannya kan ya, seperti kerumunan penonton konser boyband. Sebelum mengaduk dan menambahkan gilingan cabai, aku terbiasa menyeruput kaldu hangatnya lebih dulu.

Mie Ayam Jamur Spesial Haji Mahmud

Makanan enak kerap berhasil meningkatkan tenaga dan menciptakan suasana hati lebih baik.

Acapkali ada kuliner viral yang enggak bertahan lama. Sedang bilangan kepala tiga, bukan umur yang singkat. Tentu ada yang berkembang juga dilestarikan, hingga mampu bertahan dalam hitungan dekade. Bahkan kini, selain di Jl. Abdullah Lubis, telah ada lima cabang lainnya: di Transmart Carrefour Medan Fair, di Carrefour Citra Garden, di Amaliun FoodCourt, dan D’Loft Thamrin Plaza Lt. 7, juga di luar kota Medan tepatnya Jababeka Bekasi.

Wisata Kuliner

Di Mi Ayam Mahmud Jl. Abdullah Lubis tersedia pula meeting room, toilet, dan mushola. Sedang pembayarannya bisa tunai, T-cash, lewat debit BRI, Mandiri, dan BCA, dan yang paling terkini: Gopay.

Selesai melahap mie ayam Medan ini, seperti biasa kalau kemari, aku akan mengambil sate kerang yang juga legendaris di jajaran kuliner Sumatera Utara. Sate kerangnya berselimut bumbu khas yang wuidih... melimpah!

Wisata Taman

Hari belum petang, kaki belum ingin melangkah pulang. Kami pun berdiskusi untuk menentukan destinasi tersohor selanjutnya di kota ini. Museum, Istana Maimun, Perpustakaan, atau taman kota?

Salah satu spot kece di Taman Beringin Medan

Museum Pemprovsu dan Istana Maimun adalah dua destinasi yang sering kukunjungi, terutama saat mengajak tamu dari luar kota. Suatu saat Nua juga akan diajak ke sana. Meski aku enggak ahli sejarah, tapi setidaknya enggak benar-benar cuek. Temanku, seorang sarjana pendidikan sejarah, pernah menuliskan di media sosialnya,

Jika kamu tidak suka belajar sejarah, maka sejarah yang akan memaksamu belajar darinya.

Awalnya, kami memutuskan ke Taman Ahmad Yani yang terletak di pertemuan Jl. Sudirman dan Jl. Imam Bonjol. Sekadar berjalan-jalan sore atau duduk-duduk di sekitar monumen Ahmad Yani setinggi 11 meter. Yang kini monumen tersebut sudah bercat warna. Tidak sama dengan pertama kali saat Ki Heru Wiryono MH membangunnya pada 1965 dan selesai tiga tahun kemudian. Hanya berwarnakan abu-abu batu. Hal ini disayangkan beliau.

Taman Beringin Medan

Belum sampai ke Taman Ahmad Yani, gerimis mulai turun, ditambah sudah waktunya Nua menyusu. Akhirnya, kami menepi di Taman Beringin di persimpangan antara Jl. Cik Di Tiro dan Jl. Sudirman. Yang menurutku, setelah sekian lama tak singgah, kini jadi lebih indah.

Nua menikmati ASI Perahan sejenak (jaga-jaga bawa ASIP sekiranya tidak menemukan ruang laktasi yang pas)

Terimakasih Pak Suami untuk cuti dadakannya. Wisata singkat dalam kota Medan, menambah syukur dan bahagia.

Pekan depan bapak mau ajak kami kemana lagi? Kalau diajak, enggak bakal jawab,

"Terserah, ngikut aja!"

Karena ibu penasaran loh dengan Mie KPK (Kuah Pangsit Krimi atau Kuah Pangsit Kapok) dari Mie Ayam Mahmud dan menu terbarunya Chicken Karage Dynamit Sauce. :)

Sebagai Mahmud (mamah muda) pula, kuucapkan:

Selamat menapak di usia ke-31 untuk Mie Ayam Jamur Haji Mahmud. Salah satu harapan terindah adalah mengharapkan keberkahan, kan? Semoga semakin berkah, dan awet melegenda. Agar Nua yang kini berusia 4 bulan, yang cuma bisa lihat ibu bapaknya makan dan hirup aroma saja, bisa menikmatimu kelak, bersama teman satu geng-nya ataupun anaknya nanti.