Memilih Imunisasi di Bidan atau Dokter Spesialis Anak

Mempertimbangkan imunisasi di bidan atau dokter spesialis anak, mulai dari kelengkapan vaksin, biaya, keamanan, serta kenyamanan.


Saat aku masih di ruang pemulihan, suami mengajak diskusi perihal imunisasi. Kami mendapat tawaran imunisasi dari pihak RS (boleh ditolak ya, namanya juga tawaran). Tapi aku berpikir, kapan lagi Nua imunisasi 0 bulannya. Ya udah, sekalian aja di sini.
Waktu itu meliputi imunisasi BCG dan Polio. Jika dengan DSA (dokter spesialis anak) biayanya 250k dan bidan di RS 100k.

Waktu itu kami memilih DSA biar sekalian konsultasi dan kontrol kedepannya. Dan lagi, DSA nya tergabung di tim operasi lahiranku.

Lalu kami dikasih KMS (Kartu Menuju Sehat) yang berbentuk buku. Di dalamnya ada informasi tentang jadwal dan jenis imunisasi, serta info tambahan seputar bayi. Di situ pula kami baru tahu, kalau DSA nya, praktik di tiga RS, pada hari dan jam kerja saja. Dan RS terdekat itu sekitar 30 sampai 40 menit dari rumah.


Bulan depannya, kami kembali ke RS untuk imunisasi Hepatitis B, di usia 1 bulan baby Nua dengan DSA yang sama, biayanya 300k. Suami yang masa cutinya sudah habis, tetap menemani, jadi ia datang lebih siang ke kantor dan pulang larut malam.S

Sebelum diimunisasi, perawat menimbang Nua dan mengukur suhu tubuhnya. Karena seharusnya memang, anak dalam keadaan sehat saat akan imunisasi.

Menurutku, plus minus imunisasi di DSA ini:
✓ Bisa sekalian konsultasi. Misal, kami sempat bertanya yang "Do & Don't" untuk bayi baru lahir.
✓ Memang spesialisasinya menangani anak.

Oh ya, disebabkan imunisasi BCG saat Nua usia 0 bulan, beberapa pekan kemudian muncul bisul di tempat suntikannya. Aku langsung googling dan akhirnya bertanya ke DSA juga. Hal itu aman dan tandanya imunisasinya bagus. Jarum tidak masuk terlalu dalam, dan sel darah putih 'melawan' dengan optimal. Tak lama, bisul pun hilang tanpa tindakan apa pun.

Saat vaksin polio, yang ditetes dari mulut, kami disarankan untuk tidak menyusui selama 45 menit setelahnya. Menjaga agar vaksinnya tidak dimuntahkan kembali. Bayi kan masih suka gumoh karea sistem pencernaannya belum sempurna.

✓ Selain itu, imunisasi di DSA juga lebih ekslusif karena vaksinnya dalam single dose. Satu vaksin buat 1 suntikan. Jadi kapan datang, bisa langsung imunisasi. Enggak tergantung jadwal seperti yang ditentukan Posyandu.

Sedangkan imunisasi bulan ke-2 kudu mengalokasikan biaya yang lebih besar dari sebelumnya. Imunisasi yang wajib diikuti, yakni Polio (200k), DPT (650k), dan Hib (350k). Lupa-lupa ingat sih perihal ketepatan harga, namun cek di internet juga sekitar segitu.
Sedangkan vaksin pilihannya adalah Rotavirus (400k) dan PCV (600k), bisa saat itu juga, bisa tidak.



Imunisasi selanjutnya, kami beralih ke bidan tempat aku pernah check up saat hamil. Klinik bu bidan ini juga rekomendasi buklik dan temanku. Jadwalnyaa tiap tanggal 5, jam 4 sore sampai jam 7 malam. Cucok, jam pulang kerja.

Tadinya mau ke Bidan Eka di daerah Menteng, bidan yang ramah dan sering berbagi wawasan di kanal youtube dan instagram. Tapi jauh juga dari rumah, dan jadwalnya itu hari senin pekan ke-berapa gitu tiap bulan (diumumkan di IG belio).

Menurutku, catatan imunisasi di posyandu ini:
✓ Rame cyn, jadi rada serba cepat-cepat, gak sempat konsultasi. Aku sampai lupa, apa Nua tadi sempat dicek suhu tubuhnya, di sana. Tapi aku sih udah cek di rumah sebelum berangkat.
✓ Jadwal sesuai yang ditentukan posyandu atau klinik Bu Bidan (kalau untuk kami, jadwalnya cocok, ditambah dekat rumah).
✓ Harganya relatif (jauuuh) lebih terjangkau. Untuk imunisasi DPT Hib (digabung), dan Polio, total biaya 45K udah sama obat penurun panas. Jauh kali bedanya ya. Ini karena vaksinnya multidose, 'berbagi biaya' dengan pasien lain. Dan bisa jadi karena produk lokal, sedangkan di RS biasanya impor. Tapi enggak perlu khawatir, karena produk Indonesia juga sudah sesuai standar WHO.


Imunisasi DPT bakal buat bayi demam sebagai mekanisme perlawanan dari tubuhnya terhadap vaksin tadi. Di dokter ada vaksin yang gak buat demam dengan harga yang lebih. Kubaca-baca sebenarnya fungsinya sama aja.

Pasca imunisasi DPT, suhu Nuha sampai 37,6C. Tapi kami tidak sampai memberikan obat penurun panas yang diberi Bu Bidan (meski obat ini sudah teruji dan aman) karena niatnya mau disusui aja.

Sebelum imunisasi, Nua disusui tiap jam, doyan pula anaknya, tiap ada kesempatan dan dia mau, disusui. Selesai imunisasi malah ogah-ogahan nyusu, semenit-semenit :'(. Sampai-sampai aku peluk Nuha jam 2 pagi, skin to skin sekitar 20 menit. Alhamdulillah, mau nyusu lagi anaknya. Efek 'kurang enak badan' di Nua berlangsung sehari, hari kedua pasca imunisasi dia udah aktif tuwil tuwil seperti biasa.

Lalu kira-kira bagusnya gimana? Ke dokter atau bidan? Kalau ke dokter rasa-rasanya aman di kantong, ya ke dokter pun oke, bisa konsultasi dan enggak ramai. Kalau gak cocok di kantong atau buibu gak terganggu dengan keramaian, ya gak masalah di posyandu atau bidan, bisa lihat-lihat kawan bayi kita yang lainnya. hehehe.

Tapiiii kalau aku, ke bidan aja. 'Kasusnya' : cocok di biaya, waktu, dan lokasi. Karena kalau mau konsultasi, ke dokternya saat check up kesehatan bayi berkala saja. Namun yang jadi catatanku, pastikan kondisi Nua sehat sebelum imunisasi.

Untuk imunisasi yang 'tidak wajib' seperti Rotavirus & PCV bisa ke dokter, dan di beberapa bidan juga bisa dengan by request.

Keputusan seperti ini pun hasil diskusi dengan suami. Cari info ke orangtua dan teman. Baca-baca di google (ntap kali zaman sekarang ya, mudah dapatkan info). Begitu lah Bu, Pak, dalam waktu dekat Nua bakal diimunisasi lagi, semoga jadi lebih 'fight' dari sebelumnya.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Selamat jadi ibu yaa, pasti lagi seneng senengnya gendong bayi. Kok hampir sama kisah imunisasinya dengan yang kami alami ama istriku. Jangan jangan kamu istriku? Benarkah? XD

    eh, mampir juga ya ke tulisan awak hari kedua di 7haringeblog
    aizeindra.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. tolonglah awak kemari awalnya mau komentar normal malah liat drama pasutri ini -_-

      Hapus