Rabu, 07 November 2018

Bersiap dan Berburu Buku di Big Bad Wolf Medan


Dulu, cuma tahu event bazar buku skala nasional bahkan internasional dari kawan – kawan yang tinggal di Jakarta. Mereka pun cerita, banyak sekali stan buku, berbagai genre, bermacam penerbit, dengan harga yang lebih miring. Hanya bisa berucap,

“Wah, enak kali lah ya, berburu buku gitu.”
“Nanti kalau mau main ke Jakarta, di-sekalian-kan pas ada bazar buku aja.”


Alhamdulillah, enggak tahunya lebih dari yang terlintas di batin. Medan kedatangan bazar buku skala internasional: Big Bad Wolf! Zee, Iyik, beberapa kawan FLP dan blogger pun pada bersiap menyerbu event ini.

Big Bad Wolf, itu acara apa?
Big Bad Bad Wolf adalah bazar buku terbesar berskala internasional, dengan tujuan memudahkan akses buku berkualitas dengan harga lebih terjangkau. Jadi, akan ada buku – buku luar Indonesia dengan diskon 60% s.d 80%. Buku – buku lokal juga banyak. Untuk Medan sendiri, event BBW akan menghadirkan 2 juta buku. Untuk bisa ikutan, enggak dipungut biaya yak!


Pertama kali, Big Bad Wolf ini digelar di Kuala Lumpur pada 2009. Penggagasnya adalah Andrew Yap. Yang mulanya bersama sang istri terjun dalam bisnis buku dengan membangun toko kecil bernama BookXcess.

Begitu tahu info ini, jadi excited sendiri, karena pernah singgah ke BookXcess setahun lalu. Tepatnya di Amcorp Mall Petaling Jaya Malaysia – sebuah indoor flea market terbesar di Asia. Pak Azhari Mahmood – yang mengantarkan kami berkeliling Amcorp Mall, sempat bercerita tentang BookXcess, yang semula adalah toko buku kecil tapi sekarang menjadi begitu besar karena kegigihan dan semangat pemiliknya.

Lalu di Indonesia sendiri, sebelum di Medan, Big Bad Wolf telah hadir di Jakarta dan Surabaya. Tadinya, saya pikir di BBW ini cuma bisa belanja buku saja. Rupanya, ada juga kesempatan berdonasi buku dan ngeksis berhadiah.

Lokasi dan Waktu Big Bad Wolf di Medan


Senanglah begitu tahu lokasi BBW di Medan, enggak gitu jauh dari rumah, cuma di kecamatan sebelah. Tepatnya di Gedung Andromeda, Lanud Soewondo. Bisa dibilang, ini juga pertama kali saya ke eks bandara polonia itu semenjak berhenti beroperasi sebagai bandara umum.

BBW Medan berlangsung sejak 2 s.d 12 November 2018. Pukul? 00.00 s.d 00.00. Hooh, 24 jam non stop! Sempat berpikir mau merasakan sensasi belaja tengah malam? Saya sempat pingin, ya.

Persiapan dan Pengalaman datang ke BBW Medan
Persiapan
Karena sudah daftar juga sebagai anggota, jadi berkesempatan belanja buku pada tanggal 1 November. Tepatnya hari Kamis, masih hari kerja. Jadi saya menunggu si Aa pulang kerja dulu.


Pergilah kami dari rumah selepas sholat Isya. Dengan membawa daftar buku incaran masing – masing. Perut dalam kondisi kenyang, dan Aa sempat istirahat sejenak biar tenaga dan matanya ter-charge kembali. Biar enggak kriyep – kriyep. Tak lupa bawa tas kantong sendiri, bekas goody bag untuk tempat belanjaan di sana.

Preview pass bisa didapat dengan mendaftar di laman BBW, undangan media, blogger, vlogger.
Jadi meski masih preview sale, H-1,  pemburu sudah melimpah ruah

Pun dengan uang di kantong yang sudah di-budget-kan kian. Ada banyak penawaran khusus untuk pembayaran dengan kartu debit atau pun kredit Mandiri, wajarlah karena event ini memang disponsori oleh bank tersebut. Tapi tenang saja, bayar tunai atau dengan kartu dari bank lainnya juga bisa kok.


Tak lupa, outfit dari ujung kepala sampai ujung kaki kudu senyaman mungkin karena ini hajatan berburu buku bukan hajatan nikah.

Waktunya berburu!
Meski datang berdua, saya dan Aa memutuskan untuk berpencar berburu incaran. Seingat kami, portal Jalan Komodor Muda Adi Sucipto akan ditutup jam 10 malam. Jalan ini kan termasuk komplek TNI AU gitu (belakangan kami tahu, tutupnya jam 11 malam). Jalan Komodor Adi Sucipto adalah akses terdekat dari rumah (Medan Johor). Kalau sudah ditutup, kami harus berputar lebih jauh lewat Jl. Jamin Ginting atau Jl. Katamso. Jadi agak terburu – buru juga. Dan lagi, memang murni mau berburu buku bukan kencan, haha.


Saya ke bagian buku berbahasa Indonesia dan Aa ke bagian buku bahasa asing. Dia mau mencari buku digital marketing. Sedang saya mencari buku kumpulan cerpen, refrensi, dan buku anak, karena adik sepupu sering singgah ke rumah dan menanyakan ada buku baru apa (buat mereka)? Sebelumnya, dapat info juga kalau di BBW itu buku anak yang paling banyak. Yah, pokoknya berusaha memanfaatkan kesempatan ini dan juga berupaya agar buku yang dibeli tak sekadar jadi pajangan.



Karena waktu kami sangat terbatas, sedang antrian saat itu mengular, dan berpikir masih ada kesempatan besok, jadi belum semua buku incaran yang didapat. Tapi ya hepi lah, dapat buku dengan harga lebih miring. Terutama si Aa yang sempat membandingkan harga buku di BBW dengan pemesanan online.

Harga online banding harga BBW

Seperti yang diceritakan tadi, tujuan BBW kan menghadirkan buku berkualitas dengan harga lebih terjangkau. Terus sempat bandingkan dengan harga yang dijual online dengan di BBW. Pasalanya, ini kan pertama kali kita ke BBW, jadi mau tahu apa harga memang lebih miring atau kabar angin saja?

Kurs 7 November 2018, $1 = Rp 14.594,75

Buku seharga $44, 17 di online di BBW 90rb rupiah

Suasana di Big Bad Wolf
Ramai sekaleee lah waktu preview sale di tanggal 1 November itu. Antriannya panjang. Mungkin karena memang di jam ramai apalagi hari pertama orang – orang bisa berbelanja di BBW. Ditambah untuk kota Medan, ini yang pertama kali. Jadi kedepannya, mesti perkirakan hari dan jam berapa kira – kira yang agak lengang.

Kabarnya, beberapa hari setelah pertama kali dibuka, antrian semakin nyaman
Itu foto lagi antri loh ya, ada pembatas antrian
Waktu itu, saya sempat tabrakan ala ala FTV sama pengunjung lain. Karena kita sama – sama jalan tapi mata hanya menoleh buku yang mau disamperi. Untungnya, enggak ada dialog,

“Mata lah, Lae!”

Yang ada sama – sama tersenyum dan saling meminta maaf. Adem ya kalau enggak pakai emosi jiwa.

Petugas yang Bekerja Ekstra?


Meletakkan buku sembarangan akan membuat petugas bekerja ekstra. Padahal, selain mengembalikan buku yang diletakkan di sembarang kategori oleh pengunjung,  mereka masih harus bolak – balik merapikan buku di stan. Jadi kalau bisa merapikan yang enggak jadi kita ambil, akan lebih bagus.

Kesempatan Berdonasi Buku
Pada event ini juga dibuka kesempatan berdonasi yang ditujukan untuk Yayasan Alusi Tao Toba. Agar masyarakat umum, terutama adik – adik di sana, juga bisa menikmati lebih banyak dan lebih beragam buku. Yayasan Alusi Tao Toba sudah tidak asing lagi, Yayasan ini bergiat mengenalkan pendidikan dan mempermudah akses buku bagi anak – anak di pinggiran danau Toba. 

Histori mimin, kita pantau

Banyak Hadiah

40 pemenang perhari
Siapa saja bisa mengikuti banyak lomba selama BBW berlangsung. Misalnya, lomba foto di tekape, lomba barang bukti belanja di BBW, hingga apresiasi bagi Wolfies – pengunjung BBW – yang terjauh. Kita bisa mendapatkan detail lomba di lokasi atau di instagram @bigbadwolf_id.


Hasil buruan
Kalau belum ke BBW, cus masih berlangsung sampai tanggal 12 Oktober 2018. Yang sudah, yok cerita lah pengalaman seru konkawan di BBW?

Sabtu, 03 November 2018

Durcoff Cafe: Sajikan Menu dan Suasana Menyenangkan

Gambar - gambar cakep di dinding
Ngobroli kafe di Medan itu kayak enggak ada habisnya, karena kemunculan satu kafe diikuti dengan kafe yang lain. Dengan konsepnya masing – masing, tak ketinggalan kemunculan kafe – kafe ‘instagramable’. Jadi memang ada sebagian yang sengaja datang ke kafe untuk pepotoan dan upload ke medsos gitu kan.

Makasi Iyik dan difotokan
Kali ini agak sedikit lebih ‘ujub’ untuk me-review sebuah kafe. Karena biasanya, kafe – kafe yang saya datangi itu udah banyak yang me-review. Yang ini berbeda, sebab kafe yang terletak di Jl, Gagak Hitam, Ringroad ini, memang baru aja launching. Tepatnya pada 26 Oktober 2018 lalu.

Berbekal ajakan teman, datanglah saya ke sana. Pantau di IG @durcoffcafe sih sepertinya nyaman buat ngobrol. Memang kalau memilih kafe untuk makan dan ngobrol ada beberapa pertimbangan.

Ruangan Durcoff Cafe

Dari luar bisa kihat kedalam, jadi terkesan lebih luas

Ada ruang indoor atau pun outdoor. Smooking area juga ada. Jadi teringat kalau pergi bareng Tiwi, ngetem di kafe mana, udah seru ngobrol, eh melintas asap rokok. Langsung rusak mood, kan ada ya sebagian orang yang sangat enggak tahan sama asap rokok. Tiwi lah salah satunya.  Jadi, bawa bayi kemari enggak perlu khawatir terpapar asap rokok.

Luar ruangan
Di outdoor, adanya tanaman – tanaman membuat jauh dari kesan gersang. Dan lampu – lampu malam hari menimbulkan suasana romantis. Sedangkan untuk indoor, di ruang pertama, pada lantai ada gambar gambar permainan. Rapi, bersih, ber-AC dengan suasana hangat, mungkin karena cahaya lampunya.

Ruang pertama, bebas asap rokok
Sedangkan di ruang kedua, di sana ada bar tapi lebih lapang karena meja dan bangku tidak lebih banyak dari ruang pertama. Di Durcoff Cafe ada juga permainan yang bisa dimainkan bersama. Jadi anti bengong.

Ruang kedua, smooking area
Oh ya, sempat tanya-tanya juga, "Bisa enggak di Durcoff Cafe jadi tempat meet up acara komunitas?". Ternyata bisa, enggak ada syarat yang meribetkan, cuma perlu hubungi pihak Durcoff Cafe aja.


Mushola
Kebiasaan kalau sudah sengaja meet up sama kawan, enggak bisa itu satu dua jam, dan ya biasanya kena waktu sholat. Jadi keberadaan mushola sangat penting buat kita. Kalau pun enggak ada musholla, ya minimal bisa jalan kaki ke masjid.

Di bagian belakang kafe
Untungnya di Durcoff  ada mushola dan tempat khsusus berwudhu. Meski musholanya enggak pala besar tapi bisa lah menampung 5 sampai 6 orang.

Makanan dan Minuman
Sampai di Durcoff kemarin, sekitar jam 5 sore. Itu kan dah masuk Waktu Indonesia bagian Ngemil kan? Jadi pesan Avocado Coffee dan dimsum rumput dulu. Sedang si Iyik pesan waffle dan Guillermo.

Minuman
Pesanan saya, Iyik, dan Aa
Jadi tuh saya kan bukan golongan penikmat kopi sejati. Kopi sachet-an pun dilibas habis, suka yang kreasi kopi – kopian lah. Beda sama Iyik dan si Aa, kalau minum kopi ya yang benar – benar ngopi.  Tapi kali ini mereka mau mencoba pesan kopi yang berbeda dari biasanya. Enggak tahu kenapa, pas cicip pesanan si Iyik, suka. Guillermo ini, kopi dingin dengan potongan lemon. Mungkin asam lemonnya menimbulkan efek rasa manis yang tipis?

Cemilan
Aneka cemilan yang bisa buat kenyang atau menuda lapar
Rame sih jenisnya, mulai dari aneka dimsum, waffle, kentang atau ubi goreng. Dimsum rumput laut yang saya pesan itu terasa gurih tapi enggak terasa micin, sedang saosnya pedas, enggak encer ataupun terlalu kental. Tiga dimsum seharga 18k. Biasanya, kalau beli di pinggir jalan, harganya 15k. Kirain kalau masuk kafe gini, bakal naik 1,5 kali lipat.

Dimsum rumput laut

Makanan utama
Kalau cuma mau ngobrol – ngobrol, cemilan dan minuman udah pas di perut. Tapi kalau memang lapar atau udah masuk Waktu Indonesia bagian Makan, ada nasi – nasian yang bisa dipesan.
Chicken Holic Pedas Manis
Waktu itu saya pesan Chicken Holic Pedas Manis. Potongan-potongan ayam goreng yang lembut dengan lapisan tepung, kayak katsu tapi bukan, terus pakai saos pedas manis. Kayak ada rasa lemon atau apa gitu di ayamnya. Ada rebusan brokoli yang enggak begitu matang, menurutku ini teksturnya pas. Ditambah nasi hangat dan telur mata sapi disajikan dalam mangkok. Kenyang. Saya enggak tahu ini masakan mana, atau mungkin resep sendiri? Tapi kayak makan je-Jepang-an rasanya.

Pesanan Iyik, Saya, dan Aa

Untuk yang pingin sensasi rasa Indonesia buanget, ada pilihan kari dan gulai ayam. Sempat cicip kari pesanan Iyik, terasa nendang kuahnya. Dalam mangkuk kari itu ada dua potong ayam, dan sebuah kentang bulat, disajikan dengan sepiring nasi, acar segar, dan emping. Perempuan memang suka icip – icipan.

Harga
Dikasi lis pas mau pesan

Perihal harga, itu relatif. Ini pernyataan umum sekali. Tapi emang begitu adanya. Ada yang kita bayar dengan harga standar tapi jauh sekali dari puas, jadi terasa mahal. Atau semakin jauh dari tanggal gajian, maka harga-harga terasa mahal, haha. Biasanya begitu. Untuk Durcoff Cafe sendiri menurutku, dengan makanan, minuman, suasana, dan pelayanannya, harga yang harus kita bayar termasuk standar, enggak mahal. 


Wifi dan Colokan Daya
Bisa minta password wifi

Wifi dan colokan mah sepaket ya, kayak pengantin baru yang rasanya harus selalu bersama. Kemarin itu saya enggak sempat coba wifinya, karena masih banyak data, sedang udah mau masuk waktu batas pemakaian. Jadi data di hape harus dipakai dengan foya-foya.

Lokasi
Biasanya, lokasi yang dikatakan strategis, berada di pusat kota atau enggak jauh dari pusat kota, dan dilewati angkutan umum. Sedang Durcoff Cafe enggak dilewati angkutan umum tapi tenang, enggak jauh kok dari simpang Mall Manhattan yang di Jl. Gatoto Subroto. Kalau naik angkutan online atau kendaraan pribadi aman ya, karena letaknya di pinggir jalan Ring Road, dengan parkiran yang cukup luas.


Bingung Yik pilih yang mana?

Itu tadi pertimbangan – pertimbangan saya memilih kafe yang memang sengaja datang untuk ngobrol dan makan. Alhamdulillah, enggak kecewa main – main ke Durcoff Cafe. Kalau kawan, kafe yang bagaimana? Wajib ‘instagramable’?

Created By Sora Templates