Sabtu, 20 Mei 2017

Warisan Nenek: Gaya Hidup Sehat dan Bahagia

Tanaman herbal di belakang rumah
Siapa yang saat masih anak-anak sering dicekoki minum ramuan herbal, misalnya jamu? Atau siapa yang punya ibu hobi berkebun, entah itu menanam bunga, pohon, atau tanaman herbal yang juga bisa jadi bumbu dapur? Kalau ada yang jawab, "Sayaaaa!" Tos! Kita senasib! Jadi pos kali ini bakal menuliskan 'takdir' saya yang mungkin ada manfaatnya bagi kawan-kawan. Kali aja kita bisa berbagi pengalaman sembari menambah wawasan.

Dulu waktu saya masih TK dan ibu baru melahirkan si adik, tiap pagi pasti ada mbak jamu berhenti di halaman rumah. Beliau tukang jamu keliling langganan ibu. Saya juga ikutan minum. Dan ternyata, kebiasaan ibu mengasup minuman herbal merupakan gaya hidupnya nenek. By the way, nenek saya sekarang usianya memasuki 77 tahun dan masih sanggup melakukan banyak hal sendiri, terutama hobi beliau: berkebun.

Bisa dibilang kalau aktivitas saya saat itu dibuat lagu, lagunya jadi, "Pok ame-ame belalang kupu-kupu, pagi minum jamu kalau malam minum susu."

Jika saya bertanya, "Agar apa minum jamu?"
"Supaya sehat." Singkat ibu menjawab.
Biasanya untuk anak-anak, jawaban ibu adalah yang paling valid. Percaya aja mah. Dan memang benar, biar sehat tapi kenapa bisa? Saat itu saya tidak mencoba mencari tahu. 

Namun setelah pindah rumah ke gang yang lebih kecil dan letaknya nyaris di ujung, enggak pernah lagi ada mbak jamu yang lewat. Alhasil semakin jarang lah minumnya, itupun buat sendiri dari hasil kebun mungil di halaman.
Jamu temulawak buatan ibu
Yang paling sering dibuat ibu adalah jamu kunyit asam dan jamu temulawak. Jamu kunyit asam, biasanya diracik saat ada yang nyeri haid. Sedangkan jamu temulawak, disajikan kalau panen atau ada yang lagi rada enggak enak badan, pegal-pegal, dan kelelahan.

Kalau sekarang mulai kepo dong ya, kenapa temulawak berefek bagi tubuh? Ternyata pada tanaman herbal khas Indonesia ini, terdapat kandungan zat Kalagoga yang berfungsi mengatur produksi cairan empedu, sehingga dapat menjaga fungsi hati. Selain itu, kandungan kurkumin dapat menghambat pembentukan trombokson B-2 yang merupakan senyawa pemicu penggumpalan darah. Tak ketinggalan, ekstrak temulawak dan Kurkuminoid berguna menurunkan kadar kolesterol.

Temulawak di halaman rumah
Menurut laporan WHO pada 2011, diperkirakan 35% masyarakat Indonesia memiliki kadar kolesterol di atas batas normal. Tubuh kita sebenarnya memerlukan kolesterol untuk membantu membangun sel-sel baru, namun kadar kolesterol berlebih justru membahayakan. Dampaknya antara lain mudah merasa kebas, pegal, atau rasa nyeri seperti di dada, meningkatkan risiko penyempitan arteri, penggumpalan darah, stroke, bahkan serangan jantung. 

Makanan tinggi kolesterol, jarang olahraga, faktor keturunan, dan pola hidup tak sehat dapat mengakibatkan tingginya kadar kolesterol.

Bersama para murid
Bicara tentang pola hidup, jadi teringat dengan kegiatan saya yang jadwalnya sering enggak teratur. Sebagai guru bimbingan belajar, saya mengajar sore dan malam hari. Selain itu, juga berorganisasi, dan kadang mengejar deadline tulisan yang bisa membuat terjaga sampai dini hari. Pernah nge-drop juga, di situ baru teringat taubat dari hidup sembrono. Walau sekarang belum total dengan healthy lifestyle tapi ya mulai belajar untuk membiasakan. Salah satunya, mempertimbangkan apa yang masuk ke dalam tubuh. Pun agar enggak kalah bugar sama nenek.
.
Salah satu aktivitas organisasi: main di alam
Kalau dipikir-pikir, sekarang minum minuman herbal enggak mesti ribet, asal tetap bijak dalam memilih yang tepat. Guys, karena bukan cuma memilih jodoh aja yang harus bijak. Penyajian juga bisa lebih bervariasi dan menyenangkan, misalnya bahan herbal tadi atau sarinya dapat ditambahkan ke teh, es buah, bahkan es krim. Aneh? Enak malah, saya sudah pernah coba.

Kalau kawan-kawan paling suka minuman herbal apa? Atau punya racikan herbal yang yang sering buat kangen? Mau tahu, dong! Kepo yang baik boleh kan? Hehe. Share ya pengalamannya. Thank you.
Created By Sora Templates