Kamis, 02 Maret 2017

Fashionable Tanpa Menyiksa Diri ala NutsMeetUp

Minggu, 19 Februari 2017 sudah saya jadwalkan untuk istirahat di rumah, ya palingan satu agenda: menemani ibu undangan. Soalnya hampir tiga pekan terakhir, setiap harinya keluar rumah terus dan malamnya juga sampai jam 10-an. Maklum, menghitung lubang di jalanan kota ini yang belum tahu kapan habisnya.

Tapi rencana itu berubah ketika rudihartoyo.com mengajak saya dan beberapa teman blogger lainnya menghadiri #NutsMeetUp bersama Mbak Nuniek Tirta pada tanggal tersebut di Pilastro Cafe Medan. Bersebab kesan positif tentang Mbak Nuniek saat pertama kali bertemu tahun lalu dan pada #NutsMeetUp bakal menyinggung super affordable style, tentu sebuah kesempatan yang tidak akan saya lewatkan dan dengan senang hati menghadirinya.

(Doc. Mbak Nuniek) 

Terus terang, bisa dilihat sendiri bahwa saya bukan orang yang fashionable atau mengikuti perkembangan mode, hanya menggunakan apa yang nyaman *dan apa yang sudah disetrika. Namun di luar itu, saya menyetujui tentang edukasi super affordable style ini dan ingin tahu how can she looks always fashionable and charm?

"Kita yang beli barang bukan barang yang beli kita." Mbak Nuniek mengawali. Ya sih, tak jarang ada yang berupaya tampil di luar batas kemampuan khususnya kemampuan finansial demi terlihat wah. Hingga akhirnya terlilit hutang dan menomor-sekian-kan sesuatu yang lebih diprioritaskan.



"Uang 100 ribu di di dalam palstik kresek atau di dalam dompet branded tetaplah uang 100 ribu." Tambah Mbak Nuniek. Sebuah pesan sederhana namun sering dilupakan. Don't let the pricetag defines your self value.

Berikut ini nih yang saya tangkap dari sharing-nya Mbak Nuniek bagaimana tetap fashionable dengan affordable style :

Mindset 
Mungkin ada yang berpikir bahwa pakaian cantik dan bagus hanya ada di mall dan butik, dan sudah pasti mahal. Tapi coba lihat deh Mbak Nuniek yang fashionable, orang - orang kerap menduga harga pakaian yang ia 'pamerkan' di akun instagramnya jauh lebih mahal dari harga sebenarnya karena memang ia mampu untuk itu. Ternyata Mbak Nuniek membeli pakaian atau aksesorisnya yang chic tidak melulu di mall atau butik dan tidak melulu dengan harga tinggi!

Ya memang sih, ada uang ada rupa. Maka saat belanja, kita perlu memanajemen ekspetasi. Kalau yang dibayar 100 ribu, ekspetasilah dengan kualitas 100 ribu atau di bawah itu, biar enggak kecewa. Terutama kalau belanja online.

Belanja saat sale? Kenapa enggak kalau harganya bisa lebih miring. Second hand? Kenapa enggak kalau masih bagus, sangat layak, dan kita suka dengan barangnya.

Sale di NutsMeetUp serba 25K

Satu tips dari saya, jangan belanja saat lapar, bisa buat kalap. Kalau enggak buat kalap, buat pingsan. Dua-duanya saya pernah. TT

Know your body
Coba cari yang mana menjadi kelebihan dan kekurang kita. Misalnya, kita terlalu kurus, maka disiasati dengan pemilihan pakaian yang tidak membuat kita tampak semakin kurus atau disematkan sesuatu aksesoris sebagai pengalih perhatian dari kekurangan kita tadi.

Mix and Match
Memadu-madankan pakaian - pakaian yang sudah ada. Misalnya penggunaan outer dengan t-shirt atau dengan dress. Memadu-madankan warna, aksesoris, menyesuaikan motif.

Be Proper 
"Gue mah emang gini, mau kuliah, nongkrong, pengajian, penobatan raja, dan nikahan mantan gaya gue tetap berantakan, plus sandal jepit".

Apa yang kita tampilkan, sebenarnya akan menjadi bagaimana cara orang mengenal kita. Berpakaian sebagaimana kita ingin diterima. Mungkin kita ingin diterima sebagai orang yang berantakan. Namun ada saatnya kita berpakaian rapi atau sesuai suasana untuk menghormati yang punya hajat, itu attitude.

Misalnya, kan enggak cocok juga pakai gaun pesta kerlap kerlip untuk menghadiri pemakaman. Atau mau melamar anak gadis orang tapi pas jumpai orang tuanya masih pakai celana training habis main futsal dan kaos oblong yang belum ganti dari kemarin. Kalau laki-laki itu yang mendatangi rumah saya, kok rasanya dia seperti gak menghormati orang tua saya.

So, be proper, sesuaikan dengan suasana, sepantasnya dan tak harus berlebihan.

Beauty Investment
Ya, intinya pintar-pintar merawat diri, merawat kulit. Termasuk dalam memilih skincare. Kadang ada skincare yang menawarkan harga murah dengan hasil instan. Eh, rupanya bermerkuri, enggak sehat untuk kulit. Nah, skin care jenis ini sesungguhnya adalah skin care yang 'mahal'. Karena mesti mengeluarkan uang untuk kulit yang rusak dan bisa berakibat ketergantungan.

Ada pula skincare yang harganya di atas rata-rata namun aman dan sehat untuk kulit, hasilnya mau pakai make up yang biasa aja atau dari brand ternama, atau enggak pakai make up, wajah tetap aja kelihatan fresh. Skin care ini enggak bisa dibilang mahal, karena yang namanya 'mahal' itu ketika kualitasnya jauh kebanting sama harganya.

Tapi kan tetap aja ngerogoh kocek dalam? Itu namanya investasi. Namun tetap ada alternatif untuk super affordable style. Misalnya dengan memilih pola hidup sehat dan bahan-bahan alami yang mudah didapat. Contohnya buk le saya, yang umurnya hampir 40 tahun tapi kulitnya jauh lebih muda dan fixed saya rada minder. Dia jarang treatment ke beauty clinic atau pakai serum. Sering ketika duduk-duduk ngobrol, nonton TV, dia oleskan masker tomat buatannya ke wajah, atau buat masker jamu-jamuan yang terbuat dari beras, kemuning, kayaknya itu resep nenek moyang. Usaha dan waktu ekstra memang.

(Doc. Mbak Nuniek) Mbak Nuniek dan Mas Natali.
Single dilarang baper. Jadikan salah satu relationship goal :
berbagi inspirasi bareng pasangan
Pertemuan ini menjadi salah satu yang medorong saya untuk memperbaiki diri yang kadang masih semena-mena memadu-madankan pakaian. Saya akan tetap memilih berpakaian yang paling sesuai dengan diri dan enggak harus ikut tren namun paling tidak, lebih rapi dan merawat badan yang sudah Allah kasih pada saya. Bukan hanya untuk menghormati yang punya hajat atau tuan rumah, misalnya. Tapi juga untuk menghormati diri sendiri.

Hal lain yang saya tangkap dari Mbak Nuniek adalah tetap meningkatkan kualitas diri, percaya diri, dan hindari gengsi. Cukuplah Syahrini yang pakai tas Hermes untuk belanja sayur. Saya, jangan.

7 komentar:

  1. Hehehhe kalimat terakhirnya kocakkk :))) Thank you Ririn for coming and sharing, I really appreciate it. Tulisannya bagus!

    BalasHapus
  2. kalau mau belanja sayur, ih lebih cocok pakai tas Michael Kros aja yakan kk?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tas bambu alias keranjang, dek. Jadi match dengan sayur, nature gitoh

      Hapus
  3. Point attitude masih dipertahankan. Untuk menghormati teman yg ngajak dan yg ngundang

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahaha, makanya dipala-palain pake heels dan kebaya ya yo sembari menyusuri rel kereta

      Hapus
  4. Jangan belanja pas lapar, ntar biaa kalap atau pingsan...makanya kalau diingatkan ibuk buat makan langsung dibuat ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    Salah fokus jadinya kan awak komennya๐Ÿ˜…

    BalasHapus

Created By Sora Templates