Selasa, 20 Desember 2016

4 Kudapan di Medan untuk (Calon) Mertua

Self reminding
Saya belum memastikan bagaimana asal muasal martabak dan kawan karibnya, putu bambu, kerap menjadi buah tangan untuk calon mertua. Dan kali ini, saya akan menawarkan alternatif lain. Misalnya, seperti sahabat saya, nufazee.com. Dulu, calon suaminya langsung membawa keluarga beserta penghulu. Eh tapi karena judulnya adalah kudapan atau kuliner, dan keluarga mempelai beserta penghulu enggak termasuk kudapan, baiknya mereka kita skip.

Alternatif-alternatif ini terinspirasi saat saya gabung dengan kawan-kawan BlogM-Blogger Medan. Anak-anak BlogM kan mayoritas jomblo, kok bisa terinspirasi dari mereka? Karena kudapan ini adalah kudapan yang pernah saya lahap bersama atau kenal melalui mereka. Nanya sendiri, jawab sendiri. Mulai dari saat sekadar kumpul bahas template, saat Durian (Diskusi Ringan Anak Medan) - event rutin Blog M, dan yang baru-baru ini; salah satu rangkaian #MedanBlogFest yakni "Wisata Kuliner".

Setelah dipikir-pikir, yang saya lahap tersebut bisa dijadikan buah tangan untuk mertua atau pun calon. Apalagi kudapan-kudapan ini umumnya khas Indonesia dan patut dilestarikan. Bisa jadi, calon mertua akan berpikir,

"Budaya aja kamu jaga, apalagi anak saya."

Oke, ini dia, saya list berdasarkan kurun waktu.

Mei, 2016
Bulan di mana saya berkumpul dengan anak - anak BlogM di Maidanii pancake Durian yang bertempat di Jl. HM. Yamin No. 121 Medan. Di sana, kami ngemil-ngemil sembari diskusi perihal template blog. Inspirasi kudapan pertama untuk (calon) mertua, saya dapatkan dari pertemuan ini.

1. Pancake Durian

Manis, lembut, dan creamy
Kurang afdhol kalau ke Medan enggak coba durian, buah khas kota ini. Ya walau kadang makannya agak ribet dan kurang anggun aja, tapi siapa peduli juga, kan terbayar dengan nikmatnya buah durian. Apalagi setelah diselidiki kalau calon mertua suka durian, cocok juga nih jadi buah tangan. Namun terbayang ribetnya bawa buah berduri ini ke rumah calon mertua, dan saking prepare-nya, si calon menantu bawa parang juga untuk kupas durian, alhasil timbullah salah paham, 

"Datang - datang ngajak begadoh, bah. Ngancam-ngancam pula bawa parang. Mau melamar atau nge-begal?"

Maka alternatifnya, bisa bawakan calon mertua pancake durian atau olahan durian lainnya. Untuk refrensi olahan durian lainnya, bisa intip tulisan saya "Sop Durian Kuliner Khas Medan".


November, 2016
Kayaknya saya udah makan orong-orong saat masih berbentuk embrio, makan melalui pencernaan emak saya. TK, SD, SMP, sampai cakep begini, jajannya orong-orong. Selain dimakan begitu aja, bisa juga ditaburkan di atas mi sop, soto, atau makanan berat lainnya, makan barbel salah satunya. Dan terakhir kali ngemil orong-orong itu, November lalu. Saat dapat bingkisan orong-orong di acara Durian (Diskusi Ringan Anak Medan) BlogM. Jadi kudapan berikutnya adalah: 

2. Orong - orong Medan

Gurih dan kriuk-kriuk
Kadang dijual di warung dalam bentu rentengan (beda-beda mereknya)
Kalau kita ketik di google "Orong-orong", yang keluar adalah sejenis jangkrik. Tentu maksudnya bukan bawa serangga berfamili Gryllotalpidae ini. Seram amat. Tapi snack orong - orong Medan. Snack ini rasanya gurih, gara-gara ada campuran udang kecepe. Enggak usah minder bawa orong-orong, terutama kalau timing-nya pas. Misalnya saat nonton pertandingan final bola. Apa enggak tambah akrab?

Cerita soal final bola, jadi teringat saat Indonesia vs Thailand pada liga AFF beberapa hari lalu. Adik-adik saya udah teriak-teriak support pemain Indonesia,

"Ayo maju, Boy! Semangat, Boy!"

Kadang, saat lawan mendekati gawang tim Indonesia, adik-adik saya jadi rada cemas agak histeris. Ibu saya pun yang sambil melipat pakaian, jadi ikut-ikutan histeris. Ketika kami hening sejenak, ibu pun bertanya dengan serius,

"Gawang kita yang sebelah kiri atau kanan?"

Maaak, I love u full dah.


4 Desember, 2016
Kudapan ke-3 dan ke-4 merupakan kudapan yang saya icip saat mengikuti salah satu rangkaian #MedanBlogFest, awal Desember lalu. Dan akan disusul dengan kegiatan-kegiatan seru bin edukatif lainnya, masih dalam rangka #MedanBlogFest. Kegiatan ini diselenggarakan menyambut ulang tahun kedua BlogM-Blogger Medan pada Februari 2017 nanti, yang mana acara puncak diberi judul "Blog Fest 2 You".

3. Kue Bika Sumatera Barat

Bika Sumatera Barat
Kota Medan, salah satu kota terbesar di Indonesia. Suku yang mendiaminya pun cukup heterogen. Ditambah masyarakat Minang yang enggak sedikit merantau dari kampung halaman. Jadi enggak heran kalau makanan khas Minang juga bisa ditemukan di Medan. Contohnya kue bika Sumatera Barat. Beda ya, kue bika Ambon (yang asalnya Medan) dengan kue bika Sumatera Barat.

Kue bika ini terbuat dari campuran kelapa, tepung, dan gula. Masaknya dengan cara dipanggang menggunakan sabuk kelapa, di bagian atas dan bawah. Kalau ingin, bisa kita temukan di Jalan Amaliun Medan. Harganya Rp 2.000/buah. Kue ini cukup manis, jadi enaknya ditemani teh manis - manis-manis jambu, kopi hitam, atau air putih hangat.

Waktu saya tanya pada penjual kue bika ini, Ibu Normalis, 

"Ibu sudah berapa lama jual kue bika ini?"

"Ibu jual mulai dari kelapa harga 500 per butir."

Ya Salaam. Jawaban bu Normalis buat saya langung mengingat-ingat harga kelapa sekarang. Akhirnya saya tahu, Bu Normalis menjual kue bika sejak 25 tahun lalu. Karena selain saya, teman-teman lain juga bertanya hal serupa.

4. Rujak Kolam Dewi

Serunya Wisata Kuliner Medan Blog Fest
(doc. Blogger Medan)
Bawa rujak ke rumah calon mertua? Kenapa enggak? Ini ada filosofi tersendiri loh, yaitu "Cukup rujak aja yang pedas, lidah mertua, jangan." T_T. Rujak kolam ini dijual di sekitar Kolam Dewi. Letaknya itu cukup strategis, dekat dengan Masjid Raya dan Istana Maimon. Bisa jalan - jalan sekalian. Kalau saya ditanya, pesan yang pedas, sedang, atau tidak? Saya pesan yang pedas. Karena ketika pesan level sedang, saya rasa kurang greget. Ntah itu mungkin tergantung selera, ya.

Ntar kalau udah nikah dan mau makan rujak ini bareng pasangan, setelah nge-date ngitar-ngitari kolam misalnya. Pesan rujaknya satu porsi bagi dua aja. Bukan karena mau romantis-romantisan melainkan karena satu porsinya udah lumayan banyak. Tapi kalau kekeuh pesan satu porsi per orang, baiknya bawa kotak makan kosong dari rumah, jadi kalau enggak habis bisa bawa pulang.

Nah loh, beli rujak aja saya hemat, apalagi uang belanja, ahaha. Bukan, bukan, cuma sayang kan kalau makanannya jadi mubazir karena perut udah kepenuhan, Nah loh, makanan aja disayang apalagi keluarga, ahaha. 

Kalau ke rumah calon mertua, tentu yang paling utama yakni bawa niat menghalalkan anaknya, niat beribadah. Kalau ingin tambah menyenangkan hati, bisa bawa kudapan. 

Yes! Kita bisa membawa buah tangan untuk menyenangkan hati orang lain, apakah itu calon mertua atau pun udah jadi mertua, sahabat, pun terutama keluarga sendiri.


Jadi 'kamu' mau bawa kudapan apa ke rumah?


12 komentar:

  1. Sayangnya mertuaku gak suka duren rin ^o^ tapi aku suka, suka banget *cuma ngasi tau haha

    Btw, kue bika mirip kue sangko yg dr barus itu ya? Rasanya masih tebayang2 di lidah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah walau pun mertuamu enggak suka duren, setidaknya melalui dirimu mereka menerima cucu yang lucu dan sholeh aamiin. Sihiiy. Atau coba olahan lainnya.

      Aku agak lupa sama kue sangko, tapi mungkin lah ya, karena Barus kan dekat-dekat Sumbar.

      Hapus
  2. Kue bika itu dimananya kak? sebelum atau sesudah Kedai Muslim? dan jam berapa aja bukanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sebelum Kedai Muslim, fik. Tapi lebih tepatnya, Jalan Amaliun, sebelah Gang Damai. Kalau Taufik masuknya dari simpang hotel Madani, yang jual ini di sebelah kanan. Tempatnya kayak jual gorengan gitu, dekat situ ada kedai kopi juga. Buka jam 9 pagi, biasanya sampai jam 5 sore, tapi jumat tutup.

      Hapus
  3. Sekarang harga kelapa 5 ribu ya kalau tak salah. Berati tiap tahun harga kelapa naik berapa ya? 😄😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya wi, kelapa pun kena inflasi :D

      Hapus
  4. Kayaknya aku kok belum pernah icip kue bika itu, ya. Ihik... kemana aja selama iniiii??

    BalasHapus
  5. ini aroma tulisannya lagi kemarok mau nikah nampaknya atau lagi ngasih kode. mertua, menantu, suami, itulah bahasanya. hahaha kakaaaa.... cak udah ada yang bawakan makanan2 itu ke rumah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarok mo nikah bah wkwkwk. Bukanlah. Cuma sering lebih ngalir & fun aja kalo pakai gaya yg begini. Dan bukan kode. Bukaaaan. :D

      Hapus
  6. Kode pun gak apa juga sih rin, biar kita aminkan kenceng kuenceng ya kan sabda ^o^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku #timAamin bantu doa dan dukungan kuencang

      hahah
      Agak kekeh baca postingan ini, apalahi lihat emot dr line itu. Teringat suatu kejadian gitu

      Hapus

Created By Sora Templates