Minggu, 28 Februari 2016

Alasan ‘Anak Kamar' Main ke Kafe

Kafe gak lagi sebatas tempat makan dan minum
Aku bukan pasukan nasi bungkus, tapi memang lebih kenal koordinat rumah makan Padang atau warung mie ayam ketimbang kafe. Itu pun seringnya enggak makan di tekape alias dibungkus.

Namun setahun terakhir, nih kaki jadi rada ‘anak main’ gitu. Mainnya ke kafe. Seiring makin semaraknya pertumbuhan kafe di Medan dan acara – acara digelar di sana. Selain memang belakangan melek instagram dan gak jarang lihat kafe dengan konsep unik yang buat penasaran atau sajiannya yang reccomended. Oke, banyak juga alasanku rupanya.

Gambar-gambar lucu di dinding kafe, abaikan modelnya

Sepengamatanku, beberapa sebab mahluk di sekitarku atau aku ngetem di kafe:


1.       Free WiFi
Beberapa teman sengaja ke kafe untuk wifi-an. Alkisah, malahan ada teman yang tunggu diusir gara-gara wifi-an. Tapi kalau aku, selagi ada data internet sendiri, biasanya gak manfaatkan wifi kafe *congkak, takabur, ujub, ahaha. Ya mungkin memang karena ke kafe bukan utuk wifi-an. Biasanya wifi-an gratis itu di perpustakaan umum.

2.       Cozy


Nyaman di sini meliputi adem, bersih, gak crowded dan berisik. Tapi kalau pergi rame-rame sama teman dekat dan bukan untuk membahas sesuatu yang teramat penting semisal rahasia negara, gak peduli tu kafe mau padat atau enggak, berisik atau enggak, ‘hajar’ aja. Cuma kalau pergi sendiri atau hanya dengan satu atau dua orang teman, kriteria cozy  jadi penting. Kalau bisa pun yang bangkunya empuk. :D. O iya, yang jadi pertimbangan penting bagiku juga: ada mushola.

Pernah beberapa kali, pergi ke kafe sendirian buat nulis, gayanya mau niru Radit atau Dee yang sering nulis di kafe. Yang ada: aku lapar, makan, trus ngantuk, trus pulang, tidur, dan nulis di kamar. I love my private room, so much. Tapi juga suka jalan-jalan kok, gak di kamar mulu. Jadi, kapan kita kemana? #Eh?

3.       Harga
Cita rasa yang berkarakter, memberi pelayanan yang terbaik, dan harga yang ekonomis
(Tulisan di dinding)
Ampun dah, banyak maunya tapi juga masih mikirin harga? Ya iyalah, hemat dan sederhana itu expensive lifestyle! Atau karena memang naluri (calon) emak-emak yang bawaannya suka ngirit? Terutama kalau nongkrong sama teman yang masih mahasiswa atau belum merdeka secara finansial. Sekarang aku juga belum merdeka sampai swasembada, tapi setidaknya kalau ‘nge-kafe’ udah dari kantong sendiri, dan itu artinya semakin banyak pengeluaran untuk nongkrong di kafe semakin berkuranglah alokasi untuk yang lain. Dengan kata lain, perlu ada yang namanya ‘sense of sensitivity  n’ priority’. Finally, ini balik lagi  ‘nge-kafe’ tadi mau ngapain; mau kumpul bareng teman, mau nikmati suasana yang acapkali berbanding lurus dengan kedalaman kocek yang dirogoh, atau tujuan lainnya. 

4.       Konsep dan sajian
Kafe yang ada permainannya
Salah satu sebab lainnya, ya ini: konsep yang beda - bisa jadi dari tema atau desain kafe, dan sajiannya yang sering kali memantik rasa penasaran dan menggugah selera. Belakangan kafe juga jadi tempat foto-foto, jadi seperti tempat wisata. O ya, buatku yang pasti harus halal food n’ drink.


5.       Friendly dan fast response
Aku pernah baca novel yang judulnya “4 Musim Cinta”, salah satu tokoh utamanya suka banget ke suatu kafe karena baristanya ramah dan bisa jadi teman cerita. Ada juga orang yang kukenal begitu, malahan kafe itu jadi second home-nya. Dan ada satu kafe juga, yang pernah aku datangi, ramah banget, walau pun dari sisi lokasi gak gitu suka, tapi rasanya aku bakal balik lagi.

Fast response, mirip – mirip ol shop jadinya. Yang gak peka atau sering mengabaikan akan kalah dengan yang fast responseplease, ini bukan kode.


Kalau kamu, pilih kafe yang gimana?


*Tulisan ini diikutsertakan dalam menulis blog keroyokan Blogger Medan edisi Februari 2016.

11 komentar:

  1. kita sama kak, anak kamar hahaha. kalok ga ikut komunitas gadak ceritanya awak nongkrong di cafe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo udah di rumah, tahan di kamar, ntah depan laptop, guling2,senam2 :D

      Hapus
    2. kok pada jadi anak kamar semua sih disini
      gak ada anak mama gitu

      Hapus
  2. Dakuh bisa dibilang mantan anak nongkrong cafe.. huahahaha.. dulu tiap minggu wajib hunting cafe baru yg nyaman, sekalian review juga siy.. hihihi. Sekarang? Teteuuupp.. tapi ga wajib kafe baru, yg penting masih enak buat ngadem n makan minum lah Rin :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan sekarang pilihan cafe makin variatif ya kak

      Hapus
    2. wahahahaha kalo kak molly mantan, sebagai anak berarti aku ini pemula :'D

      Hapus
  3. Awak suka Cafe yang ga terlalu rame :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum, gitu juga. Tapi owner cafe biasanya pingin sebaliknya lah, cafenya rame :D

      Hapus
  4. eh ada penampakan lelaki ganteng di poto itu kahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua orang di foto2 itu mah kasep & geulis, udah gitu aja, ahaha

      Hapus
  5. kok ada gue ya ? *meski hanya sepasang mata yang terlihat*

    BalasHapus

Created By Sora Templates